RM.id Rakyat Merdeka - Suasana di Kota Dhaka, Ibu Kota Bangladesh, mencekam pasca aksi demonstrasi yang menewaskan 115 orang. Pemerintah memutus jaringan internet dan menerapkan jam malam.
Sepekan terakhir, ribuan orang, mayoritas mahasiswa di Kota Dhaka, menggelar demonstrasi memprotes sistem kuota penerima pegawai negeri.
Kerusuhan yang berlangsung secara nasional ini dipicu tingginya angka pengangguran di kalangan kaum muda Bangladesh. Seperlima dari total 170 juta penduduk Bangladesh tidak memiliki pekerjaan atau tidak mengenyam pendidikan.
Untuk meredam kemarahan massa, Pemerintah Bangladesh menerapkan jam malam mulai Jumat (19/7/2025) hingga Minggu (21/7/2024). Pemerintah menginstruksikan kepolisian melakukan tembak di tempat jika mendeteksi kerumunan orang yang mencurigakan.
Baca juga : Pengacara Siap “Diadu” Dengan Penyidik KPK
Jam malam diberlakukan mulai pukul 2 siang, Jumat (19/7/2024), hingga Minggu (21/7/2024) pukul 10 pagi. Warga diperkenankan melakukan aktivitas esensial mulai pukul 10 pagi hingga 2 siang.
Pemberlakuan jam malam ini diharapkan bisa mengembalikan kehidupan masyarakat kota Dhaka ke tingkat normal. Pemerintah Bangladesh juga telah memutuskan semua akses internet dan media sosial diblokir sejak Kamis malam (18/7/2024).
“Ini merupakan situasi ekstrem dan perlu penanganan tegas. Semua ini demi mengembalikan keamanan Ibu Kota,” terang Sekretaris Jenderal partai berkuasa di Bangladesh, Awami League, Obaidul Quader, dilansir Reuters, Minggu (21/7/2024).
Protes yang menyebar di sean-tero Bangladesh itu adalah salah satu unjuk rasa terburuk yang dialami negara itu dalam lebih dari satu dekade terakhir.
Baca juga : Jokowi Dan Prabowo Saling Komunikasi
Demo besar ini merupakan puncak dari aksi protes kecil-kecilan yang terjadi di beberapauniversitas di Bangladesh. Para mahasiswa menuntut Pemerintah membatalkan sistem kuotabagi pekerjaan di lingkup pemerintahan. Mereka meminta agar diberlakukan skema berbasis prestasi.
Pekan ini, demo mahasiswa telah keluar dari area kampus dan berkembang menjadi gerakan yang lebih besar melawan pemerintahan Perdana Menteri (PM) Sheikh Hasina, yang telah berkuasa sejak 2009.
Ekonomi negara ini mengalami kemerosotan parah sejakpandemi Covid-19, yang membuat puluhan juta orang menganggur.
Shafkat Mahmud, mahasiswa dari Uttara, Dhaka, mengatakan, aksi ini bukan lagi sekadar protes mahasiswa. Tetapi kerusuhan sipil nasional yang sudah mirip dengan perang saudara.
Baca juga : Basuki Dan Raja Juli Blusukan Malam-malam
Mahmud menuding, setelah Pemerintah memblokir internet Kamis (18/7/2024) malam, polisi telah beralih dari menggunakan peluru karet ke amunisi hidup.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.