Dark/Light Mode

Bisa Matikan Persaingan Usaha

Senayan Cemas Kalau GoTo Dan Grab Merger

Senin, 26 Mei 2025 07:10 WIB
Anggota Komisi VI DPR RI, Darmadi Durianto. (Foto: Dok. DPR RI).
Anggota Komisi VI DPR RI, Darmadi Durianto. (Foto: Dok. DPR RI).

RM.id  Rakyat Merdeka - DPR cemas terkait rencana Grab, sebuah perusahaan layanan transportasi dan jasa berbasis aplikasi mengakusisi Gojek Tokopedia (GoTo).

Anggota Komisi VI DPR RI, Darmadi Durianto khawatir, aksi korporasi tersebut bisa mengganggu bahkan mengguncang ekosistem usaha sejenis lainnya yang sama-sama beroperasi di Indonesia.

“Ini sudah mengarah ke persaingan usaha tidak sehat,” kata Darmadi, Minggu (26/5/025).

Baca juga : Bank Diminta Segera Pangkas Suku Bunga

Kalau Grab dan GoTo digabungkan, Darmadi menilai mereka memiliki sumber daya tak terbatas. Kondisi demikian menggambarkan adanya high monopoli yang cenderung membahayakan pasar.

“Hitungan kami lebih dari 91 persen market share bakal dikuasai mereka nantinya. Itu artinya, kompetitor lainnya bisa dipastikan bakal collapse dalam waktu tidak lama lagi,” tutur Darmadi.

“Selain itu, pasar motor hailingnya bakal diperkirakan 99.3 persen. Konsumen dalam Jangka panjang pasti dirugikan,” sambungnya.

Baca juga : Blokir Anggaran Dibuka, Cepat Dibelanjakan Dong

Darmadi menilai, pemerintah selaku regulator mestinya memperhatikan persoalan ini secara serius.

“Kita bukan negara berhaluan kapitalis, kalau hal itu dibiarkan, jelas akan berdampak luas terhadap pelaku bisnis serupa lainnya, pekerja di sektor itu (pengemudi, kurir) bahkan masyarakat selaku konsumen itu sendiri. Pemerintah harusnya tegaskan bahwa aksi korporasi tersebut cenderung berbau monopoli dan itu harus dicegah,” tandasnya.

Yang patut dikhawatirkan, lanjut dia, jika rencana itu terlaksana, maka potensi mereka melakukan pengaturan pasar terbuka lebar.

Baca juga : Saluran Air Mampet Dan Sungai Dangkal

“Pasar akan mereka dikte semau-mau nantinya. Pengemudi dan konsumen jelas berpotensi paling tidak diuntungkan. Karena mereka akan fokus mengejar keuntungan sebesar-besarnya demi mengembalikan modal tanpa peduli hukum pasar apa yang dibuat di suatu negara dalam hal ini Indonesia,” ujarnya.

Indonesia, saran dia, mesti belajar ke negara tetangga yang pernah mengalami guncangan di sektor tersebut.
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.