RM.id Rakyat Merdeka - Dunia akademik Amerika Serikat (AS) kembali berduka. Setelah penembakan di kampus Ivy League, Brown University pada Sabtu (13/12/2025) yang menewaskan dua orang dan melukai sembilan orang, kali ini Profesor Ilmu & Teknik Nuklir serta Fisika Massachusetts Institute of Technology (MIT), Nuno F Gomes Loureiro meninggal setelah ditembak berulang kali di rumahnya.
"Nuno Loureiro, seorang profesor ilmu dan teknik nuklir serta fisika di MIT, telah meninggal dunia. Ia berusia 47 tahun," demikian pengumuman yang disampaikan MIT melalui situs resminya.
Melansir BBC, laporan kasus penembakan di kediaman Loureiro diterima polisi pada Senin (15/12/2025) pukul 20.30 waktu setempat. Ilmuwan asal Portugal itu kemudian dilarikan ke rumah sakit di Boston. Tapi sayang, nyawanya tak dapat diselamatkan. Loureiro menghembuskan napas terakhirnya dalam usia 47 tahun, pada Selasa (16/12/2025).
Saat kejadian, CBS News, mitra media BBC di AS melaporkan, tetangga Loureiro mendengar suara dentuman keras sebanyak tiga kali pada Senin (15/12/2025) malam. Dia mengira seseorang di gedung apartemen sedang mendobrak pintu. Anne Greenwald, warga yang sudah lama tinggal di daerah itu, mengatakan kepada CBS bahwa profesor tersebut memiliki keluarga muda dan bersekolah di dekat situ.
"Tak ada yang ditahan. Polisi memperlakukan insiden tersebut sebagai penyelidikan pembunuhan yang aktif dan sedang berlangsung", kata Kantor Kejaksaan Distrik Norfolk County.
Ilmuwan Brilian
Baca juga : Presiden Prabowo Rehabilitasi Mantan Dirut ASDP Ira Puspadewi
Loureiro yang dikenal sebagai fisikawan teoretis dan ilmuwan fusi terkemuka bergabung dengan MIT pada tahun 2016. Tahun 2024, dia didaulat menjadi Direktur Pusat Sains Plasma dan Fusi MIT. Penelitiannya membahas masalah kompleks yang tersembunyi di pusat ruang vakum fusi dan di ujung alam semesta.
Penelitiannya tentang dinamika plasma bermagnet, amplifikasi medan magnet, serta penahanan dan transportasi dalam plasma fusi membantu memberikan informasi untuk desain perangkat fusi yang dapat memanfaatkan energi plasma yang berfusi, sehingga membawa impian energi fusi yang bersih dan hampir tak terbatas lebih dekat ke kenyataan.
“Nuno bukan hanya seorang ilmuwan brilian, dia juga seorang pribadi yang brilian,” kata Dennis Whyte, Profesor Teknik Hitachi America, yang sebelumnya menjabat sebagai Kepala Departemen Ilmu dan Teknik Nuklir dan direktur Pusat Ilmu Plasma dan Fusi.
Di mata Whytre, Loureiro bersinar terang sebagai mentor, teman, guru, kolega, dan pemimpin, dan dikagumi secara universal karena caranya bertuturnya yang lugas dan penuh kasih sayang. Kehilangannya, memiliki arti mendalam bagi komunitas PSFC, NSE, dan MIT, serta seluruh dunia penelitian fusi dan plasma.
Sementara Kepala Departemen Fisika MIT Deepto Chakrabarty berpandangan, Nuno adalah pendukung setia fisika plasma. "Dia seorang kolega yang luar biasa dan menarik, serta mentor yang menginspirasi dan peduli bagi mahasiswa pasca sarjana yang bekerja di bidang ilmu plasma. Karyanya baru-baru ini tentang algoritma komputasi kuantum untuk simulasi fisika plasma merupakan arah ilmiah baru yang sangat menarik,” ujar Chakrabarty.
Baca juga : Pemprov DKI Gercep Perbaiki Tanggul Laut Rembes Di Pantai Mutiara
Duka dan simpati mendalam atas kematian Loureiro juda datang dari Profesor KEPCO yang juga Kepala Departemen Ilmu & Teknik Nuklir, Benoit Forget.
“Nuno bukan hanya seorang ilmuwan dan pendidik yang luar biasa. Dia juga seorang kolega, mentor, dan teman yang hebat yang sangat peduli pada para mahasiswanya dan komunitasnya. Kehilangannya akan sangat dirasakan di seluruh NSE dan jauh di luarnya,” tulis Benoit Forget, dalam sebuah email kepada departemen tersebut.
Karya Loureiro di bidang astrofisika membantu mengungkap mekanisme fundamental alam semesta. Ia mengajukan teori pertama tentang turbulensi dalam plasma berpasangan, yang berbeda dari plasma biasa dan mungkin melimpah di ruang angkasa. Sebagian karya ini didorong oleh pengamatan yang belum pernah terjadi sebelumnya, tentang penggabungan bintang neutron biner pada tahun 2018.
Sebagai asisten profesor dan kemudian profesor penuh di MIT, Loureiro mengajar mata kuliah 22.612 (Pengantar Fisika Plasma) dan mata kuliah 22.615 (Teori MHD Sistem Fusi), yang membuatnya dua kali menerima Penghargaan Profesor Luar Biasa PAI dari Departemen Ilmu dan Teknik Nuklir.
Sepanjang kariernya yang produktif, Loureiro banyak mendapat penghargaan bergengsi. Sebut saja National Science Foundation Career Award, American Physical Society Thomas H. Stix Award for Outstanding Early Career Contributions to Plasma Physics Research, serta Presidential Early Career Award for Scientists and Engineers.
Baca juga : Gelar Rapat Di Hambalang, Prabowo Nyatakan Perang Dengan Penambang Ilegal
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.