RM.id Rakyat Merdeka - Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni menyebut September menjadi periode krusial atau battleground dalam penanganan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla).
Berbagai kekuatan penanganan di lapangan, mulai dari operasi modifikasi cuaca (OMC), water bombing, hingga satgas darat diminta dimaksimalkan menghadapi puncak Karhutla.
“Karena September ini kita di puncak ya, di puncak. Mudah-mudahan betul nanti kalau misalkan September sudah ada hujan, tapi kalau tadi kita dengarkan dari BMKG lagi saya dengar baru awal Oktober nanti ada potensi hujan. Jadi sebulan ini adalah battleground kita,” kata Raja Juli dalam Rapat Koordinasi (Rakor) Penanganan Karhutla di Palembang, Sumatera Selatan, Senin (31/8/2026).
Rakor tersebut digelar bersama Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto, Gubernur Sumatera Selatan Herman Deru, Danrem 044/GAPO, Kejaksaan Tinggi Sumsel, Danlanud SMH Palembang Kolonel Asep Wahyu Wijaya, Danlanal Palembang Kolonel Arry Hendrawan, perwakilan DPRD Provinsi Sumatera Selatan, serta para bupati dan wali kota se-Sumatera Selatan.
Baca juga : Menhut: Tren Hotspot Karhutla Menurun, tapi Belum Aman
Raja Juli mengatakan, OMC menjadi salah satu langkah yang perlu dimaksimalkan selama masih terdapat peluang untuk melaksanakan operasi tersebut.
“Karena bagaimanapun yang paling efektif ini memang OMC, Operasi Modifikasi Cuaca. Dan mumpung kita masih punya window untuk melakukan Operasi Modifikasi Cuaca ini, kita minta saran dari OMC,” ujarnya.
Selain OMC, Raja Juli menyebut water bombing dan pengerahan pasukan darat atau satgas darat menjadi bagian penting dalam strategi penanganan Karhutla.
Dia meminta penempatan personel diatur berdasarkan wilayah yang memiliki banyak hotspot. Pergantian personel juga perlu dilakukan secara berkala untuk menjaga kondisi dan stamina pasukan di lapangan.
Baca juga : Cegah Karhutla Meluas, Menhut Tutup Sementara 9 Taman Nasional
“Yang ketiga tentu saja pasukan darat, satgas darat. Saya berharap sekali nanti deployment-nya bisa diatur sedemikian mungkin, Pak. Di tempat masing-masing yang banyak hotspot-nya, berapa kali sehari mereka harus bergantian,” kata Raja Juli.
Kementerian Kehutanan juga berupaya menambah kekuatan personel melalui mekanisme bantuan kendali operasi (BKO).
“Termasuk kami juga di Kementerian Kehutanan berusaha untuk melakukan BKO sekitar 1.000 orang lebih, bertambah,” ujarnya.
Menurut Raja Juli, pengaturan personel tambahan juga penting untuk membantu pekerjaan pasukan utama di lapangan sekaligus mengantisipasi kelelahan.
Baca juga : Kemenhut Evakuasi Orangutan Lemas Di Ketapang, Diduga Terdampak Asap
Personel yang tidak memiliki keahlian khusus dalam pemadaman api tetap dapat dikerahkan untuk membantu pekerjaan pendukung di lapangan.
Dengan penguatan OMC, water bombing, dan satgas darat, pemerintah berupaya memaksimalkan penanganan Karhutla selama September yang diperkirakan menjadi periode paling krusial sebelum potensi hujan meningkat pada awal Oktober.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.