RM.id Rakyat Merdeka - Saham perusahaan produsen minuman beralkohol di Eropa dan Amerika Serikat (AS) terjun bebas pada Jumat (3/1/2025). Setelah Surgeon General AS, Kepala Korps Layanan Kesehatan Masyarakat AS dokter Vivek Murthy menyerukan pemberian label peringatan kanker pada minuman beralkohol.
Vivek Murthy menyatakan bahwa konsumsi minuman beralkohol meningkatkan risiko kanker, termasuk kanker payudara, usus besar, dan hati.
"Untuk beberapa jenis kanker, seperti kanker payudara, mulut, dan tenggorokan, bukti menunjukkan bahwa risiko berkembangnya kanker dapat meningkat bahkan pada tingkat konsumsi satu minuman atau kurang per hari," demikian isi rekomendasi tersebut, dilansir Reuters.
Dampak pada Saham perusahaan induk Jack Daniel's, Brown-Forman, turun hampir 3 persen menjadi 37,10 dolar AS pada awal perdagangan di AS, mencapai titik terendah sejak April 2017.
Baca juga : Daewoong Dorong Transformasi Kesehatan Indonesia dengan Terapi Sel
Sementara itu, produsen bir Coors Light, Molson Coors, merosot 4 persen. Saham Constellation Brands, pembuat bir Corona, turun 1,3 persen. Sementara saham Boston Beer nyungsep hampir 6 persen, penurunan terbesar sejak Februari tahun lalu.
Di Eropa, saham Diageo, produsen minuman keras terbesar di dunia, turun sekitar 3 persen ke level terendah sejak pertengahan Desember 2024, setelah sebelumnya sempat turun hingga 4,1 persen.
Saham pembuat minuman keras asal Prancis, Pernod Ricard, yang memproduksi cognac Martell, sampanye Mumm, dan vodka Absolut, turun sekitar 3,2 persen. Begitu juga dengan Remy Cointreau, serta grup minuman keras Italia, Campari, turun sekitar 3,8 persen.
Produsen bir juga terkena dampak, dengan saham Anheuser-Busch InBev, produsen Budweiser, turun sekitar 2 persen. Diikuti melorotnya saham Heineken dan Carlsberg antara 1 persen hingga 1,5 persen.
Baca juga : Wamenkop: Presiden Prabowo Dorong Kemajuan & Keberadaan Koperasi
Tak dapat dipungkiri, jebloknya saham produsen minuman beralkohol itu dipicu kekhawatiran investor terhadap potensi dampak regulasi yang lebih ketat di sektor ini terkait penambahan peringatan kanker pada label minuman alkohol. Penurunan ini juga mencerminkan sensitivitas pasar terhadap isu kesehatan masyarakat yang dapat memengaruhi permintaan dan reputasi merek minuman tersebut.
"Kebanyakan orang Amerika cenderung percaya jika dikonsumsi tidak berlebihan dampaknya akan baik-baik saja. Seperti label peringatan pada bungkus rokok tidak akan banyak membantu mengurangi kebiasaan merokok, label peringatan pada alkohol juga tidak banyak berpengaruh," kata Michael Ashley Schulman, partner dan kepala investasi di Running Point Capital Advisors.
Belum jelas kapan atau apakah saran dokter bedah itu dapat dilaksanakan. Pasalnya, keputusan untuk memperbarui label tersebut ada di tangan Kongres AS.
Sebagai informasi, Surgeon General adalah Kepala Korps Layanan Kesehatan Masyarakat AS atau US Public Health Service Commissioned Corps (USPHS) lembaga negara yang misinya adalah untuk melindungi, mempromosikan, dan memajukan kesehatan bangsa AS. Untuk menjadi US Surgeon General, seseorang ditunjuk presiden dan disahkan senat. Jabatannya selama untuk empat tahun.
Baca juga : Bedah Karma Indonesia: Solusi Holistik Kesehatan Mental Dan Spiritual Indonesia
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.