BREAKING NEWS
 

Isra’ Mi’raj, Problema Bangsa Dan Masyarakat Global

Reporter & Editor :
ADITYA NUGROHO
Senin, 27 Januari 2025 19:13 WIB
Abuddin Nata. (Foto: Ist)

RM.id  Rakyat Merdeka - Kehidupan masyarakat dewasa ini cenderung fragmatis, transaksional dan mengejar tujuan hidup jangka pendek. Mereka kurang tertarik terhadap sesuatu yang secara ekonomi tidak menguntungkan. Harta, tenaga, pikiran yang mereka keluarkan harus mendatangkan keuntungan yang bersifat material. Kebahagiaan hidup di dunia lebih mereka utamakan daripada kebahagiaan hidup di alam baka. Selain itu, kepercayaan mereka terhadap hasil penelitian yang bersifat empiric yang menggunakan panca indra dan akal lebih mereka percaya daripada informasi yang berasal dari agama. Semua ini merupakan salah satu indikator lemahnya kecerdasan spiritual.

Akibat lemahnya kecerdasan spiritualitas, masyarakat cenderung tidak takut lagi melakukan perbuatan yang dilarang agama. Korupsi, menipu, berjudi, selingkuh, fitnah, pelecehan seksual dan sebagainya sudah dianggap hal biasa. Al-Qur’an surat al-A’raf/7:179 menyebut sikap yang demikian itu sebagai al-ghafilun. Yaitu mereka yang tidak menggunakan pancaindra, akal dan hatinya untuk memahami hakikat hidup, serta tidak pula digunakan untuk menggali kearifan dari ayat-ayat Tuhan yang ada di dalam kitab suci (ayat al-tanziliyah), alam jagat raya (ayat al-kauniyah) dan fenomena sosial (ayat al-insaniyah). (Lihat Ahmad Musthafa al-Maraghy, Tafsir al-Maraghy Jilid III (hal. 115-116).

Keadaan masyarakat yang demikian itu bisa terjadi selain karena pengaruh budaya global yang materialistik dan hedonistik, juga bisa disebabkan karena pendidikan yang selama ini diberikan cenderung mengutamakan pengembangan kognitif daripada pengembangan afektif dan spiritualistik. Tulisan ini selanjutnya menawarkan sebuah model pendidikan yang mengutamakan keseimbangan antara kecerdasan intelektual dan kecerdasan spiritual melalui analisis terhadap pesan yang terkandung dalam peristiwa Isra’ dan Mi’raj Nabi Muhammad SAW.

Baca juga : Peringatan Isra' Mi'raj, Menag Ajak Umat Islam Tegakkan Salat

Secara sosiologis, Isra’ dan Mi’raj terjadi pada tanggal 27 bulan Rajab tahun ke-12 dari kenabian dan kerasulan Muhammad SAW, atau pada tahun ke-6 Masehi. Keadaan pada masa itu disebut zaman jahiliyah. Yaitu zaman di mana kecenderungan hidup masyarakatnya mirip dengan kecenderungan masyarakat global saat ini.

Peristiwa Isra’, yakni diperjalankannya Nabi Muhammad SAW di waktu malam dari Masjid al-Haram di Mekkah ke Masjid al-Aqsha di Palestina berlangsung demikian singkat dan cepat dengan mengendarai buraq (kilat). Hal ini mengajarkan kepada kita tentang perlunya memiliki semangat progresivisme dan berorientasi ke masa depan. Digunakannya Masjid al-Haram di Mekkah dan Masjid al-Aqsha di Palestina sebagai pusat kegiatan Isra’ dan Mi’raj mengisyaratkan tentang pentingnya menyatukan modal spiritual untuk kemajuan yang berbasis pada kesamaan misi. Yakni agama moneisme yang dibangun oleh Nabi Ibrahim (Abrahamic Faith), yaitu Yahudi, Nasrani dan Islam. Demikian pula dilewatinya beberapa wilayah pada saat perjalanan Isra’, seperti Thur al-Sinin (Bukit Sinai), tempat di mana Nabi Musa as menerima wahyu (Taurat), dan Bait al-Lahm (Rumah Daging) tempat di mana Nabi Isa as penerima wahyu (Injil), mengandung pesan Pendidikan spiritual yang berbasis pada kalimatun sama (kesamaan misi agama monoteisme), yakni mengabdi kepada Tuhan melalui kerja-kerja kemanusiaan. (Lihat Q.S. Ali ‘Imran, 3:364). Sedangkan kendaraan buraq (cahaya) yang digunakan oleh Nabi Muhammad SAW pada saat Isra’ dan Mi’raj, mengandung pesan agar manusia dapat bersahabat dengan energi cahaya dan energi alam lainnya, dan memanfaatkannya untuk berbagai kebutuhan hidup, sarana transfortasi jarak jauh, mengirim pesan dan sebagainya.

Kekuatan al-ruh atau jiwa Nabi Muhammad SAW yang telah dibersihkan sebelum Isra’ dan Mi’raj, menyebabkan ia mampu melakukan penyatuan jiwa dengan jiwa-jiwa yang ada di alam jagat raya. Jiwa manusia yang demikian itu memungkinkannya dapat menangkap energi yang ada di alam jagat raya, seperti menangkap energi listrik dari panas yang dipancarkan matahari atau dari gelombang laut lepas. Nabi Musa as dan pengikutnya pada saat dikejar Fir’aun dan bala tentaranya, misalnya, dapat membelah air laut sebagai jalan untuk menghindar, menunjukkan bahwa Nabi Musa as dan pengikutnya dapat bersahabat dengan air laut. Sedangkan terhadap Fir’aun dan bala tentaranya, air laut tidak bersahabat, sehingga mereka tenggelam, dan jasadnya dilempar kembali ke darat untuk jadi bukti sejarah atas kekejamannya. (Lihat Q.S.Yunus, 10:22).

Baca juga : Jadi Mitra Pengelolaan Kas Negara, BSI Perkuat Infrastruktur

Selain dapat memanfaatkan cahaya dan air, manusia yang memiliki kecerdasaan spiritual juga dapat memanfaatkan energi udara untuk berbagai keperluan, seperti yang dilakukan Nabi Sulaiman as ketika ia  memindahkan singgasana Ratu Bilkis dari Yaman ke Syam (Siria). Demikian pula makhluk Tuhan lainnya seperti tumbuh-tumbuhan  dapat bersahabat dengan manusia. Tanaman pohon kayu, pohon buah-buahan, pohon pelindung, pohon hias, hingga pohon sayur mayur juga dapat bersahabat dengan manusia. Seseorang yang merawat pohon-pohon dengan penuh cinta, kasih sayang, dengan memberinya air, pupuk, vitamin, dan sebagainya yang cukup, menyebabkan pohon-pohon itu tumbuh subur, daunya hijau dan rindang, dahan, rantingnya kokoh serta buahnya lebat.  Pohon-pohon itu terlihat indah dan memberi manfaat bagi manusia. Keadaan ini menunjukkan bahwa  pohon itu bersahabat dengan manusia. Ia berterima kasih kepada manusia yang merawatnya. Melalui persahabatan secara batiniah dengan pepohonan, menyebabkan pohon-pohon itu mengeluarkan energi berupa oksigen yang amat dibutuhkan untuk pernapasan manusia. Itu sebabnya, Nabi Muhammad SAW pernah mengatakan, jika esok hari akan tiba Kiamat, sedangkan di tanganmu masih ada sebuah benih tanaman, maka tanamlah lebih dahulu benih itu. Dan jika buah tanaman itu dimakan orang atau serangga, maka Tuhan akan memaafkan dosa orang yang menanamnya.

Wawasan spiritual dalam memahami hal-hal yang bersifat fisik ini juga terjadi pada binatang. Burung dan semut misalnya, bisa bersahabat dan bekerja sama dengan Nabi Sulaiman (Lihat Q.S. al-Ambiya’, 21:81, dan al-Naml, 27:18). Selanjutnya pada benda-benda keras seperti batu dan besi juga terdapat jiwa. Melalui hubungan yang baik dengan batu yang nampaknya terlihat padat, tapi sesungguhnya memiliki rongga yang dapat memancarkan air, sebagaimana yang telah dibuktikan oleh Nabi Muhammad SAW (Q.S. al-Baqarah, 2:74 dan Q.S. al-Isra’, 17:91). Demikian pula manusia dapat bersahabat dengan besi, sehingga ia dapat memanfaatkannya untuk berbagai kebutuhan hidup, sebagaimana yang diperlihatkan oleh Nabi Daud as (Q.S. Saba’, 34:10). Dengan demikian semua alam itu memiliki jiwa, dan dengan jiwa yang sudah dibersihkan dari dosa dan maksiat, menyebabkan manusia dapat  bersahabat dengannya, dan dapat membantu manusia dalam melaksanakan fungsi  kekhalifahannya di muka bumi dalam rangka ibadah kepada-Nya. (Lihat Q.S. al-Baqarah, 2:20; Q.S.al-Hajj, 22:65, Luqman, 31:20, dan Q.S. al-Dzariyat, 51:56).

Jika masyarakat primitif yang kagum pada jiwa-jiwa yang ada pada alam, kemudian mereka mempetuhankan dan menyembahnya, maka pada kaum agama yang memiliki kecerdasan intelektual dan kecerdasan spiritual, akan melihatnya hal itu sebagai  fenomena kekuasaan Tuhan. Dengan demikian yang disembah bukan benda-benda yang berjiwa itu, tetapi Pencipta dari benda-benda itu, yakni Allah SWT, Tuhan yang Maha Esa. Itulah sebabnya di akhir ayat 1 surat al-Isra’, semua itu disebut sebagi “min ayaatina.” Yakni, “sebagian dari tanda-tanda kekuasaan Kami.”

Baca juga : Usul Cukai Rokok untuk MBG Sama Saja Rusak Kesehatan Masyarakat

Selanjutnya, mi’raj diartikan dinaikkannya Nabi Muhammad SAW dari Bait al-Maqdis menuju Sidrat al-Muntaha dan Bait al-Ma’mur, dengan meliwati tujuh lapis langit, bertemu dengan para nabi, diperlihatkan keadaan neraka dan surga dan para penghuninya, dan berakhir dengan menghadap Allah dari jarak dekat serta menerima perintah shalat lima waktu (Q.S. al-Najm, 53:1-10) mengandung pesan pentingnya pendidikan kecerdasan spiritual yang amat dalam, tanpa mengabaikan kecerdasan intelektual. Kecerdasan spiritual terjadi ketika al-ruh dibersihkan dari segala dosa dan maksiat sebagaimana yang dilakukan dalam tradisi tasawuf. Yaitu dengan bertaubat, zuhud, riyadhah, muraqabah, mujahadah, muhasabah dan mahabbah. Keadaan ini menyebkan manusia siap menerima limpahan ilmu langsung dari Tuhan, dengan nama yang berbeda-beda sesuai dengan tingkatannya. Ilmu yang langsung dari Tuhan itu terkadang dinamai hikmah sebagaimana yang diberikan kepada Luqman al-Hakim (Q.S. Luqman, 31:12); terkadang bernama Ilmu laduni sebagaimana yang diberikan Tuhan kepada Nabi Hidir as (Q.S.al-Kahfi, 18:65), terkadang bernama hidayah yang diberikan kepada hamba yang dikehendaki-Nya (Q.S. al-Nuur, 24:35). Dalam tradisi masyarakat Jawa, ilmu semacam itu biasa disebut wangsit. 

Orang-orang yang memiliki berbagai macam ilmu yang langsung dari Tuhan itu biasanya dibarengi dengan berbagai keistimewaan yang dinamai karomah. Abdul Basith Muhammad As Sayyid dalam bukunya The Spiritual Power, (2008:66-73) menyebutkan berbagai keistimewaan tersebut antara lain tembus pandang, yakni melihat hal-hal ghaib seperti malaikat, surga dan neraka sebagaimana yang dilakukan Nabi Muhammad SAW pada saat Mi’raj. Selanjutnya raga sukma, atau kemampuan membelah diri, seperti yang dilakukan Nabi Isa as pada saat akan disalib, sehingga ia dinaikkan ke langit (Q.S, al-Nisa, 4:157).

Adsense

Selanjutnya terdapat pula kemampuan telepati, yakni menyampaikan suara dari jarak yang amat jauh, sebagaimana yang dilakukan Umar bin Khathab pada saat mengirim perintah kepada pasukannya yang berada di tempat yang jauh. Kekuatan spiritual itu pula dapat pula mengambil bentuk pandangan dan penciuman tajam dan transfer materi dari jarak jauh sebagaimana yang dilakukan Nabi Sulaiman as ketika memindahkan singgasana Ratu Bilqis dari Yaman ke Syam (Siria) dalam waktu sekejap mata. Selain itu mereka yang memiliki kecerdasan spiritual itu dapat melakukan hipnotis, yakni berkomunikasi melalui bawah sadar, dan digunakan untuk kepentingan kegiatan medis, sebelum ada sistem pembiusan. Dengan kekuatan spiritual yang sempurna, dan diperolehnya berbagai kemampuan yang luar biasa, Nabi Muhammad SAW dalam mi’rajnya itu dapat menyaksikan hal-hal yang gaib. Dengan cara demikian, jika orang-orang yang bertakwa baru sampai pada batas percaya kepada hal-hal yang ghaib (Q.S. al-Baqarah, 2:2), maka Nabi Muhammad SAW bukan hanya percaya, melainkan  telah pula melihatnya yang ghaib itu melalui jiwanya yang telah dikondisikan sedemikian rupa.
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense