BREAKING NEWS
 

Dosen Jadikan Ayam Teman Emosional

Reporter : LARASATI DYAH UTAMI
Editor : MELLANI EKA MAHAYANA
Jumat, 6 Maret 2026 05:15 WIB
Dosen Psikologi di Kanada, Sonia Kong. (Foto UNBC)

RM.id  Rakyat Merdeka - Dosen psikologi di Kanada, Sonia Kong, memiliki cara tak biasa untuk mendapatkan dukungan emosional dalam kesehariannya. Dia memelihara seekor ayam sebagai emotional support animal yang selalu menemaninya, bahkan saat bekerja.

Kong mengajar di Departemen Psikologi University of Northern British Columbia (UNBC). Ayam peliharaannya yang bernama Saturday kini menjadi bagian penting dalam hidupnya, sekaligus memberi inspirasi dalam penelitiannya mengenai hubungan manusia dan hewan peliharaan.

Saturday yang berusia sekitar 11 bulan dinamai sesuai hari ketika Kong mengadopsinya dari sebuah peternakan di luar Prince George, British Columbia.

Kong mengaku memiliki kedekatan emosional yang kuat dengan ayam tersebut. Menurutnya, Saturday mampu memahami perasaan yang sedang dia alami.

“Saya merasa dia sangat pintar. Dia bisa memahami emosi saya,” ujar Kong, dokutip New York Post.

Baca juga : Ekonom Jelaskan Makna Cadangan BBM Nasional 20 Hari

Kong bercerita, saat dia sedang sedih atau bekerja di rumah, Saturday kerap berada di dekatnya seolah mencoba memahami situasi yang sedang dia hadapi.

Kedekatan keduanya membuat Kong hampir tak pernah berpisah dengan ayam peliharaannya itu. Bahkan, dia membuatkan popok khusus agar Saturday bisa menemaninya beraktivitas tanpa menimbulkan kotoran.

Sejak memelihara ayam tersebut, Kong semakin menyadari bahwa ayam merupakan hewan yang cukup cerdas dan sensitif.

“Dia sangat lucu. Bulu-bulunya kuning dan kepalanya kecil menggemaskan. Dia juga pemalu dan sangat sensitif, terutama ketika sedang bertelur,” katanya.

Adsense

Kong juga tengah melakukan penelitian internasional mengenai hubungan manusia dengan hewan peliharaan. Penelitian tersebut dilakukan bersama Tracy Wong dari Chinese University of Hong Kong.

Baca juga : Dapur MBG di Pekalongan Konsisten Sajikan Roti, Ayam, Tahu Tempe dan Pisang

Melalui survei daring, penelitian ini mempelajari bagaimana kehadiran hewan peliharaan dapat mempengaruhi perkembangan sosial dan emosional remaja di berbagai budaya.

Menurut Kong, cara masyarakat memandang hewan peliharaan sangat dipengaruhi oleh latar budaya. Di banyak negara Barat, hewan peliharaan sering dianggap sebagai bagian dari keluarga dan memiliki nilai emosional yang tinggi.

Sebaliknya, di sejumlah budaya lain, hewan lebih sering dipelihara untuk tujuan tertentu, seperti menjaga rumah, mengendalikan hama atau sebagai sumber pangan. 

Perbedaan pandangan itu bahkan muncul dalam keluarganya sendiri. Orang tua Kong pernah bercanda menanyakan apakah ayam peliharaannya boleh dimakan.

“Saya bilang, ‘Saya tidak akan memakannya! Dia hewan peliharaan.’ Mereka memang bercanda, memang ada perbedaan nilai budaya,” ungkap Kong.

Baca juga : Telkomsel Hadirkan Ragam Paket Spesial Ramadan-Idul Fitri 2026

Melalui penelitiannya, Kong berharap dapat memahami lebih dalam bagaimana hubungan manusia dan hewan peliharaan terbentuk. Termasuk sejauh mana kedekatan tersebut dapat memberikan manfaat psikologis bagi manusia di berbagai latar budaya.

 

 

 

 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense