RM.id Rakyat Merdeka - Di tengah padatnya jadwal hemodialisis yang dijalaninya dua kali seminggu, Lukman Azis Kurniawan tak menghentikan langkahnya dalam aksi sosial dan lingkungan.
Sosok yang dikenal sebagai aktivis kemanusiaan ini justru memanfaatkan setiap kesempatan untuk terus bersuara dan bertindak.
Dalam wawancara dengan media ini, Lukman menegaskan bahwa isu lingkungan adalah panggilan nurani, bukan sekadar tren musiman.
"Saya sudah turun langsung ke banyak lokasi bencana. Banjir di Bogor, longsor di Cianjur, kekeringan di NTT—semuanya terkait erat dengan kerusakan lingkungan. Kita tidak bisa menunggu pemerintah saja. Masyarakat dan sektor swasta harus bergerak," kata Lukman, Sabtu (14/6/2025).
Baca juga : Prancis Segera Pulangkan Warganya Yang Ditahan Israel Di Kapal Amal Gaza
Sebagai pendiri dan pemimpin lembaga Indonesia CARE, Lukman bersama timnya telah menjalankan berbagai aksi konkret. Penanaman mangrove di Kepulauan Seribu, konservasi hutan di Rawa Danau, hingga edukasi masyarakat tentang mitigasi bencana dilakukan secara berkelanjutan.
"Kami tak besar, tapi kami konsisten. Satu pohon ditanam hari ini, bisa menjadi penyelamat nyawa esok hari," ujarnya.
Upaya Indonesia CARE dalam membangun jejaring dan memperluas dampak program kemanusiaan pun membuahkan hasil.
"Bulan lalu, alhamdulillah Indonesia CARE mendapatkan dukungan hibah aset senilai lebih dari Rp300 juta dari Kementerian ESDM di bawah pimpinan Pak Bahlil Lahadalia. Ini bukan hanya amanah, tapi juga bukti bahwa negara percaya pada gerakan yang kami bangun dari bawah," ungkap Lukman.
Baca juga : Bane Yakin, Status Geopark Kaldera Toba Bisa Dipertahankan
Nama Lukman Azis Kurniawan memang tidak asing di dunia kemanusiaan. Dia pernah membersamai anak-anak Rohingya di kamp pengungsian Cox’s Bazar, Bangladesh, menjadi juru bicara program tanggap darurat ACT di Palu, dan menjalin kerja sama strategis dengan berbagai lembaga negara seperti BNPB dan BPKH.
Di luar aktivitas kemanusiaannya, ia adalah seorang komunikator ulung. Pengalaman masa lalunya sebagai jurnalis Rakyat Merdeka, media nasional yang dikenal tajam dalam mengkritisi kebijakan publik, membentuk kepekaan dan ketajamannya dalam membaca isu dan merespons krisis.
"Dulu saya di lapangan sebagai wartawan. Kini saya kembali ke lapangan, tapi dalam posisi berbeda, sebagai orang yang menyalurkan bantuan dan harapan," ujarnya dengan nada reflektif.
"Saya pernah berdiri di tengah reruntuhan tsunami Palu, melihat bagaimana satu wilayah hancur oleh tiga bencana sekaligus—gempa, tsunami, dan likuifaksi. Momen itu mengubah cara saya memandang kehidupan," kenangnya.
Baca juga : Insight Investments Management: Manfaatkan dengan Reksa Dana Pasar Uang
Meski kini menjalani hidup dengan keterbatasan fisik akibat gagal ginjal stadium 5, dia tidak berhenti menyebarkan semangat. Justru sekarang dia lebih peka terhadap isu kesehatan dan lingkungan. Air bersih, udara sehat, makanan yang layak, itu semua saling terkait. Lingkungan rusak, manusia ikut rusak.
Selain memimpin Indonesia CARE, Lukman juga merupakan konsultan strategi komunikasi media yang kerap diminta bantuan oleh sektor pertambangan, pengolahan limbah, dan lembaga publik untuk program komunikasi tanggap krisis dan CSR.
"Saya melihat bahwa banyak perusahaan yang punya niat baik, tapi tidak tahu cara membumikan programnya agar sampai ke masyarakat. Di situlah saya hadir," katanya.
Saat ditanya harapan terbesarnya, dia menjawab sederhana. "Saya ingin anak-anak saya, dan anak-anak Indonesia, tumbuh di negeri yang sehat, kuat, dan peduli. Lingkungan bukan isu elite, tapi isu hidup," tugasnya.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.