BREAKING NEWS
 

Isra’ Mi’raj, Problema Bangsa Dan Masyarakat Global

Reporter & Editor :
ADITYA NUGROHO
Senin, 27 Januari 2025 19:13 WIB
Abuddin Nata. (Foto: Ist)

 Sebelumnya 
Kini sudah saatnya dipertimbangkan agar kecerdasan intelektual dilandasi dengan kecerdasan spiritual; dan kecerdasan spiritual dibarengi dengan kecerdasan intelektual, dan kedua-duanya dijadikan sebagai salah satu materi dalam kegiatan pendidikan, dengan berpegang pada beberapa prinsip sebagai berikut.

Pertama, pemahaman, penghayatan dan pengamalan kecerdasan intelektual dan spiritual harus berlandaskan syari’at, sehingga tidak akan disalah-gunakan untuk tujuan-tujuan yang jahat, dan tidak pula menimbulkan fitnah, konflik dan pertumpahan darah sebagaimana yang pernah terjadi di masa silam. Kemampuan beberapa tokoh sufi seperti al-Hallaj yang dapat melakukan penyatuan ruhaniah dengan Tuhan melalui proses yang disebut al-hulul, kemampuan Ibn ‘Arabi melakukan penyatuan ruhaniah dengan Tuhan melalui proses wihdat al-wujud; dan kemampuan Syekh Siti Jenar melakukan penyatuan batin dengan Tuhan, melalui proses manunggaling kaula gusti, menyebabkan mereka menghadapi tekanan, teror, intimidasi bahkan hukuman mati. Penyebabnya adalah karena kecerdasan spiritual yang mereka capai tidak didasarkan syari’at. Mereka telah meninggalkan hal-hal fundamental dalam syari’at, seperti tidak lagi mengerjakan berbagai ritual yang ditetapkan syari’ah, serta menampakkan sikap yang mengandung unsur kemusyrikan. Itulah sebabnya Tuhan memerintahkan kepada semua orang, termasuk yang telah memiliki kecerdasan intelektual dan kecerdasan spiritual agar berpegang teguh pada agama (Lihat Q.S. al-Ruum, 30:30 dan al-An’am, 6:153).

Kedua, pemahaman, penghayatan dan pengamalan kecerdasan intelektual dan spiritual dengan berbagai kecakapan batin yang dimilikinya itu harus diterima dan dilakukan secara jujur, bukan sandiwara, tipuan, topeng atau kedok semata. Mereka misalnya tidak boleh mengaku memiliki kemampuan spiritual, padahal sesungguhnya ia orang biasa saja, bahkan orang yang berniat jahat. Beberapa tahun yang lalu, kita misalnya menyaksikan adanya orang yang mengaku mendapatkan ilmu dari alam ghaib (karomah). Ia mengaku memiliki kemampuan memecahkan berbagai masalah, seperti problema rumah tangga, berbagai macam penyakit, keterpurukan dalam bisnis, bahkan dapat menggandakan uang.

Baca juga : Peringatan Isra' Mi'raj, Menag Ajak Umat Islam Tegakkan Salat

Guna mengelabui mangsanya yang berada dalam kerapuhan mental dan tekanan batin yang kuat itu, ia mengganti namanya dengan nama yang mengandung karisme, seperti Kangjeng Dimas Ta’at Pribadi, Gatot Braja Musti dan sebagainya. Kemudian ia mengenakan pakaian kaum spiritualis seperti jubah dengan warna tertentu, sorban, tasbih, keris, batu cincin dan berbagai peralatan ritual lainnya. Mereka tinggal di tempat yang hening dan terkesan sakral. Praktik yang demikian itu, menurut Prof. Azyumardi disebut sebagai disorientasi intelektual religius. Yaitu orang yang berpikir tidak waras, tidak simestris, dan telah menyalahgunakan doktrin agama (heterodoct). Mereka itu pada dasarnya adalah sang penipu dan penjahat yang menyalah-gunakan kecerdasan intelektual dan kecerdasan spiritual dari Tuhan; dan karenanya mereka termasuk para pelaku kriminal atau penjahat.

Ketiga, bahwa antara kecerdasan intelektual dan kecerdasan spiritual secara definisi dapat dipisahkan, namun dalam prakteknya harus disatukan. Seorang guru ketika menjelaskan fenomena alam yang terjasu dalam riset kimia misalnya, harus melihatnya sebagai bagian dari ayat ayat Tuhan. Tuhanlah sesungguhnya yang meletakkan dan mengatur efek-efek kimia itu melalui hukum-hukum yang disebut sebagai sunnatullah atau taqdir yang serba pasti dan tidak akan mengalami perubahan sepanjang zaman. (Lihat Q.S, al-Ahzaab, 22:38 dan 62). Sunnatullah dan taqdir Tuhan itu ada pada semua ciptaan-Nya. Melalui riset ilmiah dan kecerdasan intelektualnya, ia menemukan sunnatullah dan taqdir Tuhan untuk diformulasikan dan dirumuskan menjadi berbagai macam teori ilmu pengetahuan.

Oleh sebab itu ketika seorang ilmuan dalam riset eksperimennya  menghasilkan sebuah teori, seperti Thomas Elfa Edison, Sang penemu listrik,  maka sesungguhnya ia bukanlah pencipta, melainkan hanya sebagai penemu. Yakni penemu hukum-hukum Allah yang ada dalam sunnatullah dan taqdir-Nya. Kecerdasan intelektual yang mengandalkan otak kiri yang dilandasi kecerdasan spiritual yang mengandalkan otak kanan yang dipandu oleh syari’at inilah yang akan menjamin tidak akan disalahgunakannya ilmu pengetahuan itu. Sebaliknya dengan cara itu pula ia akan “menemukan Tuhan” dalam sains dan teknologi. Sikap yang demikian itu akan mendorong ia menjadi seorang intelek yang spiritualis, dan seorang spiritualis yang intelek. Dengan demikian, dalam risetnya itu ia tidak hanya akan mengandalkan kekuatan pancaindra dan akalnya saja, melainkan juga menggunakan kekuatan intuisi, hati dan ruhani atau daya dzikir-nya. Orang seperti ini dalam al-Qur’an disebut Ulu Albaab (Q.S.Ali ‘Imran, 3:191).

Baca juga : Jadi Mitra Pengelolaan Kas Negara, BSI Perkuat Infrastruktur

Demikian pula ketika seseorang yang menggunakan kecerdasan spiritual hendaknya menggunakan kecerdasan intelektualnya. Seorang petani yang ingin mendapatkan hasil panennya melimpah, misalnya, selain dengan berdo’a, hendaknya juga disertai dengan kecerdasan intelektual. Yaitu dengan meneliti, memilih dan menggunakan bibit yang unggul, memanfaatkan cuaca yang tepat, air yang cukup, cara menanam yang benar, pupuk yang cukup, pemeliharaan dan perawatan yang tepat. Demikian pula ketika seseorang mengharapkan terhindar dari penyakit dan mendapatkan kesehatan, misalnya, selain  dengan berdoa secara spiritual, hendaknya harus disertai  riset dan kajian intelektual tentang faktor-faktor yang menimbulkan kesehatan. Ia misalnya harus pula memelihara kebersihan lingkungan, mengkonsumsi makanan dan minuman yang bergizi, bervitamin serta protein yang cukup dan cocok untuk tubuh, berolah raga, menjauhi minuman keras, bergadang, dan sebagainya. Keterpaduan antara kecerdasan intelektual yang menggunakan otak kiri, dan kecerdasan spiritual yang menggunakan otak kanan harus dilakukan secara berbarengan, karena kedua-duanya sama-sama berasal dari Tuhan.

Keempat, bahwa efektifitas penggunaan  kecerdasan intelektual dan kecerdasan spiritual sebagaimana dipraktekkan oleh Nabi Muhammad SAW dalam perjalanan Isra’ dan Mi’raj-nya sebagaimana tersebut di atas bermuara pada pembersihan diri (tazkiyah al-nafs). Dengan cara ini akan dihasilkan kekuatan mental spiritual dan akhlak mulia. Inilah yang digunakan oleh M. Quraish Shihab untuk menjelaskan  munasabah (keserasian dan hubungan) antara surat al-Nahl (16) dengan  surat al-Isra’, (17). Terjadinya Isra’ dan mi’raj dalam arti mencapai derajat tertinggi sebagaimana yang dicapai oleh Nabi Muhammad SAW sebagaimana disebutkan dalam surat al-Isra’ (17), baru akan terjadi jika manusia memiliki karakter akhlak mulia sebagaimana yang diperlihat oleh lebah. Dalam surat al-Nahl (16) ayat 68, karakter lebah itu digambarkan dengan mengambil tempat tinggal yang steril dari polusi, memakan makanan yang bersih, selalu mentaati aturan, kompak, dan memberi manfaat untuk kesehatan manusia.

Kini saatnya integrasi kecerdasan intelektual dan kecerdasan spiritual diintegrasikan antara satu dan lainnya, dan memberi jiwa pada setiap mata pelajaran di sekolah. Berbagai macam ilmu pengetahuan yang diajarkan di lembaga pendidikan hendaknya didasarkan pada perpaduan antara kecerdasan intelektual dengan ke kecerdasan spiritual secara seimbang, sehingga akan lahirkan generasi ulul al-bab yang layak memimpin dunia. Demikian pula pemecahan problema bangsa dan masyarakat global saat ini, seperti peperangan, perusakan lingkungan, korupsi, penipun, perjudian, penyalahgunaan teknologi digital dan lainnya, hendaknya berbasis pada perpaduan antara kecerdasan intelektual dan spiritual yang dibimbing oleh agama. Inilah antara lain pesan yang diamanatkan dalam peristiwa Isra’ dan Mi’raj. Semoga.

Baca juga : Usul Cukai Rokok untuk MBG Sama Saja Rusak Kesehatan Masyarakat

Oleh: Abuddin Nata

Penulis adalah Guru Besar Tetap Kontrak Pendidikan Islam UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense