Sebelumnya
Selain itu, PSC juga berkoordinasi dengan lembaga penegak hukum untuk mendeteksi, mencegah dan mempertahankan diri dari setiap dan semua ancaman terhadap presiden dan keluarga.
Aliansi politik antara keluarga Duterte dan Marcos yang sebelumnya sangat kuat, hingga membawa mereka pada kemenangan dalam Pemilu tahun 2022, telah runtuh dan hancur dalam beberapa bulan terakhir.
Permusuhan politik dua klan politik di Filipina itu bermula saat Marcos Jr menerapkan kebijakan yang berlawanan dengan massa pemerintahan Presiden Rodrigo Duterte tentang anti narkoba dan urusan luar negeri.
Baca juga : Menurut Hakim Kerugian Negara Hanya Rp 30,8 M
Duterte juga menuduh Marcos Jr dan sekutunya di lembaga legislatif berencana mengamandemen konstitusi untuk menghapus batasan masa jabatan. Duterte mengecam tindakan tersebut dan mengingatkan bahwa hal tersebut bisa mengakibatkan nasib serupa dengan ayah Marcos Jr, yaitu mendiang diktator Ferdinand Marcos.
Tuduhan Duterte didasarkan pada wacana amendemen Konstitusi yang diusulkan anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) yang mendukung Marcos.
Duterte menyebut anggota parlemen tersebut, termasuk Ketua DPR Martin Romualdez, melakukan upaya suap untuk mengamandemen konstitusi tahun 1987 guna menghapus batasan masa jabatan. Romualdez adalah sepupu Marcos Jr.
Baca juga : Ngaku Pernah Selingkuh & Diselingkuhi
Hal ini, menurut Duterte, akan memungkinkan Marcos Jr memperpanjang masa jabatannya dan memperkuat cengkeramannya atas kekuasaan. Duterte juga menuduh Marcos Jr sebagai pengguna narkoba.
Marcos Jr merespons tuduhan Duterte dengan nada mengejek, menyatakan bahwa ia tidak akan membenarkan klaim tersebut dan menegaskan bahwa Duterte lah menggunakan fentanil, sejenis obat opioid kuat.
Duterte mengaku menggunakan fentanil untuk meredakan rasa sakit karena cedera akibat kecelakaan sepeda motor pada tahun 2016. Namun, pengacaranya menyatakan, Duterte telah menghentikan penggunaannya sebelum menjadi presiden.
Baca juga : Di Masa Tenang, Awas Politik Uang
Permusuhan dua keluarga ini makin meruncing saat Sara menghadapi ancaman pemakzulan di DPR Filipina yang dipimpin Romualdez, yang diperkirakan akan maju dalam Pemilu Presiden (Pilpres) 2028.
Romualdez sebelumnya memangkas hampir dua pertiga anggaran kantor Wapres Filipina. Sara juga telah mengundurkan diri dari jabatan Menteri Pendidikan pada Juni lalu ketika hubungannya dengan Bongbong-sapaan Marcos Jr semakin memburuk. Namun, Sara tetap menjabat sebagai Wapres Filipina. DAY
Artikel ini tayang di Harian Rakyat Merdeka Cetak, Halaman 14, edisi Selasa, 26 November 2024 dengan judul "Sara Duterte Bantah Ancam Bunuh Bosnya, Sara Duterte Bantah Ancam Bunuh Bosnya"
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.