RM.id Rakyat Merdeka - Muhammadiyah terus memperkuat aksi kemanusiaan bagi korban gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT). Hingga 3 September 2026, Lazismu telah menghimpun dana bantuan sebesar Rp 6,09 miliar untuk mendukung penanganan hingga pemulihan para penyintas.
Dana tersebut berasal dari donasi masyarakat serta penggalangan infak Salat Jumat yang dilakukan secara serentak di masjid-masjid Muhammadiyah. Dari total dana yang terkumpul, sekitar Rp 3,45 miliar telah disalurkan untuk mendukung berbagai layanan kemanusiaan di wilayah terdampak.
Direktur Utama Lazismu Barry Adhitya mengatakan, penggalangan dana masih akan terus dilakukan untuk mendukung penanganan korban hingga tahap rehabilitasi dan rekonstruksi.
“Penyaluran dana donasi dan Infak Salat Jumat masih akan terus dilaksanakan untuk melanjutkan respons dan tahapan rehabilitasi-rekonstruksi serta membangun ketangguhan masyarakat,” kata Barry dalam keterangannya, Jumat (4/9/2026).
Gempa bumi berkekuatan 7,7 magnitudo yang melanda tujuh kabupaten di NTT pada 15 Agustus 2026 langsung mendapat respons dari Muhammadiyah. Berbagai unsur yang tergabung dalam Lembaga Resiliensi Bencana atau Muhammadiyah Disaster Management Centre (MDMC) dikerahkan dari sejumlah daerah.
Pimpinan Pusat Muhammadiyah juga menerbitkan Surat Edaran Nomor 18/EDR/I.0/H/2026 pada 20 Agustus 2026. Surat tersebut menginstruksikan seluruh masjid untuk melakukan penggalangan Infak Salat Jumat bagi korban gempa NTT.
Baca juga : Sido Muncul Kembali Salurkan Bantuan Rp 510 Juta Untuk Korban Gempa NTT
Dalam penanganan di lapangan, Muhammadiyah mengerahkan sejumlah klaster layanan prioritas, mulai dari kesehatan, layanan nonkesehatan hingga distribusi logistik.
Pada sektor kesehatan, Emergency Medical Team (EMT) Type-1 Fixed Muhammadiyah menurunkan 50 personel untuk mendirikan rumah sakit lapangan di Puskesmas Dampek, Kabupaten Manggarai Timur. Fasilitas kesehatan tersebut dibangun setelah puskesmas setempat mengalami kerusakan akibat gempa.
Tim medis dengan standar Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO itu bekerja sama dengan Kementerian Kesehatan dan dijadwalkan bertugas selama 30 hari sejak 17 Agustus 2026.
Selain tim medis tetap, Muhammadiyah juga mengerahkan EMT Mobile dari berbagai Rumah Sakit Muhammadiyah dan Aisyiyah. Tim tersebut menyasar lokasi pengungsian dan wilayah yang sulit dijangkau.
Hingga 3 September 2026, tim EMT Muhammadiyah tercatat telah menangani ribuan pasien. Mereka terdiri atas 85 bayi, 229 balita, 266 anak-anak, 150 remaja, 2.173 orang dewasa, 22 ibu hamil, dan 799 lansia.
Keluhan kesehatan yang paling banyak ditemukan antara lain infeksi saluran pernapasan, nyeri otot dan pegal-pegal, hipertensi, gangguan pada area perut, serta sakit kepala dan nyeri leher.
Baca juga : Tiga Pekan Pascagempa, 1.931 Sekolah di NTT Kembali Beraktivitas
Secara keseluruhan, Muhammadiyah melalui MDMC dan Lazismu telah memberikan layanan kepada sedikitnya 7.225 penyintas gempa di NTT.
Pada tahap awal respons, Muhammadiyah mendirikan Pos Koordinasi Wilayah di Klinik Muhammadiyah Ende, Jalan Mahoni, Kelurahan Kota Ratu, Kecamatan Ende Utara, Kabupaten Ende.
Pos tersebut menjadi pusat perencanaan dan evaluasi aksi kemanusiaan. Hingga kini, telah dibentuk tujuh Pos Koordinasi Daerah di tujuh kabupaten terdampak serta 10 Pos Pelayanan.
Layanan kesehatan Muhammadiyah melalui EMT Type-1 Fixed dan EMT Mobile telah menjangkau 2.215 perempuan dan 1.487 laki-laki penyintas gempa.
Sementara pada layanan nonkesehatan, dapur umum Muhammadiyah telah melayani sekitar 1.750 jiwa. Relawan juga membangun fasilitas sanitasi dan air bersih di dua titik serta memberikan layanan psikososial kepada 1.773 penyintas.
Berbagai bantuan logistik turut disalurkan untuk mendukung kebutuhan masyarakat. Bantuan tersebut meliputi mobil dapur umum, mobil taktis, 500 paket family kit, 600 paket school kit, 1.440 kaleng Rendangmu, serta terpal sepanjang 500 meter.
Baca juga : Dudung: Kemajuan Bangsa Butuh Ilmu dan Spiritualitas
Dukungan pengobatan juga terus diberikan oleh tim medis dari sejumlah Rumah Sakit Muhammadiyah dan Aisyiyah yang bertugas di wilayah terdampak.
Barry menyampaikan apresiasi kepada para relawan yang terus bekerja di lapangan serta masyarakat yang telah mempercayakan donasinya melalui Lazismu.
“Kami apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh relawan Muhammadiyah di lapangan atas kerja-kerja kemanusiaan dan tentu terima kasih kepada donatur dan jamaah Salat Jumat atas kepercayaannya sehingga aksi layanan kemanusiaan Muhammadiyah kepada penyintas bencana di NTT dapat terus dilanjutkan,” ujar Barry.
Menurutnya, Lazismu akan terus memantau dan mengevaluasi pelaksanaan program Indonesia Siaga di NTT. Dana yang dihimpun dari masyarakat diupayakan dapat dimanfaatkan secara optimal untuk membantu proses pemulihan korban gempa.
Muhammadiyah menargetkan bantuan tidak berhenti pada masa tanggap darurat. Aksi kemanusiaan akan terus dilanjutkan hingga tahap rehabilitasi dan rekonstruksi guna membantu masyarakat terdampak membangun kembali kehidupan sekaligus meningkatkan ketangguhan menghadapi bencana.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.