BREAKING NEWS
 

Kemendagri Minta Daerah Susun Solusi Tekan Harga Pangan Pemicu Inflasi

Reporter : KHOIRUL UMAM
Editor : BAMBANG TRISMAWAN
Senin, 15 Desember 2025 21:40 WIB
Sekjen Kemendagri TomsinTohir. (Dok. Kemendagri)

RM.id  Rakyat Merdeka - Sekretaris Jenderal Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) Tomsi Tohir meminta kepala daerah dan kepala dinas di daerah menyusun formulasi solusi konkret untuk menekan kenaikan harga bahan pokok yang berkontribusi terhadap inflasi daerah.

Tomsi mengungkapkan, berdasarkan data Kementerian Pertanian, sejumlah komoditas pangan masih sulit dikendalikan di tingkat daerah, terutama cabai merah, cabai rawit, dan bawang merah. Hal itu disampaikannya dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah yang dirangkaikan dengan evaluasi dukungan pemerintah daerah terhadap Program 3 Juta Rumah, di Gedung Sasana Bhakti Praja Kemendagri, Jakarta, Senin (15/12/2025).

Pada minggu kedua Desember, harga cabai rawit tercatat naik di 272 daerah. Kenaikan tertinggi terjadi di Kabupaten Jeneponto, Takalar, Lombok Timur, Lombok Tengah, dan Nganjuk. Sementara itu, harga bawang merah naik di 266 daerah, dengan lonjakan tertinggi di Kabupaten Nias, Murung Raya, Mempawah, dan Simalungun.

Baca juga : Kementerian P2MI Raih Peringkat 5 Anugerah Keterbukaan Informasi Publik

Adapun harga cabai merah mengalami kenaikan di 301 daerah. Daerah dengan kenaikan tertinggi antara lain Kabupaten Nias, Nias Utara, Tanah Datar, dan Jeneponto.

Selain tiga komoditas tersebut, Tomsi juga mengingatkan pemerintah daerah untuk mewaspadai komoditas lain yang berpotensi memicu inflasi, seperti telur ayam ras, bawang putih, dan minyak goreng.

Adsense

“Teman-teman kepala daerah dan kepala dinas pertanian, mohon kenaikan harga yang sudah tinggi ini benar-benar diupayakan untuk diturunkan. Cabai merah naik sampai 76 persen. Jangan sampai masyarakat menanggung beban terlalu berat,” tegas Tomsi.

Baca juga : Pemerintah Siapkan Dana Darurat Tambahan Tangani Bencana Sumatera

Ia menilai alasan perubahan cuaca dari musim kemarau ke musim hujan tidak seharusnya dijadikan pembenaran. Menurutnya, pola musim di Indonesia relatif konsisten dan dapat diantisipasi melalui perencanaan yang matang.

“Musim di Indonesia itu berulang. Seharusnya sudah ada rencana, apa yang dilakukan saat hujan dan saat kemarau. Jangan pasrah,” ujarnya.

Tomsi mendorong pemerintah daerah mempelajari pola tanam dan fluktuasi harga pada tahun-tahun sebelumnya agar lonjakan harga pangan dapat ditekan. Ia menegaskan perlunya langkah antisipatif agar kenaikan harga tidak berulang setiap tahun.

Baca juga : Anggota DPR Azis Subekti: Petani Harus Jadi Subjek Pembangunan Pertanian

Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi November 2025 secara bulanan (month-to-month) sebesar 0,17 persen dan secara tahunan (year-on-year) sebesar 2,27 persen. Komoditas yang memberi andil besar terhadap inflasi antara lain emas, cabai merah, beras, dan daging ayam ras. Sementara komponen yang diatur pemerintah meliputi tarif air minum PAM dan sigaret kretek mesin.

Meski inflasi masih terkendali, Tomsi mengingatkan adanya peningkatan Indeks Perkembangan Harga (IPH). Jumlah daerah dengan IPH naik bertambah dari 299 daerah pada minggu pertama Desember menjadi 308 daerah pada minggu kedua Desember.

“Saya harap kepala daerah dan kepala dinas benar-benar menjadikan ini perhatian serius dan fokus pada solusi,” pungkas Tomsi.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense