Sebelumnya
Seperti saat dirinya ditahan di Lapas Gunung Sindur. Dia bilang, petugas mengkhotbahkan ideologi Pancasila. Sedangkan saat itu ideologinya masih kuat dan radikal. Pada akhirnya, dia sangat resisten.
Hendro menambahkan, ketika dipindahkan ke penjara keamanan super-maksimum di Nusa Kambangan, dia mulai dideradikalisasi.
Baca juga : Datang Sebagai Seorang Ayah, Erick Adukan Fitnah Faizal Assegaf
Ada program ‘Dakwah Safari’ yang digagas Densus tiga kali sepekan. Program itu dilakukan para napi terorisme yang sudah kembali setia ke Indonesia, tapi masih mendekam di penjara.
Dia mengatakan, pendekatan dengan menggunakan sesama narapidana terorisme ini lebih efektif. Dia merasa suasananya lebih cair dibanding saat bertemu petugas badan kontraterorisme atau Kementerian Agama.
Baca juga : Cegah Petani Gagal Panen, PKT Pastikan Program Makmur Tingkatkan Produktivitas Pertanian
“Jadi saya merasa nyaman bertukar pikiran,” papar Fernando.
Sofyan Tsauri, mantan perwira polisi yang pernah jadi terpidana kasus terorisme menjelaskan, kunjungan Densus dan BNPT ke penjaranya membuka dialog. Mereka juga berdiskusi tentang pemahaman radikal dan nasionalisme Indonesia.
Baca juga : Kiev Dihiasi Jejeran Bangkai Tank Rusia
Sofyan menjalani berbagai kursus. Mulai dari manajemen konflik hingga pengembangan empati. Menurutnya, itu meninggalkan kesan kuat dan membuka matanya. Tokoh agama juga memberikan perspektif baru tentang praktik keagamaan dan toleransi. ■ ***
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.