RM.id Rakyat Merdeka - Cerita ringan ini mengisahkan dua anak, kakak beradik: Mas Geng dan Tudi. Keduanya hidup dan tumbuh sebagai generasi X. Tudi lahir pada 1968 dan Mas Geng tahun 1965.
Generasi X, umumnya ditempa oleh keadaan dan lingkungan yang berat. Namun, menjadikannya lebih mandiri, disiplin, pekerja keras logis dipenuhi oleh mimpi mengenai masa depan.
Pada generasi X, TV sudah mulai ada, namun sangat terbatas dan hanya dimiliki oleh orang-orang yang terbilang kaya.
Baca juga : Mak Ganjar Gelar Pelatihan Kerajinan Tangan Dari Barang Bekas Di Kota Mataram
Oleh karena itu tidak heran pada masa itu anak-anak nonton TV bersama di rumah tetangganya. Dan kalau tetangga mood nya kurang baik tahu-tahu di tengah - tengah serunya film yang ditonton, TV dimatikan si pemilik dan semua bubar. Ha-ha-ha... Semprul bener.
Untuk membantu perekonomian orang tua atau sekedar memperoleh uang jajan, Mas Geng dan Tudi berjualan kacang di bioskop Kelud Malang. Bioskop ini terletak di perempatan antara jalan Kawi dan Arjuno dan merupakan bioskop rakyat yang menjadi tontonan hiburan masyarakat kecil yang pas-pasan.
Sekitar 3,5 tahun mereka berjualan kacang di Kelud dengan berjalan kaki menempuh jarak pulang pergi total delapan kilometeran. Terkadang jika jualan laris mereka naik becak. Kakak beradik itu berjualan bersama teman-teman sebaya dari kampung Mbebekan.
Baca juga : Koalisi Besar Kepentingan Juga Besar, KIB Genjot Visi Misi Dan Kerja Nyata
Setelah Mas Yon kakak mereka berhasil mendirikan usaha agen susu yang diberi nama SAE, atau Sinau Andhandani Ekonomi yang artinya Belajar Memperbaiki Perekonomian, Mas Geng dan Tudi beralih menjadi peloper susu. Tudi loper susu mulai kelas enam SD sampai kuliah semester lima.
Mas Yon penuh idealisme, membangunkan semangat dan cita-cita adik-adiknya. Dia banyak diilhami api semangat Bung Karno tentang nasionalisme dan pengabdian. Sambil loper susu, dia aktif menjadi kader partai PDI. Sayangnya, situasi politik saat itu jauh dari baik- baik saja. Dia dan adik-adiknya banyak diteror. Sampai-sampai Mas Yon harus stres berat dan sakit-sakitan.
Usaha agen susu itu akhirnya jatuh... Apakah Tudi kuliahnya drop-out? bagaimana dengan Mas Geng?
Baca juga : Megawati Penghargaan Medali Yobel Dari Presiden Kazakstan
Lama tidak ada kabar, tahun 1993 Mas Geng muncul dan dia ternyata barusan tugas dari PBB sebagai bagian dari Pasukan Perdamaian di Johannesburg setelah berakhirnya pemerintahan apartheid. Dia berhasil menjadi seorang diplomat. Singkatan dari didikan masa lalu yang penuh luka kalau gagal dan lumat?... Ha-ha-ha… Bisa jadi demikian.
Tudi pun menjalani proses “diplomat” didikan masa lalu penuh luka dengan resiko gagal pasti lumat. Untungnya, dia berhasil melewati masa-masa berat. 31 tahun setelah Mas Geng ke Afrika Selatan (Afsel), Tudi juga nongol di sana… Tepatnya di Cape Town, wah Malang- Afsel jadi kayak Malang-Surabaya. Penasarankan kan?... Ini kisah mereka.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.