Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
RM.id Rakyat Merdeka - Masyarakat diminta tidak khawatir dengan informasi cadangan bahan bakar minyak (BBM) nasional sekitar 20 hari. Cadangan tersebut bukan berarti pasokan BBM akan habis setelah periode itu.
Ekonom senior Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Tauhid Ahmad menjelaskan, angka 20 hari menggambarkan kondisi stok jika dalam periode tersebut tidak ada penambahan pasokan sama sekali.
Menurutnya, dalam praktiknya pemerintah dan PT Pertamina selalu melakukan berbagai langkah untuk menjaga stabilitas pasokan BBM.
“Angka itu menggambarkan kondisi apabila tidak ada tindakan apa pun. Padahal secara rutin Pertamina melakukan berbagai langkah penstabilan pasokan agar cadangan tetap terjaga,” kata Tauhid di Jakarta, Rabu (4/3/2026).
Tauhid menambahkan, level cadangan BBM tersebut masih berada dalam batas yang diatur pemerintah. Dalam laporan Kementerian ESDM pada Desember 2025, sebagian besar jenis BBM berada di atas standar minimum cadangan operasional.
Baca juga : Tren Harga Pangan Masuk Zona Hijau
Untuk beberapa produk BBM, cadangan bahkan tercatat berada pada kisaran 19 hingga 31 hari.
Sementara itu, Peraturan BPH Migas Nomor 9 Tahun 2020 tentang Penyediaan Cadangan Operasional BBM mengatur bahwa pemegang izin usaha wajib menyediakan cadangan operasional paling sedikit selama 23 hari.
Tauhid menjelaskan, kemampuan mencadangkan BBM juga dipengaruhi berbagai faktor. Di antaranya kemampuan keuangan negara, kapasitas penyimpanan, hingga kelancaran jalur distribusi dan pengapalan.
“Cadangan itu bukan hanya soal bahan bakar, tetapi juga soal infrastruktur penyimpanan, distribusi, dan kemampuan pendanaan,” ujarnya.
Ia juga menilai positif langkah Pertamina dan pemerintah dalam menjaga keberlanjutan pasokan energi. Salah satunya melalui diversifikasi sumber impor minyak mentah.
Baca juga : Ibas : Ponpes Gontor Pilar Iman, Islam, dan Nasionalisme Penguat Bangsa
Menurut Tauhid, langkah mengalihkan sebagian impor dari kawasan Timur Tengah ke negara lain seperti Brasil atau Amerika Serikat merupakan pilihan yang tepat di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik.
“Saat ini kawasan tersebut relatif lebih aman dari konflik sehingga bisa menjadi alternatif pasokan,” katanya.
Saat ini, impor minyak mentah Indonesia dari Arab Saudi mencapai sekitar 20 persen dari total impor. Selain itu, Indonesia juga mengimpor dari Nigeria dan Angola.
Tauhid juga mengingatkan pentingnya percepatan kontrak impor minyak mentah di tengah tren kenaikan harga minyak dunia akibat eskalasi konflik global.
Menurutnya, harga minyak yang melonjak hingga mendekati 100 dolar AS per barel dapat memberikan tekanan besar terhadap anggaran negara.
Baca juga : MIND ID Dukung Kebijakan Energi, Wujudkan Swasembada Nasional
“Kalau harga minyak mencapai 100 dolar AS per barel, dampaknya bisa besar terhadap APBN,” ujarnya.
Di sisi lain, Tauhid menyarankan agar pemerintah secara bertahap meningkatkan cadangan energi nasional hingga mencapai satu hingga dua bulan. Hal itu penting untuk mengantisipasi potensi gangguan distribusi global.
Apalagi, konflik geopolitik berpotensi memengaruhi jalur pelayaran internasional seperti Selat Hormuz yang menjadi salah satu jalur penting distribusi minyak dunia.
“Semakin besar cadangan tentu semakin baik untuk menjaga ketahanan energi nasional,” katanya.
Sebelumnya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia menyampaikan bahwa cadangan BBM nasional saat ini berada pada kisaran 20 hari. Pernyataan tersebut disampaikan saat menghadiri rapat mengenai perkembangan geopolitik di Istana Negara, Senin (2/3/2026).
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya