Sebelumnya
Ia optimistis realisasi belanja fiskal tahun depan akan lebih cepat daripada tahun ini, sehingga target APBN 2026 bisa tercapai.
Diketahui, data BPS kuartal III menunjukkan industri pengolahan masih menjadi motor pertumbuhan terbesar dengan kontribusi 1,13 persen. Disusul perdagangan 0,72 persen, informasi dan komunikasi 0,63 persen, serta pertanian 0,61 persen.
Dari sisi pengeluaran, konsumsi rumah tangga masih mendominasi PDB dengan porsi 53,14 persen. Komponen ini tumbuh 4,89 persen, menandakan daya beli masyarakat tetap terjaga.
Ketua Umum Apindo Shinta Kamdani sejalan dengan optimisme Purbaya. Ia menilai instrumen fiskal pemerintah, khususnya paket stimulus 8+4+5, mulai terlihat hasilnya.
Baca juga : MK Batasi Hak Atas Tanah Di IKN, Nusron: Tak Akan Ganggu Investasi
Kebijakan ini, kata Shinta, mampu mendorong daya beli dan kapasitas produksi sektor riil.
“Dunia usaha berharap paket ini mampu menjawab dua kebutuhan utama: mengungkit daya beli masyarakat dan memperkuat kapasitas produksi,” kata Shinta kepada Rakyat Merdeka, Minggu (16/11/2025).
Ia menyebut kenaikan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) menandakan stimulus sudah mengalir ke ekonomi rumah tangga. Pertumbuhan kuartal IV juga berpotensi menguat, didorong pola musiman yang lebih ekspansif dan percepatan penyaluran likuiditas lewat bank Himbara.
“Stimulus di akhir tahun ini berperan sebagai amplifier pola musiman. Kalau transmisinya efektif, kita bisa melihat seasonal uplift yang lebih kuat dari biasanya,” tutur Shinta.
Baca juga : Terbaru Jepang Vs China, Negara Berkonflik Tambah Banyak
Namun, ia mengingatkan pentingnya perbaikan struktural berkelanjutan agar ekonomi tidak terjebak dalam jebakan pertumbuhan rendah.
Ekonom Core Indonesia Yusuf Rendy Manilet meminta optimisme Purbaya dibaca secara lebih hati-hati. Ia mengakui kebijakan fiskal dan stimulus memang berpotensi mengungkit aktivitas ekonomi. Namun, angka 6 persen bukan sekadar soal mempertahankan momentum.
“Perlu mempertimbangkan kemampuan pemerintah mengatasi faktor struktural yang menahan pertumbuhan, seperti produktivitas yang stagnan, daya tarik investasi yang melemah, serta kapasitas fiskal yang semakin ketat,” jelasnya.
Ia menambahkan, pertumbuhan RI selama beberapa tahun terakhir masih berkonsolidasi di angka 5 persen. Belum menunjukkan akselerasi signifikan meski stimulus diguyur.
Baca juga : Anugerah Jurnalistik Forum Pemred 2025 , Jurnalis RM Juara 2 Dan 3
“Klaim bahwa kebijakan saat ini cukup untuk mendorong percepatan menuju 6 persen perlu diuji dengan indikator konkret: efektivitas belanja pemerintah, perbaikan iklim investasi, dan pemulihan daya beli rumah tangga,” pungkas Yusuf. [MEN/NOV]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.