RM.id Rakyat Merdeka - Kepala Staf Kepresidenan (KSP) Dudung Abdurachman menekankan pentingnya keseimbangan antara ilmu pengetahuan dan spiritualitas dalam membangun kemajuan bangsa dan peradaban global.
Menurut Dudung, kemajuan tidak cukup hanya ditopang penguasaan ilmu dan teknologi. Nilai keimanan, moral, serta pengabdian kepada sesama juga harus menjadi fondasi dalam menjalankan pembangunan.
Hal itu disampaikan Dudung saat menghadiri Hari Bermuhammadiyah ke-13 Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ) di Auditorium K.H. Ahmad Azhar Basyir, Gedung Cendekia UMJ, Sabtu (5/9/2026).
Dudung menilai tema “Urgensi Keseimbangan Etos Ilmu dan Spiritualitas dalam Membangun Peradaban Global” sejalan dengan karakter Muhammadiyah yang selama ini mengembangkan pendidikan dan ilmu pengetahuan tanpa meninggalkan nilai-nilai keagamaan.
Menurut mantan Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KSAD) ini, ilmu seharusnya tidak berhenti sebagai pengetahuan. Ilmu harus diwujudkan dalam tindakan nyata yang memberikan manfaat bagi masyarakat.
“Di Muhammadiyah, ilmu tidak berhenti menjadi pengetahuan. Ilmu harus menjadi amal, dan amal harus menghadirkan kemanfaatan. Karena itu, kemajuan tidak hanya diukur dari seberapa jauh kita melangkah, tapi seberapa besar manfaat yang harus kita tinggalkan bagi sesama,” kata Dudung.
Baca juga : Haedar Nashir: Keberagamaan Belum Berbanding Lurus dengan Perilaku Jujur
Nilai tersebut, lanjutnya, tercermin dalam kiprah Muhammadiyah di berbagai bidang. Mulai dari pendidikan, kesehatan, pelayanan sosial, hingga gerakan kemanusiaan yang langsung menyentuh kebutuhan masyarakat.
Dudung menilai perjalanan panjang Muhammadiyah menunjukkan bahwa pengabdian dapat dilakukan tanpa kehilangan nilai keimanan dan ketulusan.
“Muhammadiyah mengajarkan tiga hal. Berilmu tanpa kehilangan iman, beramal tanpa banyak bicara, dan berkhidmat tanpa mencari pujian,” ujarnya.
Selain keseimbangan antara ilmu dan spiritualitas, Dudung juga menyoroti pentingnya kolaborasi antara negara dan masyarakat dalam mempercepat pembangunan.
Menurutnya, negara memiliki kewenangan untuk membuat kebijakan dan regulasi. Sementara masyarakat memiliki kekuatan sosial serta kedekatan dengan persoalan yang dihadapi rakyat.
Sinergi keduanya, kata Dudung, akan membuat pembangunan berjalan lebih efektif dan tepat sasaran.
Baca juga : Muhammadiyah Telah Layani 7.225 Penyintas Gempa Bumi NTT
“Ketika keduanya berjalan bersama, pembangunan akan menjadi lebih kuat, lebih cepat, dan lebih dekat dengan kebutuhan rakyat,” jelasnya.
Dudung memandang Muhammadiyah selama ini telah menunjukkan perannya sebagai mitra strategis bangsa. Organisasi tersebut dinilai konsisten hadir membantu masyarakat, sekaligus tetap menjaga independensi dan nilai-nilai moral yang menjadi landasannya.
Ia pun mengaku kehadirannya di UMJ bukan semata untuk memberikan pandangan kepada Muhammadiyah. Dudung justru ingin belajar dari nilai pengabdian yang selama ini dijaga organisasi Islam tersebut.
“Karena itu, hari ini saya datang bukan untuk membawa sesuatu kepada Muhammadiyah. Justru saya datang untuk belajar. Belajar tentang keikhlasan, istiqamah, disiplin, dan pengabdian yang tidak selalu membutuhkan tepuk tangan,” ujarnya.
Dalam kesempatan itu, Dudung juga mengingatkan kembali pesan pendiri Muhammadiyah K.H. Ahmad Dahlan yang meminta warga persyarikatan menghidupkan Muhammadiyah, bukan menjadikan organisasi tersebut sebagai tempat mencari kehidupan.
Pesan tersebut, menurut Dudung, relevan bagi siapa pun yang sedang memegang jabatan dan amanah.
Baca juga : Lazismu Himpun Rp 6 M untuk Korban Gempa Bumi NTT, Sudah Tersalurkan Rp 3,4 M
“Hidup-hidupilah Muhammadiyah, jangan mencari hidup di Muhammadiyah,” sebut Dudung mengutip pesan K.H. Ahmad Dahlan.
Ia menilai jabatan pada dasarnya bersifat sementara. Karena itu, ukuran seseorang bukan terletak pada posisi yang dimiliki, melainkan manfaat yang dapat diberikan kepada masyarakat.
Dudung berharap Muhammadiyah terus menjaga perannya sebagai kekuatan sosial dan moral bangsa. Dengan pengalaman panjangnya dalam bidang pendidikan, kesehatan, sosial, dan kemanusiaan, Muhammadiyah diyakini dapat terus berkontribusi dalam perjalanan Indonesia menuju bangsa yang maju.
“Bagi saya, pesan ini adalah pengingat bahwa jabatan hanyalah titipan, sedangkan nilai seseorang terletak pada manfaat yang ia berikan. Semoga Allah SWT membimbing langkah kita semua, dan semoga Muhammadiyah terus menjadi cahaya yang menerangi bangsa dan menjadi kekuatan bagi kemajuan Indonesia,” pungkasnya.
Kegiatan Hari Bermuhammadiyah ke-13 UMJ tersebut turut dihadiri Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir, Rektor UMJ Ma’mun Murod, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah sekaligus Ketua BPH UMJ Abdul Mu’ti, serta sejumlah tokoh lainnya.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.