Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Haedar Nashir: Keberagamaan Belum Berbanding Lurus dengan Perilaku Jujur
Minggu, 6 September 2026 10:04 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Haedar Nashir menyoroti kesenjangan antara tingginya kehidupan beragama dengan perilaku masyarakat dalam kehidupan sehari-hari. Hal itu antara lain tercermin dari masih maraknya korupsi, penyalahgunaan kekuasaan, hingga gaya hidup berlebihan.
Menurut Haedar, nilai agama seharusnya tidak berhenti pada ritual dan simbol. Keberagamaan mesti tercermin dalam kejujuran, cara memperoleh rezeki, serta penggunaan jabatan dan kekuasaan.
Hal tersebut disampaikan Haedar dalam kegiatan Hari Bermuhammadiyah ke-13 Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ) di Auditorium K.H. Ahmad Azhar Basyir, Gedung Cendekia UMJ, Sabtu (5/9/2026).
Dia mengingatkan pentingnya keselarasan antara apa yang diyakini, diucapkan, dan dilakukan dalam kehidupan sehari-hari.
“Tuhan murka pada kita yang selalu berkata, tapi tidak konsisten dalam melaksanakannya. Mayoritas muslim, korupsi masih merajalela, bahkan menjadi masif, sistematik, dan terstruktur,” kata Haedar.
Baca juga : Muhammadiyah Telah Layani 7.225 Penyintas Gempa Bumi NTT
Menurut dia, persoalan tersebut dapat bermula ketika seseorang kehilangan rasa cukup terhadap rezeki yang diperoleh secara halal. Kondisi itu membuka jalan bagi munculnya suap, penyalahgunaan jabatan, hingga perilaku koruptif lainnya.
“Ini satu indikator paling kuat, berarti keberagamaan kita tidak berbanding lurus dengan perilaku kita untuk jujur, termasuk dalam hal mencari rezeki yang semestinya halal,” ujarnya.
Haedar menilai masyarakat perlu terus melakukan pembaruan dalam kehidupan beragama. Pembaruan diperlukan agar nilai-nilai agama tetap hidup dan memberikan manfaat nyata dalam kehidupan keluarga, masyarakat, bangsa, dan kemanusiaan.
Dia kemudian mengutip pesan pendiri Muhammadiyah K.H. Ahmad Dahlan mengenai tantangan yang dihadapi agama ketika para pemeluknya tidak lagi menjalankan nilai-nilai yang diyakininya.
“Agama itu pada mulanya bercahaya, berkilau-kilauan. Tetapi lama-kelamaan redup. Bukan karena agamanya, tetapi karena umatnya, karena pemeluknya,” tutur Haedar.
Baca juga : Lazismu Himpun Rp 6 M untuk Korban Gempa Bumi NTT, Sudah Tersalurkan Rp 3,4 M
Selain persoalan moral, Haedar juga menyoroti rendahnya kesadaran masyarakat terhadap ilmu pengetahuan dan budaya membaca. Menurut dia, rendahnya minat baca berpengaruh terhadap kemampuan berpikir kritis dan kemajuan bangsa.
“Hanya satu orang dari 1.000 orang yang suka membaca. Dampaknya kita tidak mungkin maju sebagai sebuah bangsa jika masyarakat kita masih rendah kesadaran ilmunya, kesadaran kritisnya, dan lain-lain,” ungkapnya.
Di sisi lain, Haedar mengungkapkan Muhammadiyah masih mendapatkan kepercayaan positif yang tinggi dari masyarakat. Dia merujuk hasil survei Litbang Kompas pada 2024 yang mencatat tingkat kepercayaan publik terhadap Muhammadiyah mencapai 91 persen.
Sementara survei Lembaga Kebijakan Publik Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta terhadap kelompok milenial dan Generasi Z menunjukkan tingkat kepercayaan terhadap Muhammadiyah berada di kisaran 91-92 persen.
Menurut Haedar, capaian tersebut menunjukkan Muhammadiyah masih memiliki posisi yang kuat sebagai organisasi keagamaan dan sosial kemasyarakatan.
Baca juga : Bank BSN Gelar Muhammadiyah Ecosystem Acceleration Perkuat Perbankan Syariah
“Ketika survei ini dilakukan dan hasilnya seperti itu, maka Muhammadiyah berarti masih punya posisi yang konsisten sebagai organisasi keagamaan dan sosial kemasyarakatan yang bisa merawat, menjaga keberagaman dalam kehidupan masyarakat,” jelasnya.
Kepercayaan publik tersebut, lanjut Haedar, harus dijaga dengan terus memperkuat misi dakwah. Muhammadiyah dituntut menghadirkan dakwah yang relevan dengan berbagai persoalan masyarakat dan mampu mendorong kemajuan.
“Dakwah yang mencerahkan, dakwah yang mencerdaskan, dakwah yang memberdayakan, dakwah yang membebaskan, dan dakwah yang memajukan kehidupan umat, bangsa dan kemanusiaan semesta,” pungkasnya.
Kegiatan Hari Bermuhammadiyah ke-13 UMJ turut dihadiri Rektor UMJ Ma’mun Murod, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah sekaligus Ketua BPH UMJ Abdul Mu’ti, Kepala Staf Kepresidenan Dudung Abdurachman, serta influencer dan pendiri Maskanul Huffaz Oki Setiana Dewi.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya