Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Colek LSM Anti Sawit, Ahli IPB: Banyak Yang Iri Dengan Indonesia
Senin, 13 Januari 2025 15:02 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Rencana pemerintah memanfaatkan kawasan hutan yang terlanjur rusak untuk ditanamkan sawit dinilai sangat tepat. Pasalnya, selama ini ada diskriminasi terhadap tanaman sawit di dunia.
Menurut Guru Besar Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor (IPB), Yanto Santoso, tanaman yang tumbuh di negara tropis ini menjadi alasan sawit didiskriminasi.
Dia menyebut sawit memiliki banyak manfaat mulai dari pangan hingga energi, dan merupakan tanaman yang produktivitasnya mencapai empat sampai delapan kali lipat daripada bunga matahari dan kedelai, yang menjadi andalan minyak nabati Eropa dan Amerika Serikat.
“Ada perang dagang nih minyak nabatinya internasional. Coba kalau sawit tumbuh di Eropa sama Amerika, mereka [pihak asing] nggak akan mempersoalkan,” kata Yanto kepada wartawan, Senim (13/1).
Baca juga : Mau Bikin Ormas, Anies Banyak Yang Nasihatin
“Jadi, memang Amerika Serikat dan Eropa, boleh dikatakan dalam bahasa agamanya, mereka iri lah dengan sawit kita yang sangat penuh. Karena kita kan matahari penuh tiap hari, kan? Jadi memang produk sawit di kawasan tropis ini luar biasa,” lanjutnya.
Dengan demikian, menurut Yanto, terjadi diskriminasi terhadap sawit yang berujung pada penilaian negatif dari segelintir Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) asing terhadap tanaman sawit, yang kerap dinilai menyebabkan deforestasi.
“Itu lah mereka iri. Disuruh lah para LSM. Sekarang mikir deh nih, Ketika orang mau nanam tebu atau nanam aren di kawasan hutan, ada yang ribut nggak? Tidak ada. Begitu sawit, ada kata-kata sawit, langsung ribut kan LSM, kan? Karena mereka dibiayai oleh asing untuk menghantam kita nggak boleh maju,” jelas Yanto.
Ia pun mengajak LSM, para peneliti atau para guru besar yang lain tidak melulu berpikir anti sawit dan beranggapan bahwa pihak yang peduli sawit tak sayang dengan hutan Indonesia.
Baca juga : Perluasan Lahan Sawit Tidak Akan Sebabkan Deforestasi
“Semua bangsa ini sayang sama hutan Indonesia. Kami juga sangat sayang sama hutan, hutan geledegan kita, rimba raya kita, sangat sayang,” ucapnya.
Oleh karena itu, Yanto mengatakan dirinya mendukung rencana Presiden RI Prabowo Subianto memperluas lahan sawit di Indonesia di kawasan hutan yang terlanjur rusak atau terdegradasi karena akan menambah produktivitas kawasan tersebut.
Yanto menjelaskan perluasan lahan sawit di kawasan hutan rusak terdegradasi sendiri bukan deforestasi, melainkan upaya menambah produktivitas lahan yang sudah terlanjur rusak untuk keperluan swasembada pangan dan energi terbarukan.
“Kalau kebun sawit yang ditanamkan Bapak Presiden itu, akan ditanam di kawasan hutan yang sudah rusak, maka itu bukan deforestasi. Karena nggak ada tumbuhan pohon. Sebaliknya akan meningkatkan produktivitas kawasan tersebut,” terangnya.
Baca juga : Program MBG Resmi di Mulai, Isyana Yakin Tingkatkan SDM Indonesia
Adapun ia menilai saat ini sejumlah pihak nampak salah paham dengan rencana pemerintah tersebut, di mana pemerintah disangkakan akan membuka hutan rimba raya untuk dijadikan kebun sawit.
“Saya yakin ada misunderstanding tentang pengertian hutan dan kawasan hutan. Semua yang tidak setuju tampaknya berpikiran bahwa Bapak Presiden atau Menteri LHK akan membuka hutan rimba raya. Dibongkar, dijadikan kebun sawit,” ujarnya.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya