BREAKING NEWS
 

Sepakat Pangkas Tarif Barang Selama 90 Hari

Perang Dagang AS-China Reda, Pasar Dunia Tenang

Reporter : LARASATI DYAH UTAMI
Editor : MELLANI EKA MAHAYANA
Kamis, 15 Mei 2025 04:05 WIB
Presiden AS Donald Trump (kiri) dan Presiden China Xi Jinping. (Foto Kolase IG)

 Sebelumnya 
Meski demikian, ketegangan belum sepenuhnya hilang. Negeri Paman Sam masih memasang tarif tambahan untuk bahan kimia dari China yang dipakai membuat fentanyl.

Adsense

Tarif tambahan AS untuk fentanyl sebesar 20 persen. AS selalu menuding narkotika mematikan itu banyak masuk dari China. Walaupun tudingan tersebut sudah dibantah China berulang kali. Beijing meminta Washington berhenti menyalahkan mereka.

Pengamat menilai, kesepakatan ini membuat pasar sedikit tenang, meski ketidakpastian masih tinggi. Sebab, tarif bisa kembali diberlakukan setelah masa 90 hari berakhir. Setelah itu, tarif masih bisa naik lagi dan perang dagang berlanjut.

Baca juga : Perang Dagang Mereda, Perang Rudal Menggila

“Pengurangan tarif lebih lanjut akan sulit dan risiko eskalasi baru terus berlanjut,” kata Kepala Ekonom di The Economist Intelligence Unit, Yue Su.

Kedua negara sebenarnya telah mengalami kerugian ekonomi cukup besar akibat perang dagang ini. Ekonomi AS terkena imbas karena banyak perusahaan bergantung dengan barang dari China. Sementara ekonomi China juga lesu karena krisis properti dan lemahnya belanja.

Siap Tinggalkan Boeing

Akibat perang dagang ini, China siap meninggalkan produsen pesawat AS, Boeing, kapan saja. Bahkan tidak takut membuat pesawat sendiri.

Baca juga : India Vs Pakistan, Perang Rudal China-Rusia Vs AS

Menurut Konsultan Penerbangan asal Singapura Shukor Yusof, keputusan China menghentikan sementara pembelian pesawat dari Boeing membuat heboh jagat kedirgantaraan.

Banyak yang berpikir ini keputusan nekat. Tapi Yusof menilai, China sudah memikirkan keputusan ini matang-matang. China juga meminta Commercial Aircraft Corporation of China (COMAC), pabrik pesawat lokalnya, berhenti membeli suku cadang dari AS. Padahal, sebagian besar suku cadangnya dari AS.

Bagi China, ini bukan cuma soal bisnis, tapi soal harga diri. Negeri Tirai Bambu tidak mau terus-terusan tergantung dengan Barat. Meski Boeing bukan pihak yang menyebabkan perang tarif, mereka tetap kena imbasnya.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense