BREAKING NEWS
 

Usai Kunjungi China, Lanjut Ke Jepang

Presiden Korsel Seimbang, Tidak Berpihak Satu Kubu

Reporter : DIANANDA RAHMASARI
Editor : MELLANI EKA MAHAYANA
Rabu, 14 Januari 2026 06:09 WIB
Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung (kanan) bersama Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi di KTT G20 di Johannesburg, Afrika Selatan, 24 November 2025. (Foto South Korea President)

RM.id  Rakyat Merdeka - Presiden Korea Selatan (Korsel) Lee Jae Myung melakukan kunjungan dua hari ke Nara, Jepang, pada 13–14 Januari 2026. Kunjungan itu untuk membahas kerja sama bilateral di tengah memanasnya hubungan antara Tokyo dan Beijing.

Lee bersama Ibu Negara Kim Hea Kyung bertolak dari Pangkalan Udara Seoul di Seongnam, selatan Seoul, Selasa (13/1/2026), sekitar pukul 09.35 waktu setempat. Rombongan tiba di Osaka pada pukul 11.30 dan melanjutkan perjalanan ke Nara, kota kelahiran Perdana Menteri (PM) Jepang Sanae Takaichi.

Kunjungan ini dilakukan sepekan setelah Lee menuntaskan lawatan kenegaraan selama lima hari ke Beijing, China. Langkah tersebut sebagai upaya Seoul menjaga keseimbangan hubungan diplomatik dengan dua negara tetangganya, Jepang dan China, di tengah dinamika geopolitik kawasan.

"Dalam situasi yang semakin kompleks dan tatanan internasional yang terus berubah dengan cepat, kita harus terus berupaya menuju masa depan yang lebih baik," kata Lee di awal pertemuan dengan Takaichi.

Karena itu, lanjut Lee, kerja sama antara kedua negara lebih penting dari sebelumnya.

Baca juga : Kunjungan Perdana Presiden Prabowo Ke IKN, Semangat Pembangunan Kian Menguat

Sementara, Takaichi mengatakan, sambil memperkuat hubungan Jepang-Korea Selatan, kedua negara harus bekerja sama untuk memastikan stabilitas regional dan memenuhi peran masing-masing.

Menurut Kantor Kepresidenan Korea Selatan, kedua sekutu AS ini telah sepakat memperkuat kerja sama dalam keamanan ekonomi, isu regional dan global, serta kecerdasan buatan.

Pengamat memprediksi, Lee tidak akan berpihak pada salah satu kubu. Pembahasan dalam pertemuan fokus pada isu-isu keamanan regional dan kepentingan bersama.

Adsense

“Takaichi akan menghindari topik yang berpotensi merusak kekompakan Jepang–Korea Selatan maupun hubungan Korsel–China,” ujar Asisten Profesor Hubungan Internasional Universitas Nagoya Kim So Young kepada Reuters.

Kunjungan Lee berlangsung saat hubungan Jepang dan China masih tegang. Relasi kedua negara memburuk sejak pernyataan Takaichi pada November lalu yang menyinggung kedaulatan Taiwan.

Baca juga : Jelang Kunjungan Presiden Korsel Ke China, Korut Tembakkan Rudal

Saat itu, Takaichi menyebut ancaman terhadap Taiwan sebagai ancaman langsung bagi keamanan Jepang.

China merespons dengan memberlakukan larangan ekspor barang-barang dwiguna ke Jepang pekan lalu. Termasuk logam tanah jarang, mineral strategis dan semikonduktor.

Beijing menegaskan, Taiwan merupakan bagian dari wilayah China. Meski banyak negara, termasuk Amerika Serikat, tidak mengakui Taiwan sebagai negara merdeka, mereka menolak segala bentuk penggunaan kekerasan untuk mengubah status quo.

Jepang juga semakin khawatir terhadap upaya Beijing yang dinilai ingin merenggangkan hubungan Seoul dan Tokyo, terutama setelah Presiden China Xi Jinping mendorong Lee agar berpihak pada “sisi sejarah yang benar” dengan kembali mengungkit kekejaman Jepang di masa lalu.

Meski demikian, Lee telah memberi sinyal bahwa Korea Selatan tidak akan memihak atau mengambil peran mediasi, kecuali benar-benar diperlukan dan dinilai efektif.

Baca juga : BLT Minimal Rp 8 Juta Buat Korban Bencana Sumatera

“Ini sikap pragmatis, mengingat posisi Korea Selatan yang kompleks di tengah ketegangan China–Jepang,” kata Kim So Young.

 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense