BREAKING NEWS
 

Catatan Meimura

Di Bawah Langit Gaza: Teater Sosial yang Gugah Qolbu dan Suarakan Kemanusiaan

Reporter & Editor :
UJANG SUNDA
Sabtu, 3 Januari 2026 15:04 WIB
Adipatilawe, sutradara teater (Foto: Istimewa)

RM.id  Rakyat Merdeka - Teater kembali membuktikan sebagai ruang refleksi kemanusiaan. Pada 14 Desember 2025, sebuah proses latihan pertunjukan teater berjudul Di Bawah Langit Gaza, karya dan garapan Adipatilawe, menjadi saksi lahirnya sebuah karya yang tidak sekadar bicara tentang perang, tetapi tentang sesuatu yang jauh lebih sunyi dan berbahaya: matinya Qolbu manusia akibat normalisasi tragedi.

Alih-alih menampilkan visual kekerasan yang eksplisit, pertunjukan ini memilih jalur artistik yang lebih dalam dan berani. Di Bawah Langit Gaza tidak merekonstruksi ledakan, senjata, atau adegan perang secara vulgar. Ia justru mengajak penonton menyelami akar batiniah kekerasan, melalui pancaindra manusia yang perlahan kehilangan kepekaan—melihat, mendengar, menyentuh, dan merasakan tanpa lagi bergetar.

Kisah berpusat pada sebuah keluarga Palestina yang hidup dalam pusaran konflik sosial, kultural, psikologis, dan politik yang saling berkelindan. Namun, konflik tersebut tidak dihadirkan sebagai tontonan penderitaan, melainkan sebagai ruang kontemplasi etis. Di tangan Adipatilawe, teater menjadi alat pembacaan ulang tragedi kemanusiaan, bukan sebagai arsip peristiwa, tetapi sebagai cermin nurani.

Baca juga : 100 Ribu Orang Liburan Ke Kebun Binatang Ragunan

Salah satu poros dramatik terkuat muncul dalam dialog antara seorang dokter kandungan yang menyimpan trauma mendalam dan seorang jurnalis yang memilih menanggalkan kameranya demi menolong langsung korban. Pada titik ini, pertunjukan bergeser dari apa yang terlihat ke apa yang dirasakan. Bukan hanya mata, kulit, dan telinga yang terkoyak, melainkan Qolbu—pusat empati, etika, dan kesadaran kemanusiaan.

Penampilan Bella Fauzi tampil menonjol melalui gestur yang ekspresif namun terkendali. Ia menghadirkan trauma bukan sebagai jeritan, melainkan sebagai keheningan yang menekan. Pendekatan ini memperlihatkan keberhasilan Adipatilawe menggali inner action para aktor, menjadikan mereka bukan sekadar simbol politik, melainkan manusia dengan lapisan batin yang kompleks dan rapuh.

Adsense

Dalam perspektif sejarah teater dunia, Di Bawah Langit Gaza memiliki benang merah dengan tradisi teater sosial dan kemanusiaan. Bertolt Brecht dengan Epic Theatre mendorong jarak kritis penonton, Augusto Boal melalui Theatre of the Oppressed mengubah penonton menjadi subjek aktif, dan Peter Brook menekankan kejujuran batin aktor di atas kemegahan visual. Namun karya ini bergerak lebih jauh ke wilayah etis dan spiritual, tempat empati diuji dan kelelahan moral global dipertanyakan.

Baca juga : Relawan PNM Kembali Turun Langsung Salurkan Bantuan dan Kuatkan Korban Bencana

Pendekatan tersebut menempatkan pertunjukan ini sejalan dengan praktik teater kemanusiaan kontemporer, sebagaimana karya-karya Ariane Mnouchkine atau Wole Soyinka, yang memusatkan tragedi politik pada tubuh dan batin manusia, bukan sekadar narasi konflik.

Resonansi pertunjukan ini terasa kuat di Indonesia. Palestina bukan hanya isu geopolitik, melainkan bagian dari ingatan sejarah bangsa, sebagai salah satu pihak yang pertama mengakui kemerdekaan Indonesia. Hal ini tercermin dari antusiasme sekitar 2.400 penonton yang memadati Teater Besar Taman Ismail Marzuki pada 28 Desember 2025—sebuah pertemuan antara sejarah, solidaritas, dan kerinduan akan seni yang bersikap.

Dalam lanskap teater Indonesia, Di Bawah Langit Gaza dapat dibaca sebagai kelanjutan tradisi teater sosial yang pernah tumbuh kuat dari teater rakyat, teater kampus, hingga panggung-panggung kritik politik era Orde Baru. Bedanya, karya ini lahir di tengah kelelahan informasi, ketika gambar-gambar kekerasan berseliweran tanpa lagi menggugah empati. Maka pilihan menyingkirkan visual kekerasan dan menghadirkan luka batin menjadi strategi artistik sekaligus politis.

Baca juga : Memupuk Generasi Ideal yang Rahmat bagi Semua dan Berakhlak Mulia

Pada akhirnya, Di Bawah Langit Gaza tidak menawarkan solusi instan atas konflik Palestina. Namun ia mengingatkan pada sesuatu yang jauh lebih mendasar: setiap bencana kemanusiaan selalu diawali oleh matinya Qolbu. Selama teater masih mampu membangkitkan Qolbu itu—di panggung, di tubuh aktor, dan di benak penonton—maka seni masih menjalankan fungsi etisnya: menggerakkan manusia, sebelum segalanya terlambat.

Meimura
Pelestari Seni Tradisional & Kreator Seni Teater Jawa Timur

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense