RM.id Rakyat Merdeka - Menandai 70 tahun Konferensi Asia Afrika (KAA), Kedutaan Besar Republik Indonesia di Beijing bersama Chinese People’s Institute of Foreign Affairs (CPIFA) menggelar Roundtable on Carrying Forward the Bandung Spirit pada Kamis (17/4) di Beijing.
Acara ini dibuka secara resmi oleh Duta Besar RI untuk China, Djauhari Oratmangun, dan Presiden CPIFA, Wang Chao. Kegiatan tersebut juga diikuti secara daring oleh Direktur Jenderal Informasi dan Diplomasi Publik Kementerian Luar Negeri RI, Dubes Siti Nugraha Mauludiah.
Dalam sambutannya, Dubes Djauhari menegaskan, semangat Bandung bukan sekadar dokumen sejarah, melainkan panduan yang semakin relevan menghadapi situasi global dewasa ini.
“Ketika dunia dihadapkan pada ketimpangan, proteksionisme, dan konflik geopolitik, maka nilai-nilai dasar Konferensi Bandung seperti kedaulatan, menentukan nasib sendiri, saling menghormati, dan kerja sama pembangunan menjadi semakin penting untuk dipedomani,” ujarnya.
Baca juga : Brantas Abipraya Targetkan Pembangunan Bendungan Jragung Selesai Tahun Ini
Ia menegaskan bahwa semangat Bandung bukanlah masa lalu, melainkan adalah jalan yang dipilih hari ini. Karena di tengah dunia yang penuh ketegangan dan ketimpangan, Semangat Bandung menurutnya adalah harapan.
“Bahwa dunia yang lebih setara bukan hanya angan-angan, melainkan tujuan yang bisa dicapai, jika kita berjalan bersama,” tandasnya.
Presiden CPIFA, Wang Chao, dalam sambutannya membacakan pesan tertulis dari Menteri Luar Negeri Tiongkok, Wang Yi. Pesan tersebut menekankan bahwa semangat Bandung kini semakin menemukan urgensinya.
“Dalam konteks dunia yang menghadapi krisis multilateralisme, semangat ini menjadi inspirasi untuk memperjuangkan ko-eksistensi damai, keterbukaan ekonomi, dan tata dunia yang lebih adil,” tulis Wang Yi.
Baca juga : Bamsoet Ajak Perkuat Persatuan dan Kesatuan Bangsa di Tengah Tantangan Global
Sementara itu, Dubes Siti Nugraha Mauludiah dalam paparannya menegaskan komitmen Indonesia untuk terus membawa semangat Bandung dalam pergaulan global, terutama melalui penguatan kerja sama Selatan-Selatan dan skema kerja sama segitiga (triangular cooperation).
Terkait hal ini, ia mengingatkan kembali capaian Indonesia tahun lalu melalui penyelenggaraan Indonesia–Africa Forum bertema Bandung Spirit for Africa’s Vision 2063. Forum tersebut berhasil menghasilkan kesepakatan konkret senilai lebih dari 3,5 miliar dollar Amerika Serikat, membuktikan bahwa semangat Selatan-Selatan tidak berhenti pada retorika, melainkan nyata di lapangan.
Staf Khusus Menko Polhukam, Dubes Imron Cotan, yang hadir sebagai pembicara kunci, menekankan pentingnya memperluas cakupan semangat Bandung. Ia menyatakan, semangat ini tidak boleh berhenti pada kerja sama Selatan-Selatan saja, namun juga harus membuka ruang dialog antara Utara dan Selatan.
Ia mendorong pembentukan koridor ekonomi strategis sebagai jembatan penghubung antara kedua kawasan.
Diskusi dalam forum ini juga menghadirkan sejumlah tokoh diplomasi dunia, antara lain Dubes U Thant Kyaw (Myanmar), mantan Menteri Luar Negeri Pakistan Khurshid Mahmud Kasuri, dan mantan Wakil Sekretaris Jenderal PBB, Dubes Wu Hongbo. Hadir juga Duta Besar dan perwakilan dari negara-negara peserta KAA 1950.
Baca juga : Pasca Lebaran, Menko Polkam Langsung Konsolidasikan Jajaran Hadapi Tantangan Eksternal
Mereka sependapat bahwa di tengah meningkatnya unilateralisme dan proteksionisme, semangat Bandung perlu diwujudkan dalam bentuk kerja sama konkret. Salah satunya melalui penguatan kerangka kerja regional seperti Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP) dan Comprehensive and Progressive Agreement for Trans-Pacific Partnership (CPTPP).
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.