Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
RM.id Rakyat Merdeka - Direktur Eksekutif The Yudhoyono Institute Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) mengingatkan, dunia saat ini berada di ambang bahaya besar. Kebijakan tarif tinggi Presiden Amerika Serikat Donald Trump bisa menyebabkan perang tarif ke banyak negara.
Peringatan itu disampaikan AHY saat membuka diskusi panel The Yudhoyono Institute bertajuk “Dinamika dan Perkembangan Dunia Terkini: Geopolitik, Keamanan dan Ekonomi Global”, Jakarta, Minggu (13/4/2025). Acara ini menghadirkan para tokoh ekonomi, akademisi, dan tokoh lintas sektor yang peduli terhadap masa depan dunia.
Dalam pidatonya, AHY mengkritisi kebijakan proteksionis Trump yang kembali memanaskan tensi dunia, terutama lewat tarif impor tinggi yang dijatuhkan ke sejumlah negara, termasuk Indonesia.
Baca juga : Puji Strategi Pemerintah Hadapi Tarif Trump, SBY: Langkah Negosiasi Lebih Tepat
“Tarif 32 persen itu bukan angka kecil. Dan itu baru ke Indonesia. Tiongkok lebih parah—langsung dibalas, perang tarif meletus. Akibatnya? Dunia makin panas,” tegasnya.
Menurut data WTO dan IMF yang dikutip AHY, perang dagang 2018–2020 sudah bikin perdagangan dunia jeblok 3 persen dan GDP global turun 0,8 persen. Sekarang, katanya, eskalasi terbaru justru lebih gawat. “Risiko resesi global melonjak tajam. Ini bukan opini, bukan hoaks. Ini fakta baru dunia,” tandasnya.
AHY melihat dua skenario ekstrem yang bisa terjadi. Pertama, negara-negara melawan dominasi AS dengan membentuk blok ekonomi baru. Kedua, dunia makin tunduk pada satu kekuatan hegemonik, Amerika Serikat.
Baca juga : Tak Ciut Hadapi Ancaman Tarif Tambahan AS, China Pastikan Berjuang Sampai Akhir
“Kita menghadapi risiko fragmentasi global. Bukan hanya ekonomi, tapi juga politik dan keamanan. Aliansi baru akan muncul, polarisasi makin tajam, konflik lama bisa meledak kapan saja,” ujar Ketua Umum Partai Demokrat itu.
AHY mengingatkan, kawasan Asia Pasifik termasuk Indonesia akan menjadi panggung utama rivalitas ini. Ia pun mengapresiasi langkah Presiden Prabowo Subianto yang melakukan dual track diplomacy—satu kaki negosiasi ke Washington, satu kaki menjalin komunikasi intensif dengan ASEAN dan pemimpin dunia lainnya.
“Ini diplomasi yang adaptif, tanggap. Bukan reaktif, tapi juga nggak pasif,” ucap AHY memberi pujian.
Baca juga : Soal Tarif Trump, Hikmahanto: Indonesia Tak Perlu Kirim Tim Negosiasi
Putra sulung Presiden RI ke-6 itu menyebut setelah perang tarif ini, relasi internasional kini tak lagi dibangun atas dasar kesetaraan dan kepercayaan, tapi dominasi satu pihak atas yang lain. Dunia harus bersiap.
"Dunia harus bersiap dengan skenario terburuk, pecahnya perang terbuka di sejumlah kawasan,” tandasnya.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya