RM.id Rakyat Merdeka - Selama 10 tahun terakhir, peranan Indonesia di Pasifik semakin meningkat. Itulah pandangan Duta Besar (Dubes) Selandia Baru untuk Indonesia Phillip Nathan Taula saat membuka diskusi santai di kediamannya di Pakubuwono Residence, Jakarta, Selasa (30/9/2025).
"Kita harapkan pengaruh Indonesia dirasakan oleh seluruh negara Pasifik," sambungnya, dikutip dari keterangan tertulis Kedutaan Besar Selandia Baru, Rabu (1/10/2025).
Diskusi yang berlangsung akrab tersebut dihadiri wakil dari kedua negara yang mewakili kalangan Pemerintah, akademisi, think-tank dan periset. Sehubungan dengan peningkatan peranan Indonesia tersebut, Dubes yang pernah bertugas di Jakarta pada 1999-2002 itu menghendaki kerja sama yang lebih erat antara pemerintah, akademisi dan pihak swasta.
Guru Besar Hubungan Internasional dan Direktur Pusat Studi Kawasan Strategis Universitas Victoria di Wellington Prof. David Capie menyatakan, deskripsi tentang kawasan Pasifik yang sangat unik.
"Isu-isu Pasifik penting karena memiliki implikasi signifikan bagi keamanan global, perdagangan, dan pertumbuhan ekonomi," ujar Capie.
Stabilitas dan keamanan kawasan ini, lanjutnya, krusial untuk menjaga ketertiban internasional dan mencegah konflik. Potensi ekonomi dan kepentingan strategis Indo-Pasifik menjadikannya kawasan vital bagi negara-negara untuk terlibat dan berinvestasi.
Dia menambahkan, mengingat Indonesia dan Selandia Baru telah memperkuat kerja sama bilateralnya di berbagai bidang, hubungan serta kerja sama ini dapat diteruskan di kawasan Indo-Pasifik, dengan fokus pada beberapa bidang utama antara lain perdagangan dan investasi.
Baca juga : Indonesia–Kirgizstan Jalin Kerja Sama Kembangkan Industri Halal
Di bidang perdagangan, kedua negara telah meningkatkan volume perdagangan, dengan target baru sebesar 6 miliar dolar Selandia Baru pada 2029, naik dari 4 miliar dolar Selandia Baru pada 2024. Khusus mengenai ivestasi, permintaan Indonesia mengundang investasi Selandia Baru mendapat perhatian serius di Kabinet Selandia Baru di sektor-sektor seperti pengolahan susu, energi panas bumi, dan ketahanan pangan.
Selanjutnya Prof. Natasha Hamilton-Hart dari Universitas Auckland menyatakan, potensi dan tantangan dan dipilih bidang mana yang merupakan prioritas. Mulai dari masalah ekonomi, perubahan iklim dan masalah politik keamanan. Disebutkan juga, Skema Pekerjaan Musiman Regional Selandia Baru akan memungkinkan pekerja Indonesia untuk bekerja di sektor pertanian Selandia Baru.
Sementara itu, mantan Dubes Indonesia untuk Selandia Baru Tantowi Yahya menyatakan, Pasifik merupakan kawasan yang strategis dan penting, baik secara geopolitik maupun ekonomi. Diplomat yang pernah menjadi Roving Ambassador atau Dubes Keliling untuk Pasifik itu meyakini, Indonesia dapat menjadi jembatan antara kawasan Pasifik dengan ASEAN dan kawasan lainnya.
Misalnya, terangnya, Pemerintah Indonesia memprakarsai festival budaya Melanesia Indonesia (Melindo). Pasalnya, Indonesia disebut-sebut memiliki populasi Melanesia sebesar 11 juta jiwa, yang tersebar di Papua, Maluku, dan Nusa Tenggara Timur.
Sebagai diplomat yang pernah bertugas di Negeri Kiwi itu, Tantowi telah terlibat langsung dalam diplomasi Indonesia di Selandia Baru, Samoa, dan Tonga, serta Duta Besar Keliling untuk Pasifik.
