BREAKING NEWS
 

Terungkap, 5 Rahasia Korsel Kuasai Dunia Lewat Hallyu...

Reporter & Editor :
FIRSTY HESTYARINI
Selasa, 20 Desember 2022 14:01 WIB
Pakar Hubungan Internasional dari Korea University, Andrew Eungi Kimalam Workshop ke-6 Indonesian Next Generation Journalist Network on Korea Batch 2, yang digelar Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) dan Korea Foundation secara hybrid, beberapa waktu lalu. (Foto: YouTube)

RM.id  Rakyat Merdeka - Hallyu atau fenomena gelombang kebudayaan Korea Selatan (Korsel) atau demam Korea, kini begitu mengglobal.

Aneka drakor alias drama Korea seperti "Winter Sonata" (2002) dan "Crash Landing on You" (2019),  kini akrab dalam keseharian masyarakat dunia. Begitu pula bintang K-pop seperti BTS dan Blackpink.

Nama-nama itu kini sama populernya dengan Samsung, merk HP Korsel yang begitu mendunia.

Tahun 2019, Korsel mengejutkan dunia lewat panggung Academy Awards. "Parasite" terpilih menjadi film berbahasa asing pertama, yang meraih predikat Best Picture.

 

 

Baca juga : Tuntut Rasa Keadilan Kasus Kanjuruhan, Aremania Serukan Revolusi PSSI

Itu belum termasuk kesuksesan "Squid Game". Serial TV yang paling banyak ditonton di Netflix, per November 2021, ini tak hanya menjadi yang terlaris di 94 negara, tetapi juga menjadi magnet bagi lebih dari 142 juta rumah tangga pemirsa Netflix.

Dalam empat minggu pertama sejak diluncurkan, publik menghabiskan waktu 1,65 miliar jam hanya untuk menonton "Squid Game".

Tak heran, majalah berita mingguan Inggris "The Economist" pun menyebut budaya pop Korsel sebagai trendsetter Asia terkemuka.

Terkait hal tersebut, Pakar Hubungan Internasional dari Korea University, Andrew Eungi Kim mengatakan, output budaya Korsel memang masih belum seberapa, bila dibanding dengan ekspor utama seperti semikonduktor. Tapi pengaruhnya, luar biasa.

“Saat ini, Korsel adalah negara pengekspor budaya terbesar di dunia setelah Amerika Serikat, Inggris, dan Jepang,” kata Andrew dalam Workshop ke-6 Indonesian Next Generation Journalist Network on Korea Batch 2, yang digelar Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) dan Korea Foundation secara hybrid, beberapa waktu lalu.

Menurutnya, ada lima faktor di balik kesuksesan hallyu yang mendunia.

Baca juga : Menpora Banggakan Eko Raih Dua Perak Di Kejuaraan Dunia Angkat Besi

Pertama, hard power berupa kompetensi. Dalam konteks ini, kesuksesan hallyu kerap dikaitkan dengan pesatnya keberhasilan ekonomi Korsel.

“Kesuksesan ekonomi ini memudahkan para pengusaha Korsel, untuk menciptakan produk budaya yang berkualitas tinggi, menarik, serta mewah dan gaya. Di samping mampu menerapkan strategi pemasaran yang sangat efisien,” jelas Andrew.

“Sehingga bisa dibilang, hallyu tak hanya menjadi produk budaya, tetapi juga merupakan suatu fenomena ekonomi atau industri,” imbuhnya.

Kedua, soft power. Korsel percaya, kemakmuran ekonomi bisa menjadi daya tarik.

Dalam upaya menguasai dunia, soft power mengacu pada kekuatan tak berwujud, yang mengacu pada image negara yang baik. Tak mengandalkan hard power seperti militer atau kekuatan ekonomi.

Citra AS sebagai negara kaya, terbukti memainkan peran yang sangat penting, dalam mempromosikan produk-produk Negeri Paman Sam seperti jeans Levi's, iPhone Apple, rokok Marlboro, minuman ringan CocaCola, serta film hip-hop dan Hollywood. Juga musik bergenre rock, blues, dan jazz.

Baca juga : Misi Kunci Juara Grup

Konsep soft power juga terkait erat dengan popularitas merek-merek kondang seperti Louis Vuitton, Chanel, Prada, Gucci, Burberry, Hugo Boss, Giorgio Armani, Bulgari, Hermes, dan sebagainya.

Adsense

“Memang, ada korelasi langsung antara kekuatan ekonomi suatu bangsa, tingginya standar hidup, dan kemampuan suatu negara dalam menyebarkan budayanya. Termasuk, unsur bahasa, seni dan bahkan agama. Ini sudah dibuktikan oleh negara Barat, terutama AS,” terang Andrew.

Faktanya, berdasarkan data Produk Domestik Brutto (GDP) 2019, Korsel menempati peringkat keempat ekonomi terbesar di Asia dengan angka 1,64 triliun dolar AS atau Rp 25,61 kuadriliun. Setara 1,87 persen dari total global.

Di bawah China dengan 14,34 triliun dolar AS atau Rp 223,97 kuadriliun (16,34 persen), Jepang 5,08 triliun dolar AS atau Rp 79,34 kuadriliun (5,79 persen), dan India 2,88 triliun dolar AS atau Rp 44,95 kuadriliun (3,28 persen).

Tertinggi dunia, masih dirajai AS dengan angka 21,43 triliun dolar AS atau Rp 334,50 kuadriliun (24,42 persen).
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense