BREAKING NEWS
 

Presiden AS Donald Trump Umumkan Rencana Pencabutan Sanksi Untuk Suriah

Reporter & Editor :
FIRSTY HESTYARINI
Rabu, 14 Mei 2025 08:13 WIB
Presiden AS Donald Trump saat berpidato di acara Arab Saudi-AS Investment Forum di Riyadh, Selasa (13/5/2025). (Foto: Instagram @potus)

RM.id  Rakyat Merdeka - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengumumkan rencana untuk mencabut sanksi terhadap Suriah setelah jatuhnya rezim Bashar al Assad pada Desember 2024, Selasa (13/5/2025).

Trump mengatakan, langkah tersebut akan memberi Suriah kesempatan untuk menjadi lebih hebat.

Pencabutan sanksi tersebut merupakan kemenangan signifikan bagi pemerintah Suriah yang dipimpin oleh Ahmed al-Sharaa, yang sukses merebut kekuasaan dari Assad.

Hal ini kemungkinan akan dilihat sebagai pukulan bagi pemerintah Israel, yang meningkatkan kemajuan militer dan teritorial di Suriah setelah jatuhnya Assad.

Dalam sambutannya di forum investasi Saudi di Riyadh, Trump menuturkan, keputusan tersebut dibuat setelah berdiskusi dengan Putra Mahkota Saudi Mohammed bin Salman dan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan.

“Suriah telah mengalami banyak tragedi, perang, pembunuhan selama bertahun-tahun. Itulah sebabnya, pemerintahan saya telah mengambil langkah untuk memulihkan hubungan normal antara Amerika Serikat dan Suriah, pertama kalinya dalam lebih dari satu dekade,” ungkap Trump, seperti dikutip CNN International.

Baca juga : Presiden AS Donald Trump Panen Kritikan Usai Posting Gambar AI Jadi Paus

"Akhir pekan ini, Menteri Luar Negeri Marco Rubio diperkirakan akan bertemu dengan Menteri Luar Negeri Suriah di Turki," imbuhnya.

Trump berharap, pemerintahan baru Suriah dapat menstabilkan negara dalam upaya menjaga perdamaian.

Presiden Suriah baru, al-Sharaa sebelumnya mendirikan kelompok militan yang dikenal sebagai Jabhat al-Nusra, atau Front Kemenangan dalam bahasa Inggris, yang berjanji setia kepada al Qaeda.

Namun, menurut informasi Pusat Analisis Angkatan Laut AS, al-Sharaa memisahkan diri dari kelompok teror tersebut pada tahun 2016.

Trump diperkirakan akan menyambut al-Sharaa secara informal di Riyadh pada Rabu (14/5/2025).

Adsense

AS belum secara resmi membangun kembali hubungan diplomatik atau mengakui pemerintah al-Sharaa. Namun, kabar yang beredar menyebutkan, telah ada keterlibatan tingkat rendah.

Baca juga : Pengamat: Dasco Tunjukkan Gaya Kepemimpinan DPR yang Aspiratif

Menteri Luar Negeri Suriah, Asaad Al-Shaibani, menyambut baik berita tentang pencabutan sanksi AS.

"Kami melihat pencabutan sanksi sebagai awal baru dalam perjalanan menuju rekonstruksi,” tulis Al-Shaibani di platform media sosial X.

"Berkat sikap saudara-saudara Arab kami — terutama Arab Saudi — kami membuka babak baru menuju masa depan yang layak bagi rakyat Suriah dan sejarah mereka," lanjutnya.

Utusan khusus PBB untuk Suriah, Geir Pedersen juga menyambut baik pengumuman tersebut. Dalam pandangannya, pencabutan sanksi sangat penting untuk memungkinkan penyediaan layanan penting seperti perawatan kesehatan dan pendidikan, serta menghidupkan kembali ekonomi.

Langkah AS tersebut dilakukan setelah Inggris dan Uni Eropa mencabut sebagian sanksi mereka terhadap Suriah pada awal tahun ini.

Di Capitol Hill, para senator utama di Komite Hubungan Luar Negeri Senat — Jim Risch dari Partai Republik dan Jeanne Shaheen dari Partai Demokrat — mendorong langkah tersebut sebelum Trump memulai lawatan ke negara Teluk.

Baca juga : Ignasius Jonan Hadiri Misa Dan Beri Penghormatan Terakhir Untuk Paus Fransiskus

Dalam pernyataan yang diterbitkan pada Selasa (13/5/2025), Shaheen mengaku terdorong oleh pengumuman Trump dan langkah cepatnya untuk mengkoordinasikan Departemen Luar Negeri kedua negara agar kesempatan Suriah lepas dari sanksi tidak tertutup. 

Senator Republik Lindsey Graham, sekutu dekat Trump, memberikan tanggapan yang lebih terkendali.

"Saya sangat cenderung mendukung pencabutan sanksi bagi Suriah dalam kondisi yang tepat. Namun, kita harus ingat bahwa kepemimpinan Suriah saat ini dicapai kekuatan senjata. Bukan lewat suara rakyat," kata anggota parlemen Carolina Selatan tersebut.

"Saya akan membahas masalah ini dengan sekutu kami di Turki. Kami akan menjaga koordinasi yang sangat erat dengan sekutu kami di Israel, sehingga dapat sepenuhnya memahami implikasi dari keringanan sanksi," sambungnya.

 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense