BREAKING NEWS
 

Mustafa Barghouti Tolak Relokasi Warganya

Palestina Apresiasi Bantuan RI Ke Gaza

Reporter : LARASATI DYAH UTAMI
Editor : MELLANI EKA MAHAYANA
Sabtu, 6 September 2025 04:05 WIB

RM.id  Rakyat Merdeka - Indonesia kedatangan seorang politisi Palestina yang juga calon Presiden Palestina tahun 2005, Mustafa Barghouti, Selasa (2/9/2025). Dalam kesempatan ini, Barghouti menyampaikan apresiasi atas kepedulian dan bantuan kemanusiaan Indonesia bagi warga Gaza yang menjadi korban perang.

Kendati begitu, dia mengusulkan bantuan sebaiknya diwujudkan dalam bentuk pembangunan fasilitas kesehatan di Gaza. Bukan dengan memindahkan korban ke luar negeri.

Barghouti adalah Sekretaris Jenderal (Sekjen) Partai Palestinian National Initiative (PNI) atau al-Mubadara. Pria kelahiran Yerusalem tahun 1954 itu juga salah satu penggerak utama persatuan nasional dan reformasi demokratis Palestina.

Baca juga : Merah Putih Raksasa di Laut Wakatobi, Pertamina Patra Niaga Meriahkan HUT RI

“Kami berterima kasih kepada Indonesia atas solidaritasnya. Tetapi kami menolak segala bentuk relokasi. Rakyat Palestina ingin tetap berada di Tanah Airnya,” kata Barghouti pada konferensi pers yang diselenggarakan di Hotel Sofyan Jakarta.

Pernyataan itu menanggapi rencana Pemerintah menyiapkan Pulau Galang di Kepulauan Riau sebagai pusat pengobatan bagi 2.000 warga Gaza yang terluka. Barghouti menegaskan, relokasi warga Palestina keluar dari Gaza berpotensi dipelintir sebagai upaya Israel mengusir rakyat Palestina secara permanen.

Adsense

“Sebagai orang Palestina, kami tidak menerimanya. Karena kami yakin, meski Israel mengatakan akan membiarkan mereka yang pergi bisa kembali, nyatanya mereka tidak akan diperbolehkan kembali,” ujar politikus yang juga dokter itu.

Baca juga : Gubernur Papua Tengah Apresiasi Bakti Sosial Kesehatan Mata Freeport Indonesia

Mereka berkaca pada peristiwa Nakba pada tahun 1948. Kala itu, rakyat Palestina diusir dari tanah mereka dan tidak diizinkan untuk kembali.

Sebagai informasi, Pulau Galang pada masa Orde Baru, menjadi kamp pengungsian lebih dari 250.000 manusia perahu asal Vietnam hingga tahun 1996. Saat pandemi Covid-19, Pemerintah juga mendirikan Rumah Sakit Khusus Infeksi (RSKI) di lokasi ini.

Lebih lanjut Barghouti menyatakan, faksi-faksi Palestina dan masyarakat sipil Palestina kini fokus pada keteguhan dan bertahan hidup, serta menghentikan genosida dengan segala cara. Namun sejumlah kesepakatan maupun rekonsiliasi belum sampai pada titik yang dapat menggagalkan proyek Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu yang ingin memisahkan Gaza dari Tepi Barat dan menganeksasi Gaza.

Baca juga : Kolaborasi Antarlembaga Solid, Presiden Apresiasi Program 3 Juta Rumah

“Netanyahu tidak mau Hamas, tidak mau Fatah, tidak mau siapa pun. Dia hanya ingin menguasai Gaza dan menjadikannya bagian dari Israel,” tegasnya.

Namun, Barghouti optimistis Palestina akan menemui titik terang. Bahkan, dia berharap bisa menemui Presiden Prabowo Subianto saat menghadiri Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mendatang.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense