Dark/Light Mode

Ini Kata Pemimpin Dunia Soal Tarif Impor AS Yang Bisa Picu Perang Dagang Merusak

Kamis, 3 April 2025 10:04 WIB
Dari kiri: PM Kanada Mark Carney, Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen, Plt Presiden Korsel Han Duck-Soo, dan PM Australia Anthony Albanese. (Foto: Istimewa)
Dari kiri: PM Kanada Mark Carney, Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen, Plt Presiden Korsel Han Duck-Soo, dan PM Australia Anthony Albanese. (Foto: Istimewa)

RM.id  Rakyat Merdeka - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump telah mengumumkan tarif impor baru terhadap seluruh negara di dunia, Rabu (2/4/2025). China yang merupakan rival dagang utama, dijatuhkan tarif 34 persen. Uni Eropa 20 persen, Indonesia 32 persen, Kamboja 49 persen, dan Vietnam 46 persen.

Selebihnya, dikenai tarif universal 10 persen yang akan berlaku mulai 5 April mendatang.  

Penetapan tarif ini tentu saja membikin negara-negara geram. Ada yang berencana meluncurkan tindakan balasan, ada pula yang mencoba untuk melakukan negosiasi.

Berikut tanggapan pemimpin global, terkait tarif impor baru Trump, seperti dilansir BBC:

China

Kementerian Perdagangan China mendesak AS untuk segera mencabut tindakan tarif sepihak, dan menyelesaikan sengketa perdagangan dengan benar melalui dialog yang setara dengan mitra-mitranya.

Baca juga : STY Kembali Ke PSSI? Exco Klarifikasi Rumor Yang Bikin Heboh Netizen Di Medsos

"China dengan tegas menentang tindakan ini. China akan mengambil tindakan balasan yang tegas untuk melindungi hak dan kepentingannya," kata seorang juru bicara.

China sepertinya menjadi negara yang paling terpukul setelah pengumuman Trump, karena dijatuhkan tarif tambahan sebesar 34 persen yang dikenakan pada semua barang China,  di atas 20 persen yang telah dikenakan.

Kanada

Perdana Menteri (PM) Kanada Mark Carney memastikan, Kanada akan melawan tarif Trump dengan tindakan balasan. "Sangat penting untuk bertindak dengan tujuan dan kekuatan. Itulah yang akan kami lakukan," kata Carney.

Seperti halnya Meksiko, meski dikecualikan dari tarif timbal balik yang diumumkan Trump pada Rabu (2/4/2025), Kanada masih dikenai tarif 25 persen untuk barang yang tidak tercakup dalam Perjanjian Perdagangan Bebas Amerika Serikat-Meksiko-Kanada (USMCA) yang telah diumumkan sebelumnya.

Uni Eropa 

Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen saja memperingatkan, tarif Trump akan memberikan pukulan besar bagi ekonomi dunia. Mengerikan bagi jutaan orang di seluruh dunia.

Baca juga : Bikin Mudik Makin Seru, Tukarkan Poin MyPertamina Dengan Merchandise Eksklusif

"Eropa bersama-sama menghadapi hal ini. Jika Anda melawan salah satu dari kami, berarti Anda melawan kami semua. Persatuan kita adalah kekuatan kita," kata von der Leyen.

Italia

PM Italia Giorgia Meloni menilai langkah Trump menetapkan tarif impor global sebagai sesuatu yang salah. Menurutnya, kebijakan tersebut dapat memicu perang dagang.

"Kami akan melakukan apa pun yang kami bisa, untuk mencapai kesepakatan dengan AS. Perang dagang yang melemahkan Barat demi kepentingan aktor global lainnya, harus dicegah," kata Meloni dalam pernyataannya.

Australia

PM Australia Anthony Albanese menilai keputusan Trump mengenakan tarif 10 persen pada negara sekutu, tidak memiliki dasar logika dan bertentangan dengan dasar kemitraan Australia-AS.

"Ini bukan tindakan seorang teman," cetusnya.

Korea Selatan

Baca juga : Sapa Pemudik Di Tol Kalikangkung, Kapolri Pesan Utamakan Keselamatan

Plt Presiden Korea Selatan Han Duck-Soo mengatakan, perang dagang global telah menjadi kenyataan. "Karena itu, pemerintah harus mengerahkan semua kemampuan untuk mengatasi krisis perdagangan," kata Han.

Untuk diketahui, dalam tarif resiprokal yang baru diumumkan Trump, Korea Selatan dikenai tarif 25 persen.

Brazil

Dalam pernyataannya, pemerintah Brazil mengatakan, pihaknya sedang mengevaluasi semua tindakan yang dapat dilakukan, untuk memastikan timbal balik dalam perdagangan bilateral. "Termasuk, menggunakan Organisasi Perdagangan Dunia untuk membela kepentingan nasional yang sah," demikian bunyi pernyataan tersebut.

Kolombia

Kolombia yang dikenai tarif 10 persen, juga ikut bersuara. 

"Kami sedang mempertimbangkan langkah-langkah, terutama untuk melindungi industri nasional dan eksportir kami," kata Menteri Luar Negeri Kolombia, Laura Sarabia.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.