BREAKING NEWS
 

Kolaborasi Prodi HI UNAS dan AIHII, Bahas Peluang dan Tantangan Indonesia di BRICS

Reporter & Editor :
UJANG SUNDA
Rabu, 22 Januari 2025 17:34 WIB
Prodi HI FISIP UNAS bekerja sama AIHII menggelar Seminar Nasional bertema BRICS dan Indonesia: Peluang, Tantangan, dan Strategi Kolaborasi Global, Selasa (21/1/2025). (Foto: Dok. Unas)

RM.id  Rakyat Merdeka - Indonesia resmi bergabung dengan BRICS (Brazil, Rusia, India, China, dan Afrika Selatan), sebuah langkah strategis yang menarik perhatian internasional. Sebagai respons atas perkembangan ini, Program Studi Hubungan Internasional (HI) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Nasional (FISIP UNAS) bekerja sama dengan Asosiasi Ilmu Hubungan Internasional Indonesia (AIHII) mengadakan Seminar Nasional bertema "BRICS dan Indonesia: Peluang, Tantangan, dan Strategi Kolaborasi Global".

Acara digelar Selasa (21/1/2025), di Ruang Seminar Blok A, Lantai 3 Universitas Nasional. Acara berlangsung secara hybrid, dengan peserta hadir secara luring dan daring melalui Zoom Meeting.

Ketua Umum AIHII, Agus Haryanto., membuka seminar dengan menyatakan apresiasi atas kesediaan para guru besar HI dalam berbagi pengetahuan untuk memahami peran strategis Indonesia sebagai anggota baru BRICS. AIHII akan menyumbangkan gagasan pemikiran sebagai rekomendasi kebijakan pemerintah untuk masalah-masalah global.

Seminar Nasional ini menghadirkan narasumber terkemuka, yaitu Prof Aleksius Jemadu (Universitas Pelita Harapan), Prof Angel Damayanti (Universitas Kristen Indonesia), dan Prof Faris Al-Fadhat (Universitas Muhammadiyah Yogyakarta). Acara dipandu Irma Indrayani, Kepala Biro Kerja Sama UNAS, dan dihadiri Wakil Dekan Bidang Administrasi Akademik dan Keuangan FISIP UNAS, Aos Yuli Firdaus, serta mahasiswa dan akademisi dari berbagai universitas.

Peluang Ekonomi dan Diplomasi

Baca juga : Kolaborasi Bersama Media, PHI Dukung Masa Depan Industri Energi Nasional

Menurut Prof Aleksius Jemadu, sebagai negara middle power, BRICS merupakan wadah yang sesuai dan alamiah dengan karakteristik Indonesia. Namun, ia mengingatkan pentingnya kehati-hatian dalam memanfaatkan peluang yang ada tanpa mengorbankan posisi Indonesia sebagai bridge builder dalam politik global.

"Indonesia memiliki peran unik karena tidak terlibat dalam konflik besar dengan negara-negara tetangga, sehingga dapat berperan sebagai kekuatan penengah dalam kontestasi geopolitik global," jelasnya.

Prof Aleksius juga menyoroti bahwa keanggotaan Indonesia di BRICS membuka akses ke pasar besar yang mencakup hampir 55 persen dari PDB dunia. Namun, manfaat ini hanya dapat dirasakan jika Indonesia mampu secara maksimal memanfaatkan peluang yang ada, termasuk dengan meningkatkan daya saing nasional dan penetrasi ke pasar negara-negara BRICS.

Adsense

"Keberhasilan ini membutuhkan strategi ekonomi yang jelas dan langkah konkret dalam memperluas kerja sama perdagangan serta investasi," tambahnya.

BRICS sebagai Alternatif Geopolitik

Baca juga : Kolaborasi Prodi Komunikasi U-Bakrie & UiTM Hidupkan Sopan Santun Di Era Digital

Dalam paparan materinya, Prof Angel Damayanti menjelaskan, BRICS merupakan platform alternatif untuk kerja sama global yang didasarkan pada tiga pilar utama: politik dan keamanan, keuangan dan ekonomi, serta sosial dan budaya. Pada 2025, Indonesia secara resmi bergabung sebagai anggota BRICS, mengikuti Iran, Mesir, Etiopia, dan Uni Emirat Arab yang diterima pada 2024. Langkah ini mencerminkan upaya Indonesia untuk memperkuat posisi di tengah dinamika politik dan ekonomi global yang semakin multipolar.

Untuk menghadapi tantangan tersebut, Prof Angel menegaskan pentingnya bagi Indonesia untuk tetap berpegang pada strategi hubungan luar negeri yang mandiri dan aktif. "Indonesia harus mampu menjadi pengimbang di BRICS, bukan sekadar pengikut. Diplomasi aktif dan fleksibel merupakan kunci untuk menjaga keseimbangan dalam dinamika global," jelasnya.

Selain itu, Prof Angel juga menekankan perlunya Indonesia memanfaatkan berbagai forum internasional lainnya, seperti G20 dan PBB, untuk memperkuat pengaruhnya di kancah global. Pendekatan ini diyakini dapat membantu Indonesia mengoptimalkan peran strategisnya, sambil menjaga hubungan baik dengan seluruh mitra internasional, baik yang berada dalam aliansi BRICS maupun negara-negara besar lainnya.

Strategi Hubungan Luar Negeri

Sementara itu, Prof Faris Al-Fadhat menjelaskan, BRICS memberikan peluang strategis untuk menghadirkan alternatif terhadap dominasi geopolitik Amerika Serikat dan negara-negara Barat. "BRICS menawarkan akses pasar yang besar serta peluang investasi yang lebih inklusif, tetapi Indonesia harus mampu memanfaatkan peluang ini secara cerdas," ujarnya.

Baca juga : Colek LSM Anti Sawit, Ahli IPB: Banyak Yang Iri Dengan Indonesia

Menurut Prof Faris, posisi Indonesia sebagai kekuatan utama di Asia Tenggara menjadikannya mitra strategis bagi BRICS. Keunggulan ini memberikan Indonesia kesempatan untuk memainkan peran penting dalam membentuk kebijakan global yang lebih inklusif, terutama dalam mendorong kolaborasi antarnegara berkembang di berbagai sektor.

"Dengan strategi yang tepat, Indonesia dapat memaksimalkan perannya untuk memperkuat posisi globalnya melalui forum ini," tambahnya.

Rekomendasi dan Harapan

Di akhir diskusi, para narasumber sepakat bahwa keanggotaan Indonesia di BRICS adalah langkah strategis yang perlu dikelola secara bijak. Dengan diplomasi yang cermat, penguatan daya saing ekonomi, serta keberanian mengambil peran kepemimpinan, Indonesia dapat memperkuat posisinya di kancah global.

Seminar ini diharapkan mampu menjadi langkah awal dalam menyusun strategi yang matang untuk mendukung kebijakan luar negeri Indonesia di era multipolar. Diharapkan pula diskusi serupa terus dilakukan untuk memberikan masukan strategis dalam menghadapi tantangan geopolitik dan ekonomi dunia.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense