RM.id Rakyat Merdeka - Sedikitnya 59 orang dilaporkan tewas dalam bentrokan antara dan pengunjuk rasa anti-pemerintah di Bangladesh, Minggu (4/8/2024).
Kerusuhan terjadi ketika para pemimpin mahasiswa mendeklarasikan kampanye pembangkangan sipil untuk menuntut Perdana Menteri (PM) Sheikh Hasina mundur.
“13 polisi tewas ketika ribuan orang menyerang kantor polisi di distrik Sirajganj," kata polisi seperti dikutip BBC.
Protes mahasiswa berawal dari tuntutan untuk menghapus kuota penerimaan PNS pada bulan lalu, lalu berkembang menjadi gerakan anti-pemerintah yang lebih luas.
Polisi menggunakan gas air mata dan peluru karet untuk membubarkan demonstran di seluruh Bangladesh, serta memberlakukan jam malam. Sedikitnya 200 orang telah terluka.
"Jika kami tidak menahan diri, akan ada pertumpahan darah. Saya kira, kesabaran kami memiliki batas,” kata Menteri Hukum dan Kehakiman, Anisul Huq.
Di ibu kota Bangladesh, Dhaka, akses internet di perangkat seluler telah ditangguhkan. Seorang pejabat Komisi Pengaturan Telekomunikasi Bangladesh (BTRC) mengatakan, layanan internet 4G dan 3G di daerah Dhaka telah berhenti untuk saat ini. Namun layanan broadband akan terus berlanjut. Tak jelas kapan akan kembali normal.
Baca juga : Pertukaran Tahanan Antara Rusia Dan Amerika, 24 Orang Dibebaskan
Kematian dan cedera telah dilaporkan di seluruh negeri, termasuk distrik utara Bogra, Pabna dan Rangpur.
Di beberapa tempat, pendukung Liga Awami yang memerintah dilaporkan bentrok dengan pengunjuk rasa anti-pemerintah.
"Seluruh kota telah berubah menjadi medan pertempuran," kata seorang polisi, yang tak mau disebutkan namanya, kepada AFP.
Dia mengatakan kerumunan beberapa ribu pengunjuk rasa telah membakar mobil dan sepeda motor di luar rumah sakit.
Mahasiswa Melawan Diskriminasi, kelompok di balik demonstrasi anti-pemerintah, telah meminta PM Hasina mundur.
Kelompok itu mengumumkan gerakan pembangkangan nasional mulai Minggu (4/8/2024), serta mendesak warga untuk tidak membayar pajak atau tagihan listrik apa pun.
Para siswa juga menyerukan penutupan semua pabrik dan layanan transportasi umum.
Baca juga : Pemerintah Bangun Pusat Riset Morowali
Lebih dari 200 orang tewas dalam kekerasan pada Juli 2024. Banyak dari mereka ditembak polisi. Sekitar 10 ribu orang dilaporkan telah ditahan dalam tindakan besar-besaran oleh pasukan keamanan dalam dua minggu terakhir.
Mereka yang ditangkap termasuk pendukung oposisi dan mahasiswa.
Liga Awami juga mengadakan pawai di seluruh negeri pada Minggu (4/8/2024). Beberapa hari ke depan dipandang penting bagi kedua kubu.
"Sheikh Hasina seharusnya tidak hanya mengundurkan diri. Dia harus menghadapi persidangan atas pembunuhan, penjarahan dan korupsi," kata Nahid Islam, salah satu pemimpin gerakan mahasiswa, kepada ribuan orang di Dhaka, Sabtu (3/8/2024).
Protes tersebut menimbulkan tantangan besar bagi Hasina, yang terpilih untuk masa jabatan keempat berturut-turut dalam pemilihan Januari. Dia diboikot oleh oposisi utama.
Bulan lalu, mahasiswa Bangladesh turun ke jalan karena masalah kuota penerimaan PNS, yang banyak menyerap kerabat para veteran perang kemerdekaan Bangladesh dengan Pakistan pada tahun 1971.
Sebagian besar kuota telah dikurangi oleh pemerinta. Namun, aksi protes mahasiswa tak kunjung reda. Mereka tetap menuntut keadilan bagi mereka yang tewas dan terluka. Sekarang, mereka ingin PM Hasina mundur.
Baca juga : Pemerintah Gandeng Perusahaan China...
Sebelumnya, PM Hasina menawarkan dialog tanpa syarat dengan para pemimpin mahasiswa. Dia ingin kekerasan berakhir.
“Saya ingin duduk bersama dengan para mahasiswa. Saya tidak ingin konflik," katanya.
Namun, para pengunjuk rasa mahasiswa telah menolak tawarannya.
Bulan lalu, PM Hasina mengerahkan militer untuk memulihkan ketertiban setelah beberapa kantor polisi dan gedung negara dibakar dalam aksi protes.
Panglima Militer Bangladesh, Jenderal Waker-Uz-Zaman, mengadakan pertemuan dengan perwira junior di Dhaka untuk menilai situasi keamanan.
"Tentara Bangladesh selalu mendukung rakyat, dan akan terus melakukannya untuk kepentingan rakyat, dan dalam setiap kebutuhan negara," kata Jenderal Zaman, menurut rilis Direktorat Hubungan Masyarakat Inter Services.
Pemerintah berpendapat, polisi melepaskan tembakan hanya untuk membela diri dan untuk melindungi properti negara.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.