BREAKING NEWS
 

Rapat Perdana 2026, Menperin Bahas Program Pemulihan IKM Terdampak Bencana

Reporter & Editor :
ADITYA NUGROHO
Jumat, 2 Januari 2026 15:07 WIB
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita memimpin rapat perdana bersama jajarannya pada awal tahun 2026 di Jakarta, Jumat (2/1/2026). (Foto: Kemenperin)

RM.id  Rakyat Merdeka - Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita memimpin rapat perdana bersama jajaran Kementerian Perindustrian pada awal tahun 2026 dengan agenda utama membahas program restartingbagi industri kecil yang terdampak bencana alam di sejumlah wilayah Sumatera dan Aceh.

Rapat tersebut menjadi langkah awal Kementerian Perindustrian dalam memastikan pemulihan sektor industri dapat berjalan cepat, terkoordinasi, dan berkelanjutan pascabencana yang melanda beberapa daerah di Sumatera dan Aceh pada akhir 2025.

Menperin menyampaikan bahwa bencana alam tersebut berdampak luas, tidak hanya terhadap masyarakat dan infrastruktur, tetapi juga terhadap aktivitas industri, khususnya industri kecil dan menengah (IKM). Berdasarkan data Sistem Informasi Industri Nasional (SIINas), jumlah industri di Sumatera Utara tercatat sebanyak 3.520 industri kecil, 115 industri menengah, dan 490 industri besar.

Sementara itu, di Sumatera Barat terdapat 3.464 industri kecil, 17 industri menengah, dan 78 industri besar. Adapun di Aceh tercatat 1.954 industri kecil, tujuh industri menengah, dan 46 industri besar.

“Dari hasil laporan yang kami himpun hingga 30 Desember 2025, dampak paling besar pada sektor IKM terjadi di Aceh dengan 1.647 industri terdampak, disusul Sumatera Barat sebanyak 367 industri, dan Sumatera Utara sebanyak 52 industri,” ujar Menperin di Kemenperin, Jakarta, Jumat (2/1/2026).

Baca juga : InJourney Hospitality Group Doakan Korban Bencana Sumatera

Selain IKM, ia menyebutkan bencana juga berdampak pada sektor industri agro, industri logam, mesin, alat transportasi dan elektronika (ILMATE), serta industri kimia, farmasi, dan tekstil.

Menperin menjelaskan bahwa dampak bencana terhadap sektor industri tidak hanya disebabkan oleh kerusakan fisik fasilitas produksi, tetapi juga akibat gangguan sistemik pada rantai pasok dan logistik. Terputusnya akses jalan dan jembatan, terganggunya distribusi BBM, serta ketidakstabilan pasokan listrik dan air menyebabkan banyak industri harus menghentikan sementara produksi atau beroperasi jauh di bawah kapasitas normal.

“Bagi industri manufaktur yang bersifat just in time dan padat logistik, gangguan pasokan bahan baku selama beberapa hari saja sudah cukup untuk menghentikan lini produksi dan menimbulkan kehilangan output yang tidak kecil,” katanya.

Adsense

Dengan menggunakan pendekatan kebijakan berbasis pangsa nilai tambah, dampak banjir di Sumatera dan Aceh diperkirakan menahan nilai tambah manufaktur nasional pada kisaran Rp 11 triliun hingga Rp 15 triliun. Nilai tersebut merupakan nilai tambah yang hilang atau tertunda sementara, bukan kerusakan permanen terhadap kapasitas industri nasional.

Namun demikian, dalam jangka pendek, dampak tersebut tetap dirasakan terutama pada subsektor yang sangat bergantung pada kelancaran distribusi regional, seperti agroindustri, makanan dan minuman, kimia dasar, serta industri berbasis komoditas.

Baca juga : Keempat Kali, Prabowo Kembali Kunjungi Lokasi Terdampak Bencana Sumatera

Menperin menekankan bahwa besarnya dampak tersebut tidak sepenuhnya sebanding dengan ukuran basis industri di wilayah terdampak. Menurutnya, Sumatera memiliki peran strategis sebagai simpul logistik dan pemasok input antara bagi kawasan industri di wilayah lain, termasuk Pulau Jawa.

“Gangguan di satu wilayah dapat menimbulkan efek berantai yang menekan output manufaktur nasional secara keseluruhan. Ketahanan industri nasional tidak hanya ditentukan oleh lokasi pabrik, tetapi juga oleh ketahanan infrastruktur, sistem logistik, dan jaringan distribusi antarwilayah,” ujarnya.

Dalam rapat tersebut, Menperin juga membahas rencana pemulihan industri kecil pascabencana yang akan dilaksanakan secara bertahap dan terukur. Pada 2025, fokus diarahkan pada koordinasi, pendataan industri kecil terdampak, serta pemetaan kebutuhan pemulihan sebagai dasar perencanaan intervensi, dengan progres awal sekitar 20 persen.

Memasuki 2026, program pemulihan akan dilanjutkan melalui pemetaan kebutuhan lanjutan, penetapan industri kecil penerima bantuan, pemberian bantuan mesin dan peralatan, serta pemulihan proses produksi pascabencana.

Bantuan teknis akan diberikan melalui optimalisasi kewirausahaan di daerah terdampak, serta pendampingan teknis melalui sinergi lintas kementerian dan lembaga, antara lain melalui Instruksi Presiden Penghapusan Kemiskinan Ekstrem (PKE), Rencana Aksi Nasional Pascabencana, serta Klinik UMKM Bangkit.

Baca juga : IPB University Ringankan UKT Mahasiswa Terdampak Bencana Sumatera

Adapun bentuk intervensi pemulihan meliputi bantuan mesin dan peralatan sederhana, penyediaan starter kit usaha termasuk bahan baku, pengembangan produk kebutuhan dasar dan fast moving, pendampingan teknis, serta fasilitasi kemitraan untuk memperluas akses pasar.

“Melalui program restarting ini, kami berharap pemulihan industri kecil tidak hanya mengembalikan kapasitas produksi seperti sebelum bencana, tetapi juga memperkuat ketahanan dan keberlanjutan usaha agar lebih siap menghadapi risiko di masa mendatang,” kata Menperin.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense