RM.id Rakyat Merdeka - Kembalinya Donald Trump menjadi Presiden Amerika Serikat (AS), bukan sesuatu yang istimewa bagi Rusia. Pasalnya, di era Pemerintahan Trump jilid pertama, periode 2017-2021, hubungan AS dengan Rusia berada di titik terendahnya.
“Kami juga tidak banyak berharap ada perubahan positif. Jika memang ada niatan untuk memperbaiki hubungan, tentu saja kami terbuka,” ujar Duta Besar (Dubes) Rusia untuk Indonesia, Sergei Gennadievich Tolchenov saat menerima Tim Rakyat Merdeka, Kartika Sari, Firsty Hestyarini, Muhammad Rusmadi, Diananda Rahmasari, dan Khairizal Anwar di kediamannya, Kamis (30/1/2025).
Sebagai informasi, Trump mengancam siap menyentil Rusia, jika tidak memenuhi desakan AS untuk menghentikan perang di Ukraina. Dia bahkan mengklaim, akan menghentikan perang Rusia Vs Ukraina dalam 100 hari kepemimpinannya.
Inilah kutipan lengkap wawancara eksklusif Tim Rakyat Merdeka dengan Dubes Tolchenov.
Baca juga : Diselingkuhi Suami, Curhat Di Medsos
Bagaimana pandangan anda dengan pemerintahan baru AS di bawah Presiden Trump?
Soal kepemimpinan Trump, saya teringat pepatah yang bunyinya, “You can play like Number One or Number Two, but you’ll never be Number One playing like Number Two.”
AS tidak bisa memaksakan Rusia untuk menjadi sesuatu yang memang tidak seharusnya kami lakukan. Ini menegaskan bahwa bahwa Rusia akan melakukan apapun yang kami mampu, semampu kami. Kami tidak akan mendikte orang lain untuk melakukan hal ini-itu demi kepuasan kami.
Rusia tetap akan memantau bagaimana AS memperlakukan kami. Karena kami tipe negara yang lebih baik melakukan aksi daripada janji. Jika AS mau memberi sanksi untuk Rusia, itu bukan hal baru dan kami tidak akan kaget karena kami juga sudah “dihadiahi” banyak sanksi di Pemerintahan Trump Jilid 1.
Baca juga : Bantah Elpiji 3 Kg Langka, Bahlil: Pengelolaan Sedang Ditata
Kami juga tidak banyak berharap ada perubahan positif. Jika memang ada niatan untuk memperbaiki hubungan, tentu saja kami terbuka. Jika Trump berjanji akan hentikan perang Ukraina, oke-oke saja.
Jadi Rusia bersedia berdialog secara diplomatik dengan AS mengenai perang Ukraina?
AS tidak punya andil menandatangani perjanjian damai dalam perang Rusia-Ukraina. Seharusnya Ukraina yang menyatakan kesiapannya menandatangani kesepakatan damai. Ukraina juga yang seharusnya berhenti menyerang wilayah Rusia yang damai.
Ukraina dan Rusia seharusnya melanjutkan dialog damai yang sudah dimulai di Turki pada 2022. Kesepakatan damai sudah siap dan tinggal ditandatangani saja. Sayangnya, Ukraina memilih mendengar hasutan AS.
Baca juga : Anggaran Dipotong, Para Menteri Tidak Berani Protes
Tidak ada yang diuntungkan dari keputusan Ukraina. Kami memang mendapatkan wilayah yang ingin masuk sebagai bagian dari Rusia. Kami tidak akan menyerahkan wilayah yang sudah mengambil keputusan secara demokratis itu.
Jadi, jika ingin mengakhiri konflik ini, Ukraina harus menarik seluruh pasukannya dari wilayah Rusia. Ukraina juga tidak boleh join Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO). Selain itu, Ukraina seharusnya menjadi negara netral, non nuklir, dan non blok.
Menjadi negara netral maksudnya adalah Ukraina menjadi negara mandiri tanpa menjadi tuan rumah bagi markas pasukan asing manapun.
Kami juga ingin Pemerintah Ukraina menghargai dan memenuhi hak legal masyarakat minoritas yang memakai bahasa Rusia di Ukraina.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.