Oleh: Hilaludin Safary
Ketua Harian Pimpinan Pusat FSN
Tenaga Ahli Anggota DPR RI
RM.id Rakyat Merdeka - Tidak semua yang dilempar manusia benar-benar ingin dibuang. Kadang tangan melepaskan, tetapi hati masih menggenggam.
Barangkali karena itulah suasana kebatinan dalam jumrah selalu terasa berbeda. Ia bukan sekadar tentang batu kecil yang jatuh ke satu titik, melainkan tentang keberanian manusia melepaskan sesuatu yang selama ini diam-diam hidup di dalam dirinya.
Di Mina, pada 10 Zulhijjah, jutaan manusia berjalan di bawah terik matahari yang sama, berpijak di atas hamparan pasir yang sama, dan membawa doa yang diam-diam juga sama: ingin melepaskan sesuatu dari dirinya sendiri. Bukan sekadar batu yang dilempar. Ada sesuatu yang lebih dalam sedang bergerak di dalam dada.
Di antara desakan manusia, suara talbiyah, dan langkah yang perlahan bergerak, ada orang-orang yang menggenggam batu kecil itu lama sekali sebelum melemparnya. Ada yang bibirnya terus berzikir pelan. Ada yang matanya basah tanpa suara. Dan ada yang setelah melempar justru terdiam, seolah sedang berbicara dengan dirinya sendiri.
Seakan-akan setiap lemparan itu adalah bisikan kecil: “Aku tidak ingin kembali seperti dulu lagi”.
Dalam pelaksanaan haji tahun sebelumnya, di antara jutaan manusia itu, ada seorang perempuan membawa dua kali lebih banyak kerikil daripada jemaah lain. Ia membadalkan jumrah untuk saudaranya yang sakit. Kadang cinta memang tidak banyak bicara. Ia hadir dalam langkah yang rela membawa beban lebih berat demi seseorang yang ia cintai, namun tak lagi mampu berjalan bersamanya.
Baca juga : Kunjungan Kerja Ke Daerah, Gibran Aktif Belanja Masalah
Secara lahir, jumrah tampak seperti ritual sederhana: melempar batu-batu kecil ke tiga pilar. Namun siapa yang berhenti pada yang tampak, ia akan kehilangan makna terdalamnya. Sebab, di balik lemparan itu, ada pertarungan manusia melawan dirinya sendiri.
Sejak kisah Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam, jumrah diwariskan bukan sekadar sebagai cerita, tetapi sebagai kesadaran. Ketika setan datang membisikkan keraguan di tengah ketaatan, Ibrahim tidak berdebat panjang. Ia melempar. Bukan karena setan berdiri di depan mata, tetapi karena gangguan itu hidup di tempat yang jauh lebih dekat: hati manusia.
Dari situlah kita belajar bahwa yang harus diusir bukan hanya yang tampak, tetapi juga yang diam-diam tumbuh di dalam diri. Iri yang kecil. Marah yang disimpan. Sombong yang tidak terasa. Cinta dunia yang perlahan mengikat hati.
Cak Nun pernah menulis, “Bangunan rumah kita megah tapi keropos. Tiang kayunya digerogoti rayap-rayap, dan rayap-rayap itu tidak lain diri kita sendiri”. Barangkali begitulah manusia. Kerusakan yang paling berbahaya sering bukan datang dari luar, melainkan dari hal-hal kecil di dalam diri yang dibiarkan tumbuh terlalu lama: iri, amarah, ego, dan kesombongan yang perlahan menggerogoti hati tanpa disadari.
Sejatinya, musuh tidak selalu datang dalam bentuk yang menakutkan. Justru ia tampil dalam wajah yang akrab dan tampak biasa. Hadir dalam keseharian kita: ucapan yang melukai, amarah yang tidak ditahan, hati yang sulit mengalah, dan perasaan merasa diri lebih baik dari orang lain.
Dan mungkin karena itulah jumrah terasa begitu dalam. Sebab manusia sedang belajar melempar sesuatu yang tidak terlihat, tetapi sangat terasa di dalam dirinya. Jumrah mengajarkan satu hal sederhana: kadang manusia harus melempar apa yang tidak terlihat, tetapi sangat terasa.
Di tengah padatnya manusia, jumrah juga mengajarkan sesuatu yang lain. Tentang sabar yang tidak banyak bicara. Tentang langkah yang harus menyesuaikan orang lain. Tentang ego yang harus dikecilkan. Karena di sana, tidak ada yang benar-benar berjalan sendiri. Semua belajar tertib, belajar mengalah, dan belajar menahan diri.
Baca juga : Rupiah Dan Kelas Menengah
Dan di situlah manusia diuji: bukan hanya kuat secara fisik, tetapi juga lembut dalam sikap. Allah SWT berfirman: “Maka janganlah berkata kotor, jangan berbuat fasik, dan jangan berbantah-bantahan dalam haji”. (QS. Al-Baqarah: 197).
Rafats, fusuq, jidal. Tiga hal yang sering dianggap sekadar larangan. Padahal mungkin itulah isi hati yang paling sulit dilempar manusia.
Apakah kita masih membawa kata-kata yang melukai? Apakah kita masih menyimpan ego yang ingin selalu menang sendiri? Apakah kita masih memelihara marah yang diam-diam mengeras di dalam hati?
Jumrah seperti menjawab semuanya tanpa suara. Karena setiap batu yang dilempar sebenarnya sedang berkata: “Aku ingin meninggalkan itu semua”.
Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa berhaji dan tidak berkata kotor serta tidak berbuat fasik, ia kembali seperti hari ia dilahirkan oleh ibunya” (HR. Bukhari dan Muslim).
Lahir kembali. Mungkin itulah yang sebenarnya dicari dari seluruh perjalanan ini. Bukan hanya gelar mabrur, tetapi hati yang lebih ringan untuk kembali kepada Allah. Hati yang tidak lagi penuh oleh hal-hal yang sebenarnya tidak perlu dibawa pulang.
Namun terkadang, setelah semua batu dilempar, manusia masih membawa pulang amarahnya. Masih membawa egonya. Masih mudah menyakiti orang lain. Barangkali karena melempar jumrah ternyata lebih mudah daripada melempar kesombongan dari dalam hati sendiri.
Baca juga : Jalur Jamarat Diatur Ketat Demi Keselamatan
Padahal manusia sering tidak jatuh karena satu dosa besar saja. Kadang ia jatuh karena hal-hal kecil yang dibiarkan tumbuh terlalu lama. Dengki yang dianggap biasa. Ucapan yang terus melukai. Ego yang tidak pernah mau kalah.
Maka jumrah datang seperti pengingat yang keras namun lembut: “Berhentilah membawa itu semua pulang”.
Pada akhirnya, haji bukan tentang seberapa jauh kaki melangkah di Mina, Arafah, atau Makkah. Tetapi tentang seberapa jauh hati berani melepaskan dirinya dari beban lama.
Sebab yang pulang dari haji bukan hanya tubuh. Yang seharusnya pulang adalah hati: lebih tenang, lebih jernih, lebih rendah, dan lebih dekat kepada Allah.
Dan mungkin, batu-batu itu tidak pernah benar-benar diarahkan kepada setan. Ia diarahkan kepada diri yang selama ini terlalu sulit kita lawan.
Semoga setiap lemparan jumrah menjadi tanda bahwa ada sesuatu dalam diri yang benar-benar ditinggalkan. Dan semoga Allah menerima bukan hanya ibadahnya, tetapi juga perubahan yang lahir setelahnya.
Aamiin.***
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.