RM.id Rakyat Merdeka - Pemerintah menargetkan penyiapan 500.000 calon pekerja migran Indonesia yang profesional melalui program SMK Go Global hingga 2029 sebagai upaya memperluas akses kerja berkualitas bagi generasi muda sekaligus menjawab kebutuhan tenaga kerja di pasar internasional.
Wakil Menteri Pelindungan Pekerja Migran Indonesia sekaligus Wakil Kepala BP2MI Dzul Fikar Ahmad Tawalla mengatakan, program tersebut merupakan bagian dari agenda pembangunan sumber daya manusia dan penciptaan lapangan kerja berkualitas di bawah pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
Dalam tulisan refleksi dua tahun Kabinet Merah Putih, Dzul Fikar menjelaskan, program SMK Go Global dirancang untuk mempertemukan kebutuhan negara tujuan terhadap tenaga kerja terampil dengan kebutuhan generasi muda Indonesia akan pekerjaan yang layak dan berpenghasilan lebih baik.
Program tersebut direncanakan menyasar 300.000 lulusan sekolah menengah kejuruan (SMK) dan 200.000 peserta dari masyarakat umum. Pada 2026, pemerintah menargetkan penyiapan 40.000 peserta sebagai bagian dari tahapan menuju sasaran 500.000 orang pada 2029.
Menurut Dzul Fikar, program itu tidak sekadar berorientasi pada penempatan pekerja Indonesia ke luar negeri, tetapi juga menyiapkan talenta nasional agar memiliki kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan industri global.
Ia menjelaskan sejumlah negara tujuan yang telah dipetakan meliputi Jepang, Jerman, Korea Selatan, Taiwan, Malaysia, Singapura, Turki, Maladewa, dan beberapa negara Eropa.
Baca juga : 2 Tahun Prabowo-Gibran: Politik Keamanan Terkendali, Ekonomi Penuh Tantangan
Peluang kerja yang disasar mencakup berbagai sektor, antara lain kesehatan, manufaktur, perhotelan, konstruksi, transportasi, pertanian, perkebunan, perikanan, dan kelautan.
Pada sektor kesehatan, kebutuhan tenaga kerja antara lain meliputi pengasuh (caregiver) dan tenaga perawatan lansia. Sementara itu, sektor manufaktur membutuhkan tenaga pengelasan (welder), tenaga produksi, pekerja molding, serta operator industri.
Adapun sektor perhotelan mencakup kebutuhan juru masak, barista, pelayan, dan tenaga tata graha (housekeeping).
Dzul Fikar mengatakan, peluang tersebut sejalan dengan tantangan demografi di sejumlah negara maju yang menghadapi penurunan angka kelahiran dan peningkatan jumlah penduduk lanjut usia. Kondisi itu turut meningkatkan kebutuhan terhadap tenaga kerja asing untuk mendukung keberlangsungan aktivitas ekonomi.
Jepang, misalnya, mencatat jumlah pekerja asing sekitar 2,3 juta orang pada 2024. Sementara itu, Jerman diperkirakan menghadapi gelombang pensiun yang akan memengaruhi sekitar 13,4 juta orang atau hampir sepertiga angkatan kerja saat ini dalam 15 tahun mendatang.
Menurut dia, situasi tersebut membuka peluang bagi Indonesia untuk memanfaatkan bonus demografi melalui penyiapan tenaga kerja muda yang terampil, profesional, dan mampu bersaing di pasar internasional.
Baca juga : Pemerintah Siapkan 140 Ribu Peserta SMK Go Global Tahun Depan
Dzul Fikar menegaskan, keberhasilan program SMK Go Global tidak cukup diukur dari besarnya target peserta. Pemerintah juga perlu memastikan pelatihan yang relevan, sertifikasi kompetensi, kesesuaian pekerjaan, serta pelindungan bagi pekerja migran selama bekerja di negara tujuan.
Untuk mendukung hal tersebut, program SMK Go Global mengusung pendekatan Asta Mandala yang menggabungkan kompetensi teknis, kemampuan bahasa, pemahaman budaya, disiplin kerja, kesiapan mental, serta pengetahuan mengenai hak dan kewajiban pekerja migran.
Melalui pendekatan itu, calon pekerja diharapkan telah memiliki bekal yang memadai sebelum memasuki pasar kerja internasional, bukan baru meningkatkan kompetensi setelah memperoleh pekerjaan.
Ia menekankan, penempatan pekerja migran harus dilakukan melalui prosedur yang legal, aman, profesional, dan bermartabat. Negara juga perlu memastikan kualitas pelatihan, kepastian pendapatan, perlindungan hukum, keberlanjutan karier, serta kesejahteraan keluarga pekerja.
Program tersebut, lanjutnya, sejalan dengan Asta Cita ketiga mengenai peningkatan lapangan kerja berkualitas dan Asta Cita keempat tentang penguatan pembangunan sumber daya manusia.
Dalam konteks dua tahun pemerintahan Kabinet Merah Putih, tahap berikutnya menjadi momentum untuk memperkuat fondasi pelaksanaan program, menyelaraskan pendidikan dan pelatihan dengan kebutuhan industri, serta memastikan adanya permintaan tenaga kerja yang jelas dari pemberi kerja di negara tujuan.
Baca juga : Menperin Siapkan 11 Ribu Kapasitas Pelatihan Untuk Pekerja Migran
Mendorong Daya Saing Global
Dzul Fikar mengatakan, SMK Go Global diharapkan tidak hanya berkontribusi dalam mengurangi pengangguran dan meningkatkan penerimaan devisa melalui remitansi pekerja migran, tetapi juga menempatkan tenaga kerja Indonesia dalam rantai produktivitas global.
Menurut dia, pengembangan kompetensi generasi muda menjadi salah satu faktor penting agar Indonesia dapat memanfaatkan peluang dari perubahan kebutuhan tenaga kerja dunia sekaligus memperluas mobilitas sosial masyarakat.
Ia menambahkan, program tersebut perlu diarahkan untuk menghasilkan tenaga kerja yang memiliki keterampilan sesuai standar internasional, mendapatkan pekerjaan yang layak, dan memperoleh pelindungan memadai.
Dengan demikian, pekerja migran Indonesia diharapkan tidak hanya dipandang sebagai penyedia tenaga kerja, tetapi sebagai talenta profesional yang berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi di negara tujuan sekaligus membawa manfaat bagi Indonesia.
Dzul Fikar menilai, keberhasilan program SMK Go Global pada akhirnya akan ditentukan oleh manfaat nyata yang dirasakan generasi muda, mulai dari pengakuan atas kompetensi mereka, akses terhadap pekerjaan bermartabat, hingga terbukanya kesempatan meningkatkan kesejahteraan keluarga.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.