"Saat ini yang paling mendesak adalah kerja sama di bidang transportasi mengingat jarak kepulauan satu dengan yang lainnya yang membentang cukup luas," terang Tantowi.
Dia memandang Samudera Pasifik sebagai kawasan yang akan menjadi arah kebijakan geopolitik, ekonomi dan sosial di masa mendatang, di mana berbagai aktivitas akan terpusat di kawasan tersebut.
Baca juga : 140 Polisi Indonesia Diterjunkan Dalam Misi PBB Di Afrika Tengah
Dubes Tantowi meletakkan dasar argumentatif pandangannya itu pada letak geografis kawasan tersebut dan adanya minat yang besar dan terus meningkat dari negara-negara besar terhadap kawasan tersebut.
"Bagi saya ini sangat menarik. Mengapa? Karena Indonesia memang bagian dari Pasifik," tegasnya.
Dia menjelaskan, ada beberapa alasan mengapa suatu negara terhubung dengan suatu kawasan. Di antaranya karena hubungannya secara geografis, budaya, sosial, politik dan ekonomi.
"Kita terhubung dengan Pasifik melalui lautan. Kita adalah bagian dari Pasifik," sambungnya.
Menambahkan, Ketua Pengurus Indonesian Council on World Affairs (ICWA) T.M. Hamzah Thayeb menjelaskan, upaya untuk mengakrabkan Indonesia dan Selandia Baru dapat dilakukan dengan saling tukar pelajar. Sementara, Direktur Oseania Pasifik Kementerian Luar Negeri (Kemlu) Adi Dzulfuat mengatakan, kerja sama Indonesia Indonesia hadir di negara-negara kawasan Pasifik dengan program kemitraan pembangunan seperti pemberian dana hibah dan proyek pembangunan.
“Kerja sama itu diperkuat karena Indonesia pernah membangun stadion di Salomon Island, pembangunan fasilitas publik seperti pemadam kebakaran di Vanimo, Papua Nugini, serta renovasi sekolah di Wutung, Papua Nugini,” ujarnya.
Mantan Dubes RI untuk Swedia Bagas Hapsoro selaku anggota ICWA juga menambahkan, dialog Pasifik seperti ini secara signifikan meningkatkan kerja sama regional, membantu negara-negara Pasifik bersama-sama mengatasi tantangan global krusial seperti perubahan iklim, pandemi, dan munculnya teknologi baru.
Baca juga : Diaspora Indonesia Rela Tempuh Perjalanan Jauh Demi Sambut Prabowo
”Hubungan antara ASEAN dan Selandia Baru merupakan model kemitraan yang berkelanjutan," ujarnya.
Menurut catatan Sekretariat ASEAN, sambungnya, sejak Selandia Baru menjadi Mitra Wicara ASEAN pada 1975, hubungan terus menguat dan meluas di ketiga pilar Komunitas ASEAN, yaitu bidang polkam, ekonomi dan sosial budaya. Tahun ini akan menandai peringatan 50 tahun hubungan ASEAN-Selandia Baru.
Tonggak-tonggak penting dalam perjalanan ini antara lain aksesi Selandia Baru ke dalam Perjanjian Persahabatan dan Kerja Sama (TAC) pada 2005 dan pembentukan perwakilannya untuk ASEAN pada akhir 2015.
Dalam kerangka kemitraan kedua negara, menurut statistik Kementerian Perdagangan RI berupaya memperkuat hubungan perdagangan dengan Selandia Baru melalui rencana aksi 2025-2029. Targetnya adalah mencapai nilai perdagangan bilateral sebesar 3,6 miliar dolar AS.
Indonesia dan Selandia Baru telah menjalin hubungan perdagangan sejak lama. Sepanjang 2024, total perdagangan keduanya mencapai 1,91 miliar dolar AS, dengan nilai ekspor Indonesia naik 15 persen dibandingkan 2023, yakni 680 juta dolar AS.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.