RM.id Rakyat Merdeka - Oleh: Dubes Rusia untuk Indonesia Sergei Tolchenov, Dubes Belarus untuk Indonesia Raman Ramanouski, Dubes Kazakhstan untuk Indonesia Serzhan Abdykarimov, dan Dubes Uzbekistan untuk Indonesia Oybek Eshonov
Tahun ini, kami memperingati 80 tahun Kemenangan atas Nazisme. Perang Dunia II atau yang lebih dikenal rakyat negara-negara pecahan Uni Soviet sebagai Perang Patriotik Raya, adalah salah satu perang yang paling berdarah dalam sejarah umat manusia.
Sekitar 27 juta warga negara Uni Soviet mengorbankan nyawa mereka dalam perjuangannya melawan Nazisme. Mereka memberikan kontribusi yang menentukan dalam menyelamatkan dunia dari penyebaran ideologi kebencian terhadap kemanusiaan.
Selama tiga tahun pertama yang panjang dan paling berat dalam Perang Patriotik Raya, seluruh republik bekas Uni Soviet praktis berjuang sendirian melawan kaum Nazi. Selagi menyusun rencana penaklukan, Nazi secara terbuka menyatakan niat mereka untuk memecah belah masyarakat dan menghancurkan negara. Namun hal itu tidak terjadi, terutama karena warga dari semua latar belakang kebangsaan bersatu di bawah panji perjuangan demi kebebasan dan kemerdekaan Tanah Air bersama dan memberikan pukulan telak kepada musuh.
Baca juga : Arsjad Ingatkan RI untuk Ambil Peluang di Tengah Perang Tarif
Merupakan kewajiban kita bersama untuk menjaga dengan penuh hormat kenangan sejarah akan peristiwa-peristiwa tragis tersebut, akan pengorbanan jutaan orang yang gugur demi perdamaian dan kemakmuran generasi mendatang.
Keberanian dan pengabdian mereka menjadi simbol kemenangan atas ideologi intoleransi dan kekerasan.
Solidaritas, saling percaya dan semangat gotong royong antarbangsa merupakan salah satu pelajaran paling berharga dari Perang Dunia II yang menjadi warisan tak ternilai dan tidak boleh hilang dalam situasi apa pun. Namun demikian, kita menyaksikan adanya kecenderungan untuk memutarbalikkan fakta sejarah, meninjau ulang hasil politik, hukum, dan moral dari perang tersebut, serta meremehkan kontribusi bangsa-bangsa Uni Soviet dalam mengalahkan Nazisme.
Dalam beberapa kasus, bahkan tindakan individu yang berkolaborasi dengan rezim Nazi dibenarkan, sementara kenangan tentang para pahlawan dan korban perang mengalami peninjauan ulang yang tidak berdasar. Upaya untuk merehabilitasi Nazisme dan penyangkalan atas kejahatan terhadap kemanusiaan yang telah dilakukan, tentu saja menimbulkan keprihatinan serius.
Baca juga : Wamenaker Jalan Santai Jelang Perayaan MayDay
Sesuai dengan putusan Pengadilan Nuremberg yang secara hukum mengukuhkan makna Kemenangan atas Nazisme, kejahatan yang dilakukan kaum Nazi dan para kolaboratornya tidak memiliki batasan waktu hukum (tidak bisa kedaluwarsa). Kami menganggap segala tindakan yang bertujuan menghancurkan atau menodai monumen dan makam pahlawan-para pejuang dari berbagai bangsa yang telah mengorbankan nyawa mereka di Altar Kemenangan, di mana pun monumen tersebut berada, sebagai tindakan yang tidak dapat diterima.
Menjaga sikap hormat terhadap warisan sejarah tetap menjadi elemen penting dalam kerja sama kemanusiaan internasional. Kami menyambut baik resolusi tahunan yang diterima Majelis Umum PBB yang berjudul “Memerangi pemuliaan Nazisme, neo-Nazisme dan bentuk-bentuk praktik lainnya yang berkontribusi terhadap peningkatan bentuk-bentuk rasisme modern, diskriminasi rasial, xenofobia, dan intoleransi yang terkait dengannya.”
Kami melihat dukungan luas terhadap dokumen penting ini, termasuk dari Republik Indonesia, sebagai konfirmasi tekad komunitas internasional untuk tidak membiarkan terulangnya kesalahan tragis masa lalu dan membangun masa depan berdasarkan prinsip persatuan.
Hari Kemenangan adalah hari yang sejatinya milik rakyat, sebuah hari yang suci. Ini adalah hari yang sangat emosional bagi kita semua. Hari ini, kami mengheningkan cipta untuk mengenang semua orang yang nyawanya terenggut oleh Perang Patriotik Raya, mengenang saudara-saudara kita dan menghormati para pahlawan kita.
Baca juga : Perkuat Literasi Keuangan, Jasaraharja Putera Gandeng UIN Suska Riau
Hari Kemenangan mempersatukan kita. Kami yakin bahwa penghormatan terhadap kenangan masa lalu dan keinginan untuk mencapai perdamaian tetap menjadi tiang utama bagi masa depan yang stabil dan aman.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.