RM.id Rakyat Merdeka - Wafatnya Pemimpin Tertinggi Gereja Katolik Dunia Paus Fransiskus dalam usia ke-88 tahun, membawa duka yang mendalam. Bukan hanya bagi umat Katolik, tetapi juga bagi masyarakat secara luas. Termasuk saya yang punya pengalaman langsung bersama Paus selama 12 hari.
Paus Fransiskus melakukan perjalanan apostolik ke negara-negara ASEAN dari 2-13 September 2024. Kunjungan tersebut meliputi Indonesia (3-6 September), Papua Nugini (6-9 September), Timor Leste (9-11 September), dan Singapura (11-13 September). Selama 12 hari itu, saya merasakan langsung kesederhanaan dan keramahan Paus.
Di dalam pesawat ITA Airways yang membawa kami dari Roma ke Jakarta, Paus Fransiskus menyapa satu per satu wartawan yang turut serta dalam perjalanan apostoliknya. Termasuk saya, yang duduk di bagian belakang pesawat.
Saat itu, jarak saya dengan Paus hanya sedepa. Setengah gugup, saya menyalami dan mencium tangannya. Dengan bahasa Inggris yang singkat, saya memperkenalkan diri sebagai seorang jurnalis muslim dari Indonesia.
Baca juga : Menko Polkam Koordinasikan Langkah Strategis Bersama Jajaran Terkait
“Selamat datang di Indonesia,” sambut saya.
Saya tambahkan, kunjungan Bapa Suci telah lama dinantikan, bukan hanya oleh umat Katolik, tetapi juga oleh masyarakat Indonesia yang mayoritas beragama Islam.
Sejujurnya, saat itu saya belum sepenuhnya yakin. Namun, selama empat hari mengikuti perjalanan Paus Fransiskus di Jakarta, semua keraguan itu hilang. Paus memang disambut hangat oleh semua kalangan
Dalam perjalanan singkat itu, tercermin seluruh filosofi hidupnya. Rendah hati, sederhana, dan dekat dengan umat. Membuat banyak orang dengan cepat jatuh hati.
Baca juga : Nasional Demokrat Target Mampu Menembus 3 Besar
Saya merasa sangat beruntung dan bangga bisa mengikuti perjalanan apostolik Paus pada 2–13 September 2024. Perjalanan ini dimulai dari Roma menuju Indonesia, lalu berlanjut ke Papua Nugini, Timor Leste, Singapura, dan kembali ke Roma. Total 12 hari.
Selama itu, saya menyaksikan langsung bagaimana sosok pemimpin spiritual dunia ini membawa pesan damai, kasih, dan kesederhanaan. Kesederhanaan yang tulus, bukan sekadar simbolik dan kosmetik.
Sebagai kepala negara, Paus Fransiskus sebenarnya berhak atas segala fasilitas super VVIP. Namun, ia memilih hidup sederhana. Di Vatikan, Paus memilih tinggal di kediaman sederhana di Rumah Santa Martha, dari pada di apartemen Istana Apostolik. Setiap perjalanan apostoliknya dilakukan dengan pesawat komersial, bukan jet pribadi.
Saat berkunjung ke Jakarta pun, Paus memilih menginap di Wisma Kedutaan Vatikan, bukan hotel berbintang lima. Ia juga menggunakan mobil biasa, seperti yang lazim digunakan rakyat kebanyakan. Karena itu, di sepanjang jalan, masyarakat menyambut dengan antusias. Warga berjejer di trotoar, melambaikan tangan, menyemut di pinggir jalan. Dan Paus membalas dengan senyum hangat dan lambaian tangan dari balik mobilnya yang sederhana.
Baca juga : Gerindra Jateng Yakin Prabowo Bisa 2 Periode
Bukan hanya sederhana, Paus Fransiskus juga dikenal sebagai sosok yang hangat dan pandai berguyon.
Saat itu, Paus melayani sesi tanya jawab dengan wartawan di dalam pesawat, dalam perjalanan dari Singapura ke Roma. Cuaca sempat tak bersahabat. Beberapa kali pesawat mengalami turbulensi. Bahkan, satu kali sang kapten menyampaikan imbauan agar penumpang tetap duduk dan mengenakan sabuk pengaman.
Di tengah sesi itu, seorang wartawan melontarkan pertanyaan yang cukup sensitif. Tak lama kemudian, pesawat kembali mengalami guncangan.
“Pertanyaan kamu bikin turbulensi,” ujar Paus yang langsung disambut gelak tawa semua yang hadir di kabin.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.