RM.id Rakyat Merdeka - Setelah perjuangan panjang, UNESCO akhirnya menetapkan kebaya sebagai Warisan Budaya Dunia dalam Sidang ke-19 Intergovernmental Committee on Intangible Cultural Heritage (ICH) di Asuncion, Paraguay, kemarin, Rabu (4/12).
Pengakuan ini merupakan hasil pengajuan bersama Indonesia, Brunei Darussalam, Malaysia, Singapura, dan Thailand.
“Kami bersyukur yang teramat sangat karena perjuangan panjang ini akhirnya membuahkan hasil,” ujar Ketua Umum Perempuan Berkebaya Indonesia (PBI) Rahmi Hidayati.
"Bagaimana pun sejarah keberadaan kebaya adalah perjalanan budaya Nusantara yang diwariskan para leluhur kita," sambungnya.
Baca juga : Reog Ponorogo Jadi Warisan Budaya Kita
PBI yang sejak awal bergerak melestarikan kebaya melalui berbagai program, kini berfokus menggandeng generasi muda. “Karena mereka lah yang akan berjuang menjaga kelestarian kebaya,” tambah Rahmi.
Pengajuan kebaya ke UNESCO pertama kali digagas tahun 2017 saat acara 1.000 Perempuan Berkebaya.
Kongres Berkebaya Nasional pada April 2021 mengukuhkan pembentukan Tim Nasional untuk memproses nominasi ini. Namun, sempat terjadi perdebatan terkait pengajuan bersama lima negara.
Anggota Timnas Kebaya Indiah Marsaban menjelaskan, nominasi elemen budaya “kebaya” diajukan pada Maret 2023 lalu dengan judul “Dossier Kebaya: Knowledge, Skills, Tradition and Practice”.
Baca juga : Wakil Ketua Komisi XI DPR Apresiasi Peran BNI Sebagai Agent of Development
Dari nominasi ini, pihaknya mengangkat pengetahuan tentang kebaya, keterampilan membuat kebaya, tradisi memakai kebaya, dan bagaimana melestarikan budaya berkebaya di masing-masing negara.
“Budaya berkebaya tidaklah eksklusif hanya ada di Indonesia tetapi kebaya menjadi hidup dan menghidupi di negara-negara serumpun karena tradisi kebaya terus dijaga sebagai budaya yang berkelanjutan,” kata Indiah.
Elemen budaya “kebaya” diajukan Maret 2023 dengan judul “Dossier Kebaya: Knowledge, Skills, Tradition and Practice.” Dokumen tersebut menggarisbawahi keterampilan membuat, tradisi mengenakan, hingga praktik pelestarian kebaya di setiap negara pengaju.
“Budaya berkebaya tidaklah eksklusif hanya ada di Indonesia tetapi kebaya menjadi hidup dan menghidupi di negara-negara serumpun karena tradisi kebaya terus dijaga sebagai budaya yang berkelanjutan,” imbuhnya.
Baca juga : Arsjad Rasjid Pastikan Tak Nyalon Lagi Jadi Ketum Kadin di Munas
PBI juga menggencarkan berbagai program seperti Kebaya Goes To School, Kebaya Goes To Campus, dan Kebaya Goes To Office*. Tujuannya, mengenalkan kebaya kepada anak muda dan mengajak mereka untuk bangga berkebaya.
Rahmi mengakui tantangan anggapan bahwa kebaya itu ribet. Selain itu, kebaya pun dirasa tidak nyaman saat dikenakan. "Untuk itu kami ajarkan cara yang praktis, yang membuat pemakainya tetap leluasa bergerak di berbagai aktivitas,” tandasnya.
Lebih jauh, kebaya juga membawa dampak ekonomi. Industri kebaya mulai dari pengrajin kecil hingga pabrik besar dapat berkembang pesat.
Bahkan, industri kain tenun Nusantara turut terangkat, mengingat kebaya tidak hanya dipadukan dengan batik, tetapi juga kain tradisional lainnya.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.