Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Bahlil Kerja Keras Wujudkan Desa Berdikari Energi
2029, Elektrifikasi Indonesia 100 Persen
Sabtu, 16 Agustus 2025 08:10 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Presiden Prabowo Subianto menargetkan semua desa di Indonesia sudah menikmati listrik pada 2029. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia pun bekerja keras untuk mewujudkan perintah tersebut. Bahlil menegaskan, elektrifikasi 100 persen bukan sekadar target teknis, melainkan misi kemanusiaan. Ia bercerita, baru saja kembali dari Papua, Sulawesi, dan Maluku. Di pelosok, masih banyak warga yang hidup ditemani lampu pelita. “Saya enggak mau anak-anak sekarang merasakan yang saya rasakan waktu kecil,” ujar Bahlil saat ditemui di kompleks Widya Candra, Jakarta, Jumat (15/8/2025).
Menurutnya, listrik desa adalah investasi masa depan bangsa. “Anak-anak kampung itu siapa tahu nanti jadi jenderal, konglomerat, menteri, bahkan presiden. Menyediakan listrik itu mempersiapkan infrastruktur masa depan, melahirkan generasi emas,” tegasnya.
Mantan Ketua Umum HIPMI itu mengaku paham betul hidup di desa tanpa listrik. “Saya lahir bukan di bidan kampung, tapi dukun beranak. Lampunya lampu pelita. Untung lahir jam 9 pagi. Kalau malam… wallahualam,” kenangnya sambil tertawa.
Dalam wawancara ini, Bahlil didampingi Juru Bicara Menteri ESDM Dwi Anggia. Dari Rakyat Merdeka hadir CEO RM Group Kiki Iswara Darmayana, bersama Direktur Pemberitaan Ratna Susilowati.
Berikut petikan lengkap perbincangan kami.
Presiden berharap ketahanan energi menjadi salah satu pijakan selama lima tahun ini. Bagaimana Pak Menteri mewujudkan harapan tersebut?
Pertama saya ingin sampaikan, dalam program Bapak Presiden Asta Cita, soal energi itu ada dua. Pertama, ketahanan energi yang mengarah kepada sumber daya energi. Kedua, transisi energi. Ini dua hal berbeda.
Saya bicara ketahanan energi dulu ya. Dalam konteks minyak, kita pernah mengalami fase luar biasa di tahun 1996–1997. Produksi kita mencapai 1,5–1,6 juta barel per hari. Konsumsi waktu itu hanya sekitar 500–600 ribu barel per hari. Artinya, kita bisa ekspor 1 juta barel, dan pada tahun itu 40% pendapatan negara (APBN) berasal dari sektor minyak.
Baca juga : Tak Datang Ke Senayan, Megawati Kurang Sehat
Di 2024, lifting kita hanya 580 ribu barel per hari, sementara target APBN 635 ribu barel per hari. Untuk 2024–2025, Presiden menetapkan target 605 ribu barel per hari. Per Juni lalu, produksi kita sudah di angka 608 ribu barel per hari. Insyaallah, rata-rata sampai akhir Desember akan tercapai 605 ribu barel per hari. Ini sejarah baru, karena sejak 2008 pasca-reformasi, target lifting kita tidak pernah tercapai.
Bagaimana dengan kondisi gas kita?
Gas kita banyak. Dari total produksi, 31 persen diekspor. Sisanya untuk domestik. Tapi masalahnya ada di LPG. Kita impor LPG, bukan natural gas, karena bahan baku LPG (C3, C4) memang kita tidak punya.
Makanya, Pak Prabowo mendorong substitusi impor. Salah satunya membangun DME (Dimethyl Ether) dari batubara (gasifikasi batubara). Tujuannya swasembada energi. Jadi, energi itu jangan diartikan hanya minyak dan gas. Kita bisa memanfaatkan sumber daya lain untuk substitusi. Saat ini kita impor LPG 6,9 juta metrik ton per tahun, dengan konsumsi total 8,9 juta metrik ton. Subsidi LPG mencapai Rp 87 triliun per tahun, dan devisa yang keluar bisa sampai Rp 61triliun. Kalau ini bisa kita substitusi, masalahnya selesai.
Mengenai transisi energi. Bagaimana strategi Pemerintah?
Kita sudah sepakat mendorong net zero emission tahun 2060, sesuai Paris Agreement. Walaupun Amerika keluar dari kesepakatan itu, Presiden tetap konsisten. Beberapa negara Eropa bahkan mulai mempertimbangkan kembali pembangkit batubara karena harga gas mahal.
Kita harus hati-hati. Kalau harga listrik tidak naik, negara harus menanggung subsidi besar.
Karena itu, transisi energi harus pakai teknologi dengan Capex terjangkau, supaya beban negara tidak terlalu berat. Presiden Prabowo sedang merancang program pembangkit listrik tenaga surya 1 MW per desa.
Baca juga : Ekonomi Tumbuh 5,4 Persen, Defisit Rp 636 Triliun
Terkait panel surya, bagaimana pemenuhannya?
Kapasitas industri kita saat ini sekitar 5 GW dan Trina sebagai produsen terbesar panel surya sudah memiliki pabrik di Kendal dengan kapasitas 1 GW. Target 2040 butuh jauh lebih besar. Makanya, saya ke China untuk melihat pabrik Trina Solar, produsen panel surya terbesar di dunia. Mereka mau investasi di sini, tapi skalanya kecil. Jadi, sebagian mungkin dibangun di Indonesia, sebagian dibeli dari luar dan dirakit di sini, agar memenuhi TKDN (tingkat komponen dalam negeri) dan harga lebih murah.
Program ini manfaatnya untuk apa saja di desa?
Program 1 MW per desa akan dibiayai pemerintah. Vendor bisa BUMN atau swasta. Satu MW di satu desa akan meng-cover kebutuhan koperasi, storage, kendaraan listrik, dan mengurangi subsidi. Nantinya, koperasi desa bisa mengelola ini sebagai badan usaha.
Bagaimana konsep elektrifikasi di desa yang dikelola oleh masyarakatnya sendiri?
Konsepnya lagi disusun. Bisa saja nanti jadi bagian BUMDes atau Kopdes. Tapi belum final. Goals-nya jelas agar desa berdikari energi. Artinya, jaringan listriknya tidak lagi panjang-panjang, tapi lokal. Sekarang kita masih punya sekitar 5.700 desa yang belum punya Listrik dan 4.400 dusun yang belum terlistriki. Kadang saya datang ke desa itu sampai menangis. Saya punya cerita. Saya lahir itu belum ada listrik. Ibu saya cerita saya lahir itu bukan di bidan kampung, tapi dukun beranak. Di kampung saya disebut “mama biang”, bukan pakai suster, bukan di rumah sakit. Lampunya bukan petromax, cuma lampu pelita. Untung saya lahir jam 9 pagi, jadi sudah terang. Kalau malam… wallahualam. Jadi listrik desa ini penting.
Kalau konsep ini jalan, siapa yang membangun? Desa sendiri?
Tidak mungkin mereka bangun sendiri. Negara harus hadir. Nantinya, di atasnya akan ada perusahaan yang mengelola. Tidak boleh parsial. Kalau BUMDes sudah mampu, silakan. Tapi kalau masih uji coba, jangan diserahkan dulu.
Baca juga : Mirah Sumirat: Jangan Menunggu Kondisi Dunia Stabil
Ada insentif khusus bagi perusahaan atau koperasi yang mau membantu elektrifikasi desa?
Pasti ada. Harga jual listrik kan ditentukan pemerintah lewat keputusan menteri. Kita kasih “sweetener” supaya ekonomis dan menarik bagi investor.
Jadi, kapan 100 persen wilayah Indonesia bisa terlistriki?
Saya sudah lapor ke Presiden Prabowo. Beliau bilang, satu periode ini, 2024 sampai 2029 harus selesai. Kalau ini terjadi, insyaallah jadi amal ibadah kita. Masa Indonesia sudah merdeka hampir 80 tahun, masih banyak desa belum teraliri listrik? Saya kemarin ke Papua, Sulawesi, Maluku. Masih ada yang pakai lampu pelita. Saya sampai merenung, Untung dulu saya bisa sekolah, kalau enggak, mungkin hidup saya seperti itu. Saya tidak mau anak-anak sekarang merasakan yang saya rasakan waktu kecil.
Kita enggak tahu, anak-anak kampung itu suatu hari bisa jadi apa. Jadi jenderal, konglomerat, menteri, bahkan presiden. Menyediakan listrik bagi desa-desa sama artinya mempersiapkan infrastruktur masa depan bangsa. Dari situ akan lahir generasi emas.
Saya sendiri dulu SD-nya di SD Inpres. Jadi saya tahu rasanya hidup di desa dan sekolah dengan keterbatasan. Itulah kenapa saya ingin memberi kesempatan yang lebih baik untuk generasi berikutnya. ***
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya