Dark/Light Mode

115 Orang Tewas, Bangladesh Mencekam

Kerusuhan Di Dhaka Bak Perang Saudara

Senin, 22 Juli 2024 06:20 WIB
Aksi protes mahasiwa terhadap kebijakan kuota PNS di Bangladesh. (Foto: Twitter/bengalielonmusk)
Aksi protes mahasiwa terhadap kebijakan kuota PNS di Bangladesh. (Foto: Twitter/bengalielonmusk)

RM.id  Rakyat Merdeka - Suasana di Kota Dhaka, Ibu Kota Bangladesh, mencekam pasca aksi demonstrasi yang menewaskan 115 orang. Pemerintah memutus jaringan internet dan menerapkan jam malam.

Sepekan terakhir, ribuan orang, mayoritas mahasiswa di Kota Dhaka, menggelar demonstrasi memprotes sistem kuota penerima pegawai negeri.

Kerusuhan yang berlangsung secara nasional ini dipicu ting­ginya angka pengangguran di kalangan kaum muda Bangla­desh. Seperlima dari total 170 juta penduduk Bangladesh tidak memiliki pekerjaan atau tidak mengenyam pendidikan.

Untuk meredam kemarahan massa, Pemerintah Bangladesh menerapkan jam malam mu­lai Jumat (19/7/2025) hingga Minggu (21/7/2024). Pemerintah menginstruksikan kepolisian melakukan tembak di tempat jika mendeteksi kerumunan orang yang mencurigakan.

Baca juga : Pengacara Siap “Diadu” Dengan Penyidik KPK

Jam malam diberlakukan mulai pukul 2 siang, Jumat (19/7/2024), hingga Minggu (21/7/2024) pukul 10 pagi. Warga diperkenankan melakukan aktivitas esensial mulai pukul 10 pagi hingga 2 siang.

Pemberlakuan jam malam ini diharapkan bisa mengem­balikan kehidupan masyarakat kota Dhaka ke tingkat normal. Pemerintah Bangladesh juga telah memutuskan semua akses internet dan media sosial diblokir sejak Kamis malam (18/7/2024).

“Ini merupakan situasi ek­strem dan perlu penanganan tegas. Semua ini demi mengem­balikan keamanan Ibu Kota,” terang Sekretaris Jenderal partai berkuasa di Bangladesh, Awami League, Obaidul Quader, dilansir Reuters, Minggu (21/7/2024).

Protes yang menyebar di sean-tero Bangladesh itu adalah salah satu unjuk rasa terburuk yang dialami negara itu dalam lebih dari satu dekade terakhir.

Baca juga : Jokowi Dan Prabowo Saling Komunikasi

Demo besar ini merupakan puncak dari aksi protes kecil-kecilan yang terjadi di beberapauniversitas di Bangladesh. Para mahasiswa menuntut Pemerintah membatalkan sistem kuotabagi pekerjaan di lingkup pemerintahan. Mereka meminta agar diberlakukan skema berba­sis prestasi.

Pekan ini, demo mahasiswa telah keluar dari area kampus dan berkembang menjadi gera­kan yang lebih besar melawan pemerintahan Perdana Menteri (PM) Sheikh Hasina, yang telah berkuasa sejak 2009.

Ekonomi negara ini mengalami kemerosotan parah sejakpan­demi Covid-19, yang membuat puluhan juta orang menganggur.

Shafkat Mahmud, mahasiswa dari Uttara, Dhaka, mengatakan, aksi ini bukan lagi sekadar protes mahasiswa. Tetapi kerusuhan sipil nasional yang sudah mirip dengan perang saudara.

Baca juga : Basuki Dan Raja Juli Blusukan Malam-malam

Mahmud menuding, setelah Pemerintah memblokir internet Kamis (18/7/2024) malam, polisi telah beralih dari menggunakan peluru karet ke amunisi hidup.
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.