Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
Di Panggung Internasional, Guru Maluku Suarakan Perdamaian
Sabtu, 15 November 2025 06:58 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Ballroom Hotel Shangri-La, Jakarta, terasa hangat dan haru pada Selasa (11/11/2025) malam, ketika enam belas guru dari Maluku—delapan Muslim dan delapan Kristen—menyampaikan pesan perdamaian melalui musik dan puisi.
Mereka tampil membawakan serangkaian karya bertema rekonsiliasi dalam acara International Conference on Cross-Cultural Religious Literacy (ICCCRL) atau Konferensi Internasional Literasi Keagamaan Lintas Budaya (LKLB) yang digelar Institute Leimena bersama Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) pada 11–12 November 2025.
Penampilan para guru ini dipandu Sarah Weiss, Profesor etnomusikolog dari University of Music and Performing Arts Graz, Austria. Weiss telah lama mempelajari seni pertunjukan Indonesia, khususnya Jawa, Bali dan Maluku.
Pertunjukan ini dilatarbelakangi konflik antar-agama di Ambon, yang mana sisa-sisa ketegangan dan rasa tidak percaya masih sesekali muncul di antara masyarakat Muslim dan Kristen.
Weiss menilai, musik memiliki kekuatan khusus untuk merawat hubungan sosial. Terlebih Maluku telah diakui UNESCO sebagai “Kota Musik” sejak 2019.
“Proses pembangunan perdamaian dapat diperkuat dan dibuat berkelanjutan melalui praktik seni pertunjukan serta kesenian lokal,” ujar Weiss.
Baca juga : Ketua Golkar Malut Tegaskan Maju Lagi
Para guru yang terlibat berasal dari Ambon dan Pulau Seram, mengajar di sekolah negeri maupun swasta. Baik Islam maupun Kristen. Seluruhnya telah mengikuti rangkaian lokakarya Leimena Institute selama 18 bulan terakhir sebagai bagian dari program LKLB untuk memperkuat nilai toleransi di ruang pendidikan.
Mereka kemudian menulis puisi, menciptakan lagu, dan menggubah melodi baru dengan inspirasi alam serta kehidupan masyarakat Maluku.
Pertunjukan dibuka dengan bunyi khas tahuri dan tifa, dua instrumen tradisional Maluku yang menjadi simbol panggilan sakral untuk berkumpul dan berdialog.
Tanpa iringan alat musik modern, suara para guru menggema dalam tiga bahasa—bahasa daerah Maluku, Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris.
Mereka membawakan medley lagu-lagu ciptaan para peserta program LKLB: Assalamualaikum deng Shalom, Heka Leka, Heka Hiti, Jalan Bergandengan, Jalan Beriringan, dan Totobuang.
Seluruh karya tersebut menyoroti nilai kebersamaan, perbedaan, serta cinta kasih yang melampaui batas agama.
Baca juga : SBY: World War III Sangat Mungkin Terjadi
Menurut Weiss, pertunjukan ditutup dengan ajakan untuk mengingat sumpah leluhur agar tidak menyakiti siapa pun, disertai simbol batu sebagai lambang tempat bermusyawarah dalam tradisi Maluku.
Direktur Eksekutif Leimena Institute Matius Ho mengatakan, program perdamaian ini didukung Sasakawa Peace Foundation asal Jepang dan sejumlah lembaga pendidikan serta keagamaan di Maluku.
Dia berharap, para guru yang dilatih dapat menjadi pelopor hubungan lintas iman di lingkungan sekolah maupun komunitas.
Acara tersebut juga mendapat apresiasi Wakil Menteri Luar Negeri Arrmanatha Nasir. Dia menekankan bahwa literasi lintas budaya dan agama merupakan keterampilan hidup penting di tengah situasi global yang tidak menentu.
“Dalam kehidupan sehari-hari, ini berarti memahami sebelum menilai, berdiskusi sebelum menolak, dan menghormati sebelum bereaksi,” ujarnya.
Dukungan serupa disampaikan Direktur Eksekutif Sasakawa Peace Foundation, Nobuko Kayashima. Menurutnya, keberhasilan ICCCRL di Ambon menjadi bukti pentingnya pendidikan dalam penyembuhan komunitas pascakonflik. Program ini bahkan telah masuk dalam rencana ASEAN Community Region 2045.
Baca juga : Gelar Pahlawan Nasional Wujud Penghargaan atas Karya dan Pengorbanan
Konferensi Internasional LKLB tahun ini dihadiri 200 peserta dari 19 negara. Termasuk Austria, Jepang, Uni Emirat Arab, Amerika Serikat, Belanda. Sekitar 4.500 peserta dari berbagai negara turut bergabung secara daring. Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti yang membuka konferensi tersebut.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya