RM.id Rakyat Merdeka - Hujan sempat turun deras, menyambut pagi Senin, 16 Februari 2026. Langit di atas Lubana Sengkol, Kecamatan Setu, Kota Tangerang Selatan, seperti menumpahkan seluruh isi awannya. Namun, air yang mengguyur kawasan Almahmudah Manasik Training Center (AMTC) tak menghalangi berdatangannya 700-an calon jamaah haji asal Tangerang Selatan.
Mereka tiba dengan satu tujuan: memantapkan diri sebelum berangkat ke Tanah Suci.
Tak surut oleh cuaca yang kurang bersahabat, para jamaah mengikuti Bimbingan Manasik Haji Terintegrasi. Bahkan ketika hujan kembali turun—setidaknya dua kali—latihan tetap berlanjut. Di bawah langit kelabu itu, kesungguhan terasa lebih nyata daripada dingin yang menyusup ke sela pakaian.
Kegiatan ini digelar untuk memastikan kesiapan jamaah dari berbagai kecamatan di Tangsel. Secara resmi, acara dibuka Kepala Kantor Kementerian Haji dan Umrah Kota Tangsel, H. Rizki Waludin. Kehadirannya menandai dimulainya penguatan pemahaman rukun dan wajib haji demi menggapai visi Tri Sukses Haji.
Baca juga : Gerindra Sulteng Optimis Semangat Kader Meningkat
Sejak pukul 08.00 hingga 11.00 WIB, para jamaah memasuki ruang-ruang simulasi. Mereka belajar mengenakan kain ihram dengan benar, melafalkan niat (Niyyatul Ihrām) di titik miqat, sekaligus memahami batas-batas larangan selama berihram.
“Pemahaman mendalam tentang larangan ihram penting agar jamaah tidak melakukan pelanggaran syariat selama proses ibadah,” ujar Rizki.
Puncak latihan berpusat pada simulasi Armuzna—Arafah, Muzdalifah, dan Mina. Di situ, jamaah mempraktikkan doa dan zikir saat wukuf, membayangkan malam di Muzdalifah, hingga langkah-langkah melontar jumrah sebagai simbol perlawanan terhadap godaan setan. Setiap gerak, setiap bacaan, diulang agar tertanam menjadi ingatan tubuh.
Rangkaian Tawaf Ifadah dan Sa’i antara Bukit Shafa dan Marwah juga diperagakan dengan detail. Jamaah diajak membangun bayangan visual tentang rute mengelilingi Ka’bah tujuh kali sesuai ketentuan syariat—sebuah perjalanan melingkar yang tak hanya fisik, tetapi juga batin.
Baca juga : Lestari Moerdijat Dorog Semangat Persatuan Hadapi Tantangan Bernegara
Turut hadir petugas Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi, bersinergi dengan PPIH Kloter, juga Petugas Haji Daerah (PHD), terus memperkuat komitmen melayani secara ikhlas dan amanah—ramah terhadap lansia, perempuan, serta penyandang disabilitas.
Antusiasme jamaah tampak dalam sesi dialog. Mereka bertanya tentang situasi di Arab Saudi, tentang cuaca, kepadatan, hingga skenario darurat. Ada rasa ingin tahu yang bercampur cemas, namun juga harap yang tumbuh perlahan.
Di bagian lain acara, Kepala Subbagian Tata Usaha Kemenhaj Tangsel, Irfansyah, mengingatkan para petugas agar menanggalkan atribut sosialnya. “Tinggalkan status apa pun, kecuali satu: pelayan haji, pelayan tamu Allah,” ujarnya.
Dia menegaskan, tugas utama petugas bukanlah berhaji, melainkan melayani. Pesan yang juga kerap diingatkan Wakil Menteri Haji dan Umrah, Dahnil Anzar Simanjuntak: jangan sampai sekadar “nebeng haji”.
Baca juga : Salonpas dan PSM Makassar Kolaborasi Gaungkan Semangat Pantang Menyerah
Hujan pagi itu akhirnya reda. Namun yang tersisa bukan sekadar halaman licin atau pakaian lembap. Yang tinggal adalah keyakinan bahwa ibadah besar ini tak hanya membutuhkan fisik yang siap, melainkan hati yang terlatih. Dan di Setu, di bawah guyur langit Februari, 700-an jamaah Tangsel telah memulainya. (*)
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.