RM.id Rakyat Merdeka - Greenland mengumumkan pembentukan pemerintahan otonom baru, Jumat (28/3/2025) di Nuuk, ibu kotanya, hanya beberapa jam menjelang kunjungan Wakil Presiden Amerika Serikat JD Vance ke pulau Arktik tersebut.
Pada sebuah upacara yang diadakan di Pusat Kebudayaan Katuaq, empat partai politik, yang mewakili 23 dari 31 kursi di parlemen Greenland, menandatangani perjanjian koalisi untuk membentuk pemerintahan otonomi baru. Jens-Frederik Nielsen, ketua Demokraatit (Partai Demokrat), akan menjabat sebagai perdana menteri.
Warga setempat menyambut pemerintahan baru itu. "Saya berharap pemerintahan baru dapat berbicara atas nama rakyat Greenland," kata Aviaja Martinsen, kepada Xinhua.
Vance berkunjung ke Greenland di tengah meningkatnya minat AS di wilayah tersebut. Presiden AS Donald Trump telah berulang kali menyatakan keinginannya untuk memperoleh Greenland, wilayah otonomi Denmark yang berlokasi strategis dan kaya sumber daya.
Vance dan istrinya Usha, didampingi Penasihat Keamanan Nasional Mike Waltz dan pejabat senior lainnya, mengunjungi pangkalan militer AS di pulau tersebut. Kunjungan tersebut dipandang para pejabat di Copenhagen, Denmark dan Nuuk sebagai provokasi.
Greenland adalah koloni Denmark hingga tahun 1953, ketika menjadi bagian integral dari Kerajaan Denmark. Pada tahun 1979, Greenland memperoleh pemerintahan sendiri, memperluas otonominya, sementara Denmark mempertahankan kendali atas urusan luar negeri dan kebijakan pertahanan.
Baca juga : Kado Hari Raya, Pemerintah Berikan Remisi Khusus Bagi Narapidana
Presiden AS Donald Trump berulangkali mengatakan ingin mengakuisisi Greenland, dengan menyebut wilayah Arktik itu penting untuk keamanan internasional di tengah aktivitas China dan Rusia di kawasan tersebut.
"Kami butuh Greenland… untuk keamanan internasional. Kami harus memiliki Greenland," kata Trump di Ruang Oval, Gedung Putih, Jumat (28/3/2025).
Di luar kepentingan AS, kata dia, akusisi Greenland akan penting bagi perdamaian dunia dan keamanan internasional. Ia mengacu pada peningkatan kehadiran angkatan laut China dan Rusia di jalur perairan Arktik.
"Saat ini ada kapal perang di mana-mana yang melewati Greenland. Kami tidak akan membiarkan itu terjadi," kata Trump.
"Kita harus melindungi...tidak hanya negara kita tetapi juga dunia," imbuhnya.
Dia pun menyatakan bahwa AS tidak akan bergantung pada Denmark maupun sekutu-sekutunya yang lain, untuk menangani isu ini. Sejak kembali menjabat pada Januari, Trump telah berulang kali menyatakan niatnya untuk mengakuisisi Greenland, meskipun Denmark terus-menerus menolaknya.
Baca juga : Presiden Tegaskan Zakat Merupakan Pemerataan Kesejahteraan
Wilayah otonomi Denmark itu menampung instalasi militer strategis AS. Namun, Greenland telah menolak tawaran AS untuk membeli pulau itu.
Pernyataan Trump itu disampaikan ketika Wakil Presiden JD Vance mengunjungi pangkalan Angkatan Luar Angkasa AS di Pituffik, di pantai barat laut Greenland.
JD Vance Kritik Denmark
Dalam pidatonya, Vance menuding Denmark tidak menjaga keamanan Greenland dengan baik. Vance juga bilang, Rusia, China, dan negara-negara lain memiliki minat yang luar biasa pada jalur Arktik, rute angkatan laut, dan mineral di wilayah tersebut.
Vance mengatakan AS akan menginvestasikan lebih banyak sumber daya, termasuk kapal angkatan laut dan kapal pemecah es militer yang akan memiliki kehadiran yang lebih besar di negara tersebut.
Vance juga berjanji bahwa penduduk Greenland akan memiliki penentuan nasib sendiri dan AS akan menghormati kedaulatannya. "Saya pikir mereka pada akhirnya akan bermitra dengan Amerika Serikat. Kita dapat membuat mereka jauh lebih aman. Kita dapat melakukan lebih banyak perlindungan. Dan saya pikir mereka juga akan jauh lebih baik secara ekonomi," kata Vance.
Tanggapan Denmark
PM Greenland Jens-Frederik Nielsen menilai kunjungan AS menandakan kurangnya rasa hormat. Sedangkan pejabat Denmark menekankan komitmennya terhadap Denmark.
Baca juga : Penyidik KPK Cuti, Pemeriksaan Febri Diansyah Dijadwalkan Ulang Setelah Lebaran
"Selama bertahun-tahun kami telah berdiri berdampingan dengan Amerika dalam situasi yang sangat sulit. Oleh karena itu, deskripsi wakil presiden tentang Denmark tidak adil," kata PM Denmark Mette Frederiksen dalam sebuah pernyataan kepada kantor berita Denmark Ritzau.
Menteri Luar Negeri Denmark Lars Lokke Rasmussen mengatakan Vance ada benarnya. "Kami belum berbuat cukup, tetapi saya sedikit terprovokasi karena Amerika juga belum berbuat cukup," tandas Rasmussen.
Rasmussen mengingatkan, AS saat ini memiliki pangkalan dengan 200 tentara, sementara saat Perang Dingin, Amerika memiliki 17 instalasi militer di Greenland dengan 10.000 tentara.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.