Dark/Light Mode

Mempersiapkan Kiblat Baru Peradaban Dunia Islam (6)

Antara Kontinuitas dan Orisinalitas

Sabtu, 19 Juli 2025 05:52 WIB
Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar, MA
Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar, MA
Tausiah Politik

RM.id  Rakyat Merdeka - Islam tidak dilahirkan di dalam ruang kosong yang hampa budaya dan peradaban. Islam lahir di dalam sebuah dunia yang sudah sarat dengan budaya dan peradaban.

Nabi Muhammad SAW sebagai pembawa ajaran Islam tidak pernah mengklaim sebagai perintis budaya dan peradaban yang sama sekali baru. Ia bahkan dengan tawadhu mengatakan dalam sebuah hadist: “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak mulia” (innama bu’itstu li utammim makarim al-akhlaq). Ia tidak pernah menolak budaya dan peradaban dari luar. Ia juga tidak pernah mematenkan budaya dan peradabannya yang dirasa positif untuk kemanusiaan.

Baca juga : Peradaban Islam: Iqra’ bi Ism Rabbik (Bagian 3)

Ia menyerukan untuk mengejar pengetahuan walau sampai ke tanah Cina (utulub al-‘ilm wa lau bis Shin). Ia juga mengatakan: “Hikmah (peradaban) adalah milik umat Islam, ambillah di manapun kalian temukan” (al-hikmah dhalah al-mu’min fahaitsu wajadaha fa huwa ahaq biha). Al-Qur’an juga sejak awal menyerukan pentingnya memelihara kontinutas budaya dan peradaban.

Segala sesuatu yang positif pada umat-umat terdahulu harus dilestarikan, karena dengan tegas dikatakan: “Kami tidak membeda-bedakan antara seseorang pun (dengan yang lain) dari rasul rasul-Nya” (la nufarriq baina ahadin min rusulih) (QS Al-Baqarah/ 2:285).

Baca juga : Peradaban Islam: Iqra’ bi Ism Rabbik (Bagian 2)

Dengan demikian, pola imitative budaya dan peradaban dalam Islam harus dianggap sebagai sesuatu yang niscaya. Mungkin inilah yang dipopulerkan Umar ibn Khaththab sebagai bid’ah hassanah, sebuah kelanjutan tradisi yang konstruktif. Jika kita berbicara tentang kebudayaan dan peradaban Islam berarti kita berbicara tentang tradisi luhur kemanusiaan yang diwarisi secara kumulatif dari zaman ke zaman.

Kebudayaan dan peradaban (civilization/ al-hadharah) Islam bukanlah sesuatu yang berdiri sendiri dan terpisah dengan budaya dan peradaban sebelumnya. Soal kehadiran Islam memberikan corak dan warna baru memang ia dan hal ini sulit diingkari.

Baca juga : Peradaban Islam: Iqra’ bi Ism Rabbik (Bagian 1)

Di manapun dan sejak kapapun dalam lintasan sejarah kemanusiaan, selalu ada sintesa dan imitasi budaya dan peradaban. Hal ini lumrah dan wajar, karena bukankah pada mulanya anak manusia ini berasal dari sepasang kakek dan nenek (Adam dan Hawa)?
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.