BREAKING NEWS
 

Hubungan China–Jepang Memburuk, Xi Jinping Rangkul Korsel

Reporter : DIANANDA RAHMASARI
Editor : MELLANI EKA MAHAYANA
Sabtu, 3 Januari 2026 07:21 WIB
Presiden Lee Jae Myung (kanan) mendampingi Presiden China Xi Jinping saat menghadiri KTT APEC di Gyeongju, Korsel, November 2025. (Foto Reuters)

RM.id  Rakyat Merdeka - Presiden China Xi Jinping akan menjamu Presiden Korea Selatan (Korsel) Lee Jae Myung di Beijing, Minggu (4/1/2026). Pertemuan digagas Xi tersebut dinilai analis, strategi Beijing untuk mempererat kerja sama dengan Seoul di tengah memburuknya hubungan dengan Jepang.

Pertemuan dengan Lee merupakan undangan disampaikan Xi saat bertemu Lee di sela Konferensi Tingkat Tinggi Kerja Sama Ekonomi Asia-Pasifik (APEC) pada awal November lalu. Kunjungan Lee ke Beijing berlangsung hanya dua bulan setelah pertemuan itu. Sebuah jeda yang dinilai menunjukkan besarnya kepentingan China terhadap Korsel.

Dikutip dari Yonhap, Jumat (2/1/2026), Lee akan berada di China selama empat hari tiga malam. Seoul berharap kunjungan awal tahun ini dapat mendorong pertumbuhan ekonomi, perdagangan, serta sektor pariwisata antara kedua negara.

 Xi akan menjamu Lee sebelum kunjungan Presiden Korsel itu ke Jepang. Analis menilai, strategi Xi ingin menegaskan pentingnya Korsel sebagai mitra, terutama saat relasi Beijing–Tokyo berada di titik terendah dalam beberapa tahun terakhir.

“China ingin lebih menekankan pentingnya kerja sama dengan¬ Korea Selatan dibandingkan sebelumnya,” ujar pengamat ekonomi politik Hankuk University of Foreign Studies, Kang Jun-young, dilansir Reuters, Jumat (2/12/2026).

Menurutnya, Xi sengaja memberi kesan positif mulai awal tahun, sebelum Lee melawat ke Tokyo yang dijadwalkan pada pekan ketiga Januari.

Hubungan China dan Jepang memburuk sejak Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi menyatakan bahwa potensi serangan China ke Taiwan bisa menjadi ancaman langsung bagi Jepang. Pernyataan itu memicu reaksi keras Beijing, termasuk imbauan agar warganya menunda perjalanan wisata ke Jepang serta pembatalan sejumlah konser dan pameran seniman Jepang di China.

Baca juga : Demi Kursi Perdana Menteri Jepang, Takaichi Rangkul Oposisi

Pemerintah Korsel menyebut, kunjungan Lee bertujuan memulihkan hubungan dengan Beijing, seraya mengakui China sebagai mitra dagang terbesar Korsel. Sikap ini menandai perubahan pendekatan setelah hubungan kedua negara sempat menegang di era Presiden sebelumnya, Yoon Suk Yeol.

Di bawah kepemimpinan Yoon, Korsel lebih dekat dengan Amerika Serikat (AS) dan Jepang. Yoon beberapa kali melontarkan kritik terhadap sikap China soal Taiwan.

Kini, Seoul berupaya kembali menyeimbangkan diplomasi dengan menggali potensi kerja sama dengan Beijing, demi menghadapi ancaman Korea Utara serta risiko perang dagang global.

Pada Desember lalu, Lee menegaskan tidak akan memihak dalam perselisihan diplomatik antara China dan Jepang. Meski demikian, hubungan China–Korsel tetap diwarnai isu sensitif, mulai dari kedekatan Seoul dengan Washington hingga peran Beijing dalam menopang Korea Utara.

Mantan Wakil Menteri Pertahanan Korsel yang kini peneliti senior Institut Sejong, Shin Beom Chul, mengatakan Xi dan Lee kemungkinan akan membahas sejumlah isu kontroversial. Salah satunya modernisasi aliansi Korsel–AS yang dinilai bertujuan membendung pengaruh China di Asia.

Adsense

Saat ini, sekitar 28.500 tentara AS ditempatkan di Korsel untuk menangkal ancaman dari Korea Utara. Komandan Pasukan AS di Korsel, Jenderal Xavier Brunson, menyebut ada sinyal dari Washington untuk membuat pasukan AS lebih fleksibel menghadapi ancaman lain. Termasuk kemungkinan konflik di Taiwan dan meluasnya jangkauan militer China.

“Korea berada di persimpangan dinamika regional yang lebih luas yang membentuk keseimbangan kekuatan di Asia Timur Laut,” ujar Brunson.

Baca juga : Bappenas Dan Mitra Jepang Kembangkan Proyek Green Enabling Super Grid

Sejumlah analis menduga, Lee juga akan membujuk Xi agar China memfasilitasi dialog dengan Korea Utara. Namun, Pyongyang sejauh ini menolak pendekatan Lee dan bahkan menyebut Seoul bersikap munafik¬.

Kedekatan Xi dengan Pemimpin Tertinggi Korea Utara Kim Jong Un menjadi faktor penting. Keduanya tampak berdampingan dalam parade militer Korea Utara pada September 2025, menandakan koordinasi yang semakin erat.

Selain isu geopolitik, kunjungan Lee ke Beijing diperkirakan membahas kerja sama di sektor mineral penting, rantai pasok, dan industri hijau. Korsel memperoleh hampir setengah pasokan mineral tanah jarang—komponen krusial industri semikonduktor—dari China. Beijing juga menyerap sekitar sepertiga ekspor chip tahunan Korsel.

Pada Desember lalu, Menteri Perindustrian Korsel Kim Jung Kwan dan Menteri Perdagangan China Wang Wentao sepakat memperkuat kerja sama demi pasokan mineral tanah jarang yang stabil.

Kerja sama di bidang kecerdasan buatan (AI) dan teknologi canggih juga menjadi agenda penting. Huawei Technologies berencana meluncurkan chip AI Ascend 950 di Korsel pada 2027, sebagai alternatif bagi Nvidia untuk perusahaan-perusahaan Korsel.

Isu lain yang tak kalah sensitif adalah larangan efektif China terhadap konten K-pop sejak 2017, menyusul penempatan sistem pertahanan rudal pimpinan AS di Korsel. Media lokal memberitakan, pejabat SM Entertainment (perusahaan hiburan Korea Selatan) akan bergabung dalam delegasi bisnis Presiden Lee ke Beijing, membuka peluang pelonggaran pembatasan tersebut.

 

Baca juga : Hunian Mahasiswa Paling Diburu, Louvin Apartment Jatinangor Milik PPRO Ludes Terjual

 

 

 

 

 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense