RM.id Rakyat Merdeka - Serangan Israel yang menyasar jurnalis Al-Jazeera di Gaza, Palestina, pekan lalu, menjadi sorotan dunia. Negeri zionis telah melakukan pembungkaman atas suara kebenaran yang terjadi di wilayah itu.
Lima jurnalis Al-Jazeera tewas dalam serangan udara Israel di dekat Rumah Sakit Al-Shifa. Salah satu korban adalah Anas al-Sharif, yang paling dikenal dari liputan perang Gaza. Mereka sedang berada di tenda media saat serangan terjadi.
Israel mengklaim bahwa Anas al-Sharif adalah anggota Hamas. Tuduhan itu telah dibantah Al-Jazeera dan komunitas jurnalis internasional.
“Pembunuhan tersebut adalah upaya putus asa untuk membungkam suara-suara yang mengungkap rencana pendudukan dan perampasan wilayah Gaza yang akan datang,” tulis Al-Jazeera.
“Anas dan rekan-rekannya merupakan salah satu dari suara-suara terakhir yang masih bertahan dari dalam Gaza. Memberikan laporan langsung tanpa sensor kepada dunia mengenai kenyataan mengerikan yang dialami rakyat Gaza,” lanjut pernyataan itu.
Menurut Committee to Protect Journalists (CPJ), sejak perang Gaza dimulai pada Oktober 2023, sebanyak 184 jurnalis dan pekerja media Palestina telah tewas. Sebagai perbandingan, jumlah korban jurnalis dalam perang Rusia-Ukraina adalah 18 orang.
Baca juga : Diguyur Hujan Deras, 3 Jalan Di Jakarta Barat Kebanjiran Hingga 50 Cm
Dilansir Associated Press, Selasa (12/8/2025), seorang eksekutif Al- Jazeera menyatakan bahwa mereka tidak akan mundur dari liputan di Gaza. Dia juga menyerukan agar organisasi media lain merekrut lebih banyak jurnalis untuk memastikan dunia tetap mendapat informasi dari lapangan.
Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (Sekjen PBB) Antonio Guterres mengecam keras pembunuhan lima jurnalis tersebut. Guterres menegaskan, serangan tersebut sebagai pelanggaran serius terhadap hukum internasional dan kebebasan pers.
Juru Bicara Sekjen PBB Stephane Dujarric mengatakan, jurnalis seharusnya dapat menjalankan pekerjaan di mana saja. Dia mendesak perlindungan dan akses kebebasan pers bagi pekerja media.
“Pekerja media seharusnya dapat menjalankan pekerjaan mereka tanpa adanya pelecehan, intimidasi maupun takut menjadi sasaran pembunuhan,” tegas Dujarric.
Selain Anas al-Sharif, jurnalis
lain yang jadi korban adalah Mohammed Qareqea, dua kameramen bernama Ibrahim Zaher dan Moamen Aliwa, serta pengemudi kru bernama Mohammed Nofal.
Baca juga : Ribuan Warga Padati Masjid Istiqlal Ikuti Zikir Kebangsaan Dan Ikrar Bela Negara
Militer Israel mengaku bertanggung jawab atas serangan yang menargetkan secara langsung para jurnalis.
Pembunuhan ini terjadi bersamaan dengan pernyataan Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu yang berjanji akan mulai mengizinkan jurnalis asing masuk ke Gaza. Namun, Ketua studi Timur Tengah di University of San Francisco Stephen Zunes menyatakan, serangan terhadap awak Al Jazeera ini justru mengirim pesan ancaman kepada jurnalis internasional.
“Mungkin pembunuhan ini sinyal bahwa siapa pun yang melaporkan hal kritis akan menghadapi konsekuensi,” kata Zunes.
“Ini jelas ancaman tersirat, terutama ketika sesuatu yang begitu jelas ditargetkan terjadi tepat saat Anda mengundang lebih banyak jurnalis ke zona perang,” tegasnya.
Tragedi ini juga memicu kembali tekanan terhadap Pemerintah Amerika Serikat (AS) untuk mengakhiri dukungan kepada Israel. Menurut Zunes, rakyat AS mulai sadar atas situasi kemanusiaan yang terjadi di Palestina.
“Saya telah menangani isu Palestina dan kebijakan AS selama lebih dari 40 tahun. Saya benar-benar melihat adanya perubahan sikap. Pembunuhan ini, setidaknya di tingkat masyarakat sipil, hanya akan menambah tekanan kepada AS untuk menghentikan cek kosong kepada Israel di tengah kekejaman, termasuk genosida,” jelas Zunes.
Baca juga : Muhaimin Maksimalkan Ketahanan Kaum Muda
Kekerasan terus meningkat di Gaza. Sejak 7 Oktober 2023, serangan militer Israel telah menewaskan lebih dari 61.000 orang dan melukai lebih dari 150.000 lainnya di Gaza.
Insiden terbaru ini semakin memperjelas kebutuhan mendesak akan akuntabilitas, perlindungan terhadap jurnalis dan tekanan global untuk menghentikan pembungkaman informasi di wilayah konflik.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.