Sebelumnya
Dalam wawancaranya itu, Macron memperingatkan, agar UE tidak latah mengikuti kebijakan luar negeri AS. Dia juga menyarankan, agar Eropa mendanai industri pertahanannya dengan lebih baik. Mengembangkan energi nuklir dan terbarukan serta mengurangi ketergantungan pada dolar AS untuk membatasi ketergantungannya pada Paman Sam.
“Sejarah sedang berjalan. Perang ekonomi di Eropa harus dipercepat semua anggota. Kita juga harus mampu mempertahankan diri secara mandiri,” ingat Macron.
“Sebagai masyarakat Eropa, yang perlu kita kuatkan adalah persatuan,” katanya lagi.
Pengamat dari Foundation for Strategic Research (FRS) Antoine Bondaz mengatakan, Macron melupakan keinginan Beijing untuk mengubah status quo dengan mengambil alih Taiwan.
Baca juga : Soal Israel, Ketum Relawan ProGP: Ganjar Pranowo Sudah Tepat Dan Konstitusional
“Mengapa tidak pernah mengingat kita memiliki kepentingan dalam menjaga stabilitas?” katanya.
Menurutnya, kemunculan Eropa sebagai pemain geostrategis independen telah menjadi tujuan Macron selama bertahun-tahun. Hal ini sejalan dengan tradisi sejak Presiden Charles de Gaulle, yang melihat Prancis sebagai kekuatan penyeimbang antara blok Perang Dingin.
Tak cuma Eropa, situasi antara China dan Taiwan juga menjadi perhatian Jepang. Terkait ini, pejabat senior Pemerintah Jepang dan China melakukan pertemuan.
Pada dasarnya, pertemuan itu membahas masalah maritim di perairan yang disengketakan di Laut China Timur. Pertemuan itu bagian dari putaran pembicaraan reguler yang dimulai pada 2012.
Baca juga : Waspada Silent Stone, Dikira Sakit Pinggang Biasa, Ternyata Batu Ginjal
Pertemuan itu terjadi saat pesawat tempur dan kapal perang China melakukan simulasi serangan terhadap Taiwan.
Kepala Sekretaris Kabinet Jepang Hirokazu Matsun mengatakan, pihaknya telah mengikuti latihan militer China di sekitar Taiwan dengan perhatian penuh. Dia menuturkan pentingnya perdamaian dan stabilitas di Selat Taiwan.
“Tidak hanya penting untuk keamanan Jepang, tetapi juga untuk stabilitas masyarakat internasional secara keseluruhan,” kata Hirokazu, dilansir Channel News Asia, kemarin.
Seperti diketahui, China memandang Taiwan yang demokratis sebagai bagian dari wilayahnya. Mereka berjanji untuk merebutnya suatu saat nanti, bahkan dengan paksaan jika perlu.
Baca juga : BI: Krisis Bank AS Dan Eropa Nggak Goyahkan Perbankan RI
Pertemuan antara Tsai dan McCarthy dianggap sebagai campur tangan asing terhadap urusan dalam negerinya. Beijing selalu menegaskan, akan menggunakan berbagai cara agar Taiwan tetap jadi bagian tak terpisahkan dari China. ■ PYB/DAY
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.