Dark/Light Mode
Wartawan Senior
RM.id Rakyat Merdeka - Apakah kelas menengah Indonesia benar-benar sekuat yang terlihat, atau justru perlahan-lahan sedang terkikis tanpa disadari?
Kita lihat kasus yang sedang ramai: rupiah yang melemah hingga kisaran Rp 17.500–Rp 17.700 per dolar AS. Ini mungkin belum terasa di meja makan. Tapi menjadi sinyal tekanan yang pelan-pelan merambat ke kehidupan sehari-hari.
Secara teori, pelemahan mata uang adalah urusan makroekonomi. Urusan para petinggi serta statistik yang rumit dan naik turun seperti jejeran pegunungan Himalaya.
Tapi ingat, dalam praktiknya, pelan tapi pasti, angka-angka itu akan berubah menjadi harga. Sampai ke dapur dan struk belanja.
Baca juga : Keluar Dari Mode Survival
Banyak barang di Indonesia masih bergantung pada impor. Gandum untuk mie dan roti. Kedelai untuk tempe. BBM dan bahan baku industri. Mesin produksi. Obat-obatan tertentu. Data Bank Indonesia menunjukkan bahwa porsi impor bahan baku dan barang modal masih mendominasi impor nasional.
Kita kembali ke kelas menengah. Kelas menengah berada di posisi unik. Mereka tidak menerima bantuan sosial. Tapi juga tidak punya bantalan kekayaan besar. Mereka ada di tengah. Bisa menjadi yang paling rapuh.
Maka pertanyaannya bukan hanya “berapa rupiah per dolar hari ini,” tetapi “siapa yang diam-diam membayar selisihnya?”
Salah satu jawabannya: kelas menengah. Kenapa kelas menengah? Karena kelompok ini biasanya tidak masuk dalam skema perlindungan sosial: bansos, subsidi pangan, bantuan dan program pemerintah lainnya.
Baca juga : Rem Tangan Birokrasi
Kelas menengah berada di “zona tanpa jaring pengaman”. Mereka tidak cukup miskin untuk dibantu, tapi juga tidak cukup kaya untuk tidak terdampak”. Kelas menengah sering kali menjadi indikator paling sensitif untuk membaca “kesehatan tersembunyi” ekonomi suatu negara.
Yang menarik, kelas menengah biasanya tidak terlalu “radikal” apalagi kalau merasa nyaman. Tapi, mereka memiliki kombinasi unik; cukup besar dan terdidik. Aktif di medsos. Punya akses ke kampus, profesi atau komunitas urban. Karena itu, mereka bisa menjadi penentu stabilitas sosial, bahkan politik.
Dengan profil seperti ini mereka bisa dengan cepat membentuk opini kolektif. Punya kemampuan mengartikulasikan apa pun, termasuk ketidakpuasan. Seekor kucing meninggal tidak wajar misalnya, bisa segera menjadi isu besar dan perhatian nasional.
Dengan demikian, kita berharap para pembuat kebijakan akan sangat serius dan ekstra memperhatikan situasi dan kondisi apa pun. Di semua lapisan. Komunikasi serta pesan yang jujur, kuat dan jelas, akan sangat berarti dan menentukan.
Baca juga : Virus, Waspada Dan Trauma
Karena, kalau gangguan dan tekanan “kecil” datang perlahan namun terus-menerus, yang terkikis bukan hanya daya beli. Tapi juga rasa aman, keyakinan dan kepercayaan. “Kurs” ini sangat mahal biayanya. Untuk itulah, kita sangat berharap segera ada mitigasi yang tepat dan bijak.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.