Sebelumnya
Trump juga akan memberlakukan tarif baru terhadap mitra dagang utama seperti China, Kanada, dan Meksiko, yang bisa mencapai 60 persen. Bahkan, semua mitra dagang lainnya pun akan dikenai tarif baru antara 10-20 persen. Kebijakan ini diperkirakan akan menciptakan ketidakpastian dalam situasi ekonomi global.
Kekhawatiran terhadap gaya kepemimpinan Trump bukan tanpa alasan. Apalagi jika melihat rekam jejak kepemimpinannya pada periode 2017-2021.
Pada masa pemerintahannya yang pertama, dengan slogan “Make America Great Again”, Trump mengeluarkan sejumlah kebijakan kontroversial. Trump melancarkan perang dagang dan menaikkan tarif bea masuk barang-barang impor.
Selain itu, Presiden dari Partai Republik itu juga menarik Amerika keluar dari Perjanjian Iklim Paris, sebuah komitmen global untuk mengurangi emisi karbon guna mengatasi perubahan iklim. Berbagai kebijakan tersebut bikin dunia harap-harap cemas.
Baca juga : Kaka Suminta: Masih Ada Tarik Menarik Di DPR
Sebelumnya, sejumlah pemimpin dunia menyampaikan kekhawatirannya dengan kebijakan yang akan diambil Trump nanti. Salah satunya, soal janji Trump untuk mengakhiri perang Rusia-Ukraina.
Saat kampanye, Trump sesumbar bisa menyelesaikan perang Rusia-Ukraina hanya dalam waktu 1x24 jam. Salah satu caranya, yakni dengan menghentikan bantuan kepada Ukraina.
Padahal, di era Presiden Biden, Ukraina sangat tergantung pada bantuan dari AS. Kalau bantuan dihentikan, maka Ukraina akan dipaksa berdamai dengan Rusia. Sementara, selama perang berlangsung, sudah beberapa wilayah Ukraina yang berhasil dicaplok Rusia.
Kekhawatiran ini juga disampaikan Perdana Menteri (PM) Swedia Ulf Kristersson. Meskipun mengucapkan selamat, Kristersson mengatakan, kembalinya Trump menjadi Presiden AS juga membawa risiko. Termasuk risiko ‘eksistensial’ bagi Swedia seperti potensi berkurangnya komitmen AS terhadap Ukraina.
Baca juga : Ahmad Doli Kurnia Tandjung: Perbaikan Sistem Harus Dikonkretkan
Pernyataan Trump berpotensi menimbulkan perubahan besar dalam kebijakan luar negeri AS, khususnya terkait aliansi NATO. Sebelumnya, Trump pernah mengancam menarik AS dari NATO, meski hal ini turut mendorong negara-negara anggota meningkatkan anggaran pertahanan mereka.
Perdana Menteri Luksemburg Luc Frieden mengatakan, Uni Eropa harus memiliki tentaranya sendiri. Hal tersebut diungkapkan Frieden di tengah kekhawatiran Donald Trump akan menarik keamanan AS untuk Eropa saat dirinya kembali ke Gedung Putih.
Mengutip The Telegraph, Frieden dalam pidatonya di Polandia mengatakan, langkah pertama menuju militer bersama dapat diambil oleh “koalisi yang bersedia” di antara negara-negara anggota.
Para pemimpin Eropa khawatir bahwa Trump dapat menarik diri dari NATO jika ia merasa anggota aliansi lainnya tidak cukup membelanjakan uang untuk pertahanan.
Baca juga : Indonesia Dominasi ASEAN Digital Award 2025 Dengan 9 Penghargaan
Mereka juga khawatir Trump dapat menghentikan persenjataan dan bantuan ke Kyiv – dan berpotensi memaksa Ukraina, negara kandidat untuk bergabung dengan UE, untuk menegosiasikan perjanjian damai yang tidak adil dengan Vladimir Putin, presiden Rusia. [BCG]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.