BREAKING NEWS
 

Klaim Kemenangan Maduro Ditolak Warga, Demo Di Venezuela Pecah

Reporter & Editor :
FIRSTY HESTYARINI
Selasa, 30 Juli 2024 08:27 WIB
Warga Venezuela bergerak menuju Istana Kepresidenan, menolak klaim kemenangan petahana Nicolas Maduro, Senin (29/7/2024). (Foto: tangkapan layar BBC)

RM.id  Rakyat Merdeka - Ribuan warga Venezuela bergerak menuju Istana Kepresidenan di Caracas, untuk memprotes klaim kemenangan Presiden Nicolás Maduro dalam pemilu yang disengketakan di negara tersebut, Senin (29/7/2024).

Di media sosial, Maduro dihujat dengan berbagai gambar dan caption yang menohok. Ada yang bertuliskan “knock down the dictator (jatuhkan diktator) dan “everyone to Miraflores (semua orang ke Miraflores).

Miraflores adalah lokasi Istana Kepresidenan Venezuela.

Melansir BBC, konvoi militer bersenjata bergerak ke Istana Kepresidenan. Tentara yang mengenakan balaclava (penutup seluruh bagian kepala, kecuali mata dan hidung), berdiri di belakang mobil yang membawa senapan besar.

Polisi menembakkan gas air mata di tengah aksi demo di ibu kota Venezuela, sehari setelah Maduro mengklaim kemenangannya.

Oposisi membantah deklarasi kemenangan Maduro, dan menyebutnya sebagai penipuan. Oposisi meyakini, Edmundo González yang mewakili kalangannya, menang secara meyakinkan dengan 73,2 persen suara.

Jajak pendapat menjelang Pilpres, menunjukkan kemenangan yang jelas bagi oposisi. Seluruh partai oposisi telah bersatu di belakang González, untuk menggulingkan Presiden Maduro yang telah 11 tahun berkuasa. Ketidakpuasan warga atas krisis  ekonomi di Venezuela, begitu meledak-ledak.

Baca juga : DPR Soroti Kuota Haji Tambahan

Sejumlah negara Amerika Barat dan Latin, serta badan internasional, termasuk PBB, telah meminta otoritas Venezuela untuk merilis catatan pemungutan suara dari tempat pemungutan suara (TPS) individu.

Untuk menyuarakan ketidakpuasan terhadap pemerintah, banyak warga Venezuela menggedor panci dan wajan dari rumah mereka dan di jalanan. Di tengah hujan lebat, sekelompok orang berteriak: "Afuera" (keluar) dan "Libertad" (kebebasan).

Rekaman video memperlihatkan demonstran membakar ban di jalan raya. Lalu, ada kerumunan massa di jalanan, dengan polisi di sepeda motor menembakkan gas air mata.

Militer dan polisi mencoba membubarkan pengunjuk rasa, dan mencegah mereka mendekati Istana Kepresidenan.

Polisi bersenjata, militer, dan paramiliter sayap kiri yang bersimpati kepada pemerintah bentrok dengan pengunjuk rasa, dan memblokir banyak jalan di sekitar pusat kota.

Adsense

Kepada BBC, seorang warga bernama Paola Sarzalejo (41) mengatakan, Pilpres Venezuela sungguh mengerikan, tak ubahnya seperti penipuan.

"Kami menang dengan 70 persen, tetapi mereka mengambilnya dari kami. Kami menginginkan masa depan yang lebih baik untuk pemuda kami, untuk negara kami," ungkapnya.

Baca juga : Tim PHE ONWJ Selamatkan 18 Awak Kapal Karam Di Perairan Kepulauan Seribu

Pernyataan ini diamini sang ayah, Miguel (64). "Maduro telah kalah dalam pemilihan, dia tidak punya hak untuk berada di sana (Istana Kepresidenan) sekarang," begitu katanya.

Miguel menambahkan, masyarakat Venezuela menginginkan masa depan yang lebih baik bagi kaum muda. Jika tidak, mereka akan meninggalkan Venezuela. Demi mendapatkan pekerjaan dan penghasilan yang baik.

"Negara kami kaya, tapi Maduro menghancurkan segalanya," cetus Miguel.

Cristobal Martinez yang membalut dirinya dengan bendera Venezuela mengatakan, pilpres ini adalah penipuan. Padahal anak muda di La Lucha dan sekitarnya begitu antusias menunaikan hak pilihnya dalam pemilihan yang sangat penting bagi anak muda. Sebab faktanya, banyak anak muda Venezuela kini menganggur dan mayoritas tidak belajar.

"Ini adalah pertama kalinya saya mencoblos. Saya hadir di tempat pemilihan, dari pukul 6 sampai pukul 9 pagi. Saya melihat banyak orang bergerak di jalan. Ada banyak ketidakpuasan terhadap pemerintah. Mayoritas orang berpartisipasi untuk perubahan," tuturnya.

Menurutnya, selama 11 tahun menjabat, Maduro tak menghasilkan perubahan apa pun. Kata Martinez, kenyataan ini lebih buruk sejak Presiden Chavez meninggal.

"Beberapa orang tua yang bersimpati dengan pemerintah hidup dari bonus atau pemberian makanan. Sedangkan kami menginginkan perubahan, pekerjaan yang layak, dan masa depan yang baik untuk negara kami," beber Martinez.

Baca juga : AMANAH Optimal Kembangkan Produk Lokal Daerah Agar Tembus Kancah Dunia

"Ini bukan pertama kalinya kami menghadapi apa yang kami hadapi hari ini. Mereka mencoba memaksakan kudeta di Venezuela lagi, dengan karakter fasis dan kontra-revolusioner," sambungnya.

Jaksa Agung Venezuela mengingatkan, pemblokiran jalan atau pelanggaran hukum apa pun yang terkait aksi protes akan dijatuhi sanksi hukum.

Saat ini, 32 orang telah ditahan atas berbagai tuduhan. Mulai dari upaya menghancurkan materi pemilu hingga memicu tindakan kekerasan.

Sementara itu, pejabat administrasi senior Amerika Serikat (AS) menyoroti kemungkinan antara pilihan voter, dengan yang diumumkan. Itu sebabnya, AS meminta otoritas pemilihan Venezuela untuk merilis data dasar yang mendukung angka-angka yang telah mereka umumkan.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